Nala melanjutkan, "Ya biar dicuci. Lu pakai baju gw aja." Ia membuka lemari lima pintunya. "Pilih aja mana pun yang buat lu nyaman. Gue pengen cepat-cepat mandi membersihkan lumuran kenangan buruk yang buat gue sampai pengen gantung diri di taman barusan."
Elan menjawab, "Gue bakal ganti baju, tapi seragam gue gak perlu dicuci karena..."
Tapi, Nala tidak peduli. Ia mendekati Elan dan memaksa remaja itu melepas seragamnya. Mulai dari blazer, kemeja, ikat pinggang, celana, sampai kaus kaki. Dan entah kenapa Elan tak bisa bereaksi atau menolak.
Jujur saja sebenarnya ia cukup senang dipaksa melakukan hal seperti ini. Untuk beberapa alasan.
Saat itu tiba-tiba Nala malah terperangah menatap tubuh bagian atas teman barunya.
"Nal, jangan seram gitu, ah. Gue masih normal, anjir," ucap Elan mengayunkan telapak tangan di depan wajah Nala.
"Nggak, bukan gitu. Gue hanya... agak... Bagaimana mengatakannya? Badan lu putih banget kayak patung porselen. Dan... bentuknya bagus. Olahraga apa?" tanya Nala dengan intonasi datar. Ia sendiri tak habis pikir dengan yang baru saja ia ucapkan.
"Gue gak menekuni satu jenis olahraga secara khusus, sih. Hanya melakukan semua yang gue bisa agar tetap sehat. Lu tau? Gue bahkan belum pernah makan junk food," bisik Elan sambil tersenyum lebar. Seolah informasi itu rahasia lucu yang hanya ingin ia bagikan dengan orang-orang tertentu.
"Serius? Tapi, lu patuh, ya? Meski ujung-ujungnya kabur kayak sekarang."
"Bukan patuh, lah. Gue hanya gak punya... pilihan lain? Gue udah bilang kan gue ini narapidana."
"Gue benar-benar gak paham apa yang sebenarnya udah terjadi sama lu. Sampai bisa jadi seperti ini, Lan."
Elan tiba-tiba berjalan ke rak buku di samping jendela kamar Nala. "Wah, koleksi bukunya banyak dan unik juga ya untuk anak seumuran lu. Boleh pinjam sembari nunggu?" tanyanya sopan.
"Bebas. Ya udah, gue mandi dulu, ya. Di meja belajar ada toples isinya makanan ringan. Terus kalau haus ada..."
"Hahaha!" Kali ini Elan yang tertawa. "Lu itu cuma mau pergi mandi, anjir. Bukan mau pergi merantau. Gak usah banyak bikin pesan dah kayak orang mau meninggal. Buruan mandi sana!"
"Iya, iya."
Nala pun menutup pintu kamar mandi di sebelah kanan pintu masuk kamarnya. Kini Elan sendirian di kamar itu. Ia mengambil satu judul buku soal keuangan berjudul The Psychology of Money karya Morgan Housel.
"Uang itu mau banyak atau sedikit yang paling penting memang bagaimana mengaturnya.
"Ah, buat apa gue ngomong gitu padahal megang uang sendiri saja gak pernah."
Ia letakkan buku itu di sampingnya. Sementara tubuhnya duduk di lantai menyender pada bagian kaki ranjang.
"Haa... Sedang apa mereka, ya? Sial, gue beneran gak pengen balik," pikirnya sambil tersenyum tipis.
Ia keluarkan gawai dari dalam tas. Memeriksa puluhan atau bahkan ratusan pesan whatsapp dan misscall sejak berjam-jam lalu. Senyum di bibirnya makin lebar memikirkan kekacauan macam apa yang berhasil ia ciptakan di tempat itu. Sebuah tempat terkutuk.