Menunggu sekitar lima menit setelah panggilan telpon Elan berakhir, Nala berlagak keluar dari kamar mandi seolah tak mengetahui apa pun.
Jika diingat dari apa yang ia ucapkan, sepertinya masalah yang Elan hadapi jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Tapi, kenapa di luar anak itu bisa tetap terlihat baik-baik saja, ya? Tiba-tiba jadi tidak enak saat ingin membahas soal itu lagi.
Mungkin setelah ini sebaiknya mereka benar-benar melupakan soal semua masalah dan bersikap seolah tak ada yang terjadi. Toh, Elan sudah menyelamatkannya. Sekarang ia rasa saat untuknya menyelamatkan anak itu balik.
"Masih ada beberapa jam lagi sampai waktu makan malam. Lu mau beli sesuatu?" tawar Nala.
"Umm," Elan berpikir sambil memasang wajah sok imut memegang dagu menggunakan jari telunjuk. "Sori, tapi gue belum pernah... beli apa pun lewat online? Jadi, jujur gue gak tau apa yang harus dibeli di saat kayak gini."
Nala langsung duduk di samping Elan. Ia sodorkan layar smartphone lipatnya yang menunjukkan deretan daftar nama restoran beserta menunya di aplikasi pemesanan makanan online. "Gue gak ngerti kehidupan macam apa yang udah lu lalui selama ini. Yang penting sekarang kita harus bersenang-senang karena besok ada banyak tempat yang mau gue kunjungi sama lu. Jadi, pesan aja apa pun yang lu mau."
Dada Elan langsung berdebar kencang melihat semua daftar makanan yang tampak menggugah selera itu. Habis rasanya selama enam tahun di Indonesia, belum pernah satu kali pun ia diberi kebebasan.
Jenis makanan yang boleh dikonsumsi, barang apa saja yang boleh dimiliki, orang seperti apa saja yang boleh dikenali, jenis olahraga, jenis pelajaran, dan semuaaa kegiatan diatur dengan sangat ketat. Membuatnya jadi agak takut saat harus berhadapan dengan situasi seperti ini.
Ia serahkan lagi gawai itu ke tangan Nala. "Lu aja yang pesan. Apa aja. Gue gak tau makanan apa yang biasanya manusia normal kayak kalian sukai."
Aaaarrggghhh!!! Nala sangat kepo. Tapi, ia tak boleh sampai membuat Elan tak nyaman.
"Barusan lu bilang belum pernah coba junkfood, 'kan? Kita makan itu aja, ya," putusnya saat memesan satu ember ayam goreng tepung dari salah satu franchise lokal terkenal.
Elan merespon, "Yeee, akhirnya gue bisa makan junkfood. Soalnya selama di sini semua orang di sekitar gue bilang kalau junkfood itu semacam makanan yang dibuat dari sampah. Benar-benar dari sampah. Jadi, gue gak pernah diizinin buat memakannya. Payah banget ya gue?"
"Ya gak payah juga, sih. Omongan orang-orang benar, kok. Junkfood emang bukan makanan yang manusia butuhkan. Hanya buat rekreasi sekali-sekali aja karena mudah, murah, dan enak.