"...penjara atau ruang-ruang penyiksaan dan cuci otak untuk para siswa yang gak berhasil memenuhi standar akademik sekolah.
"Lu sendiri tau, 'kan? Senna Academy punya gengsi setinggi langit soal nama baik dan kualitas alumni mereka. Itu kenapa kekurangan sedikit pun gak bisa ditoleransi dan akan berakibat konsekuensi berat," cerita Elan dengan intonasi mengerikan.
"Nggak, nggak, gak mungkin kayak gitu. Gimana bisa cerita gak masuk akal semacam itu beredar di lingkungan kayak Senna Academy, sih?"
Elan mengangkat dua pundaknya. "Ya gak ngerti juga, tapi itulah yang gue dengar. Sekolah di sana sebenarnya gak seberat yang orang lain pikirkan."
"Tapi, menarik juga, ya. Kalau di sekolah gue sama sekali gak ada cerita, rumor, atau hal menarik terjadi. Sebenarnya gue punya masalah kesulitan dalam bersosialisasi. Jadi, meskipun mencolok dalam pelajaran, gue hampir gak punya teman sama sekali. Orang-orang pun hanya datang saat membutuhkan sesuatu dan pergi setelah itu. Gue beneran kesulitan menemukan tempat di mana gue harusnya berada. Selain liang lahat."
Elan berjalan ke jendela yang menghadap halaman depan yang luas. Berkata, "Selama masih hidup, lu selalu punya kesempatan untuk mendapatkan tempat baik yang selalu lu dambakan untuk jadi rumah. Tenang aja. Hidup gak akan bersikap seburuk itu."
Nala mengikuti Elan dan melihat salah satu pelayan kediamannya berlari dari gerbang sambil menenteng bungkusan berisi makanan. "Oh, sudah datang. Ah, gue lupa pesan minum." Langsung ia keluarkan gawainya. "Tenang, gue punya banyak minuman bersoda. Akan gue minta dibawakan."
"Wah, minuman bersoda rasanya gimana, ya?" tanya Elan sambil tersenyum lembut membelakangi jendela.
Nala hanya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, pintu kamar Nala terketuk. Seorang pelayan perempuan dengan seragam maid sederhana berwarna abu-abu muncul membawakan pesanan majikannya.
Sebelum pergi ia berpesan sambil menundukkan wajah, "Hari ini Nyonya akan makan malam di rumah, Tuan Muda Nala. Saya diminta memberitahu agar Tuan Muda Nala bersiap."
"Oh, bagus, lah. Nanti kukenalkan temanku ke Mama."
Wanita itu pun pergi.
Nala langsung pergi ke karpet dan membuka pesanan. Semerbak aroma ayam goreng tepung langsung mengisi ruangan. Tidak lupa beberapa varian saus cocolannya.
Elan ikut duduk bersimpuh di hadapan Nala. Matanya berbinar saat melihat sekumpulan daging yang tampak enak itu. Selama di Asrama Merah maupun rumah, ia sama sekali tidak akan punya kesempatan untuk menikmati makanan tidak sehat seperti ini.
Yah, que sera sera.
Apa pun yang terjadi terjadilah.
"Jangan lupa baca doa dulu," peringat Nala.
Setelahnya mereka berdua menikmati makanan itu seolah konsumsi pertama setelah sekian lama kelaparan. Kelaparan kasih, cinta, penghargaan, kesempatan, momen berharga, dan mimpi-mimpi.
Kelaparan akan tempat yang bisa mereka sebut rumah.
Mas Megan pasti bakal ngamuk berhari-hari sampai tau gue makan beginian, batin Elan bahagia. Karena Megantara adalah sosok perwakilan Senna paling "dekat" dengannya, berhasil membuat marah dan memberi masalah pada pria itu jadi salah satu hal paling menyenangkan yang bisa ia upayakan.