Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #9

Pertengkaran

Nala dan Elan segera kembali ke kamar demi menghindari konflik yang tidak perlu dengan nyonya pemilik rumah.

"Sori, ya. Mama gue seringkali terlalu disiplin dan kaku dalam memandang banyak hal. Itu juga yang kadang buat gue agak kesulitan buat jadi diri sendiri. Tapi, gak usah dipikirin karena besok juga paling dia kerja atau pergi sama geng sosialitanya."

"Meski terlihat baik dari luar, tapi setiap orang seringkali emang punya sisi lain dalam diri mereka, ya. Gue harap lu baik-baik aja meski sesekali merasa terkekang oleh keputusan-keputusan yang mama lu buat. Bagaimanapun juga punya orang tua itu yang terbaik, Nal."

"Kalau lu sendiri? Orang tua lu gimana? Apa mereka orang yang baik?"

Elan langsung memegang dagu sambil berpikir. "Orang tua gue sangat sibuk karena kerja sebagai diplomat di negara tempat gue lahir. Tapi, sisanya mah ya sama aja kayak orang tua-orang tua lain di luar sana."

"Kenapa lu pindah ke Indonesia? Apa alasannya benar-benar karena suhu? Kayaknya hidup dan besar di negara Skandinavia jauh lebih menyenangkan, deh."

"Alasannya sederhana, sih. Gue gak suka warna putih. Benci banget."

"Oh, karena di sana selalu bersalju, kah?" tanya Nala.

"Bukan itu aja, sih... Tapi, ya, itu alasan yang paling masuk akal. Gue cinta Indonesia karena hangat, pemandangannya penuh warna, makanan tradisionalnya sangat enak, dan kita bisa bebas pakai baju tipis tanpa harus takut mati. Benar-benar tanah surga."

"Bicara soal makanan, apa lu masih lapar? Mau gue pesankan lagi atau minta pelayan mengantarkan sesuatu?" tanya Nala.

Elan tidak menjawab. Ia lompat ke ranjang Nala yang lebar dan super empuk kemudian menggulung tubuhnya di balik bed cover. "Gak usah. Gue lebih tertarik menyusun rencana tempat macam apa aja yang akan kita kunjungi besok."

Nala siap melompat ke atas kasur juga. Sampai tiba-tiba...

Tok tok tok. Pintu kamarnya terketuk. Nala menghela napas kesal sambil berjalan menghampiri pintu.

"Ada apa, sih?!"

"Temannya disuruh menemui Nyonya Besar, Tuan Muda Nala."

Ia reflek memundurkan kepala. "Hah? Buat apa?"

Sementara Elan diam saja menatap langit tanpa bintang di luar jendela.

*

Lihat selengkapnya