Waktu telah menunjukkan tengah malam dan gedoran serta suara-suara di luar pintu telah sepenuhnya sirna. Elan dan Nala yang masih sadar sepenuhnya mengendap-endap membuka pintu untuk melihat keadaan.
Nala menjelaskan pada Elan bahwa biasanya penjaga di pos gerbang akan ganti shift tiap tengah malam, tapi satu jam setelah itu biasanya pos hanya diawasi kamera CCTV sebelum penjaga yg bertugas di shift pagi datang.
Tidak lupa Nala menggambarkan semua detail denah kediaman rumahnya yang sangat besar dan justru jadi keuntungan untuk mereka karena terdapat banyak blind spot.
"Lu hapal semua letak kamera di rumah ini?" tanya Elan.
Nala mengacungkan jempol penuh kepercayaan diri.
Elan iri. Karena kamera tersembunyi di Asrama Merah benar-benar tersembunyi. Tidak satu pun terlihat. Itu kenapa ia hanya bisa menemukan jalan untuk kabur sebelum masuk pengawasan gedung berwarna merah itu.
"Dengar, Lan. Rumah ini pakai sistem Laser Perimeter di pagar utama, tapi sensornya nggak menjangkau area pohon beringin tua di sudut barat karena akarnya sering merusak kabel bawah tanah," terang Nala. Jemarinya menunjuk satu titik buta di peta. "Satu jam lagi adalah celah dead-zone saat sinkronisasi server CCTV pusat. Kita punya waktu sekitar tujuh menit untuk melintasi taman belakang."
Elan mengamati denah itu dengan mata tajam. Otaknya bekerja seperti mesin pemindai. "Lantai tiga ini terlalu tinggi untuk lompat langsung. Kita harus turun lewat pipa pembuangan di sisi kiri balkon ini, lalu merayap di atas kanopi dapur. Lu bisa?" tanyanya ragu. Melihat tubuh kurus Nala.
Nala mengangguk yakin. "Gue udah nggak punya apa pun lagi untuk dikhawatirkan. Gue sadar harus melakukan sesuatu kalau mau ada perubahan."
"Mantap."
Pelarian dimulai. Elan bergerak lebih dulu.
Dengan ketangkasan tubuhnya yang atletis dan terlatih, ia memanjat pagar balkon. Mencengkeram pipa besi dan merosot turun dengan kontrol otot sempurna. Nala mengikuti dengan napas tertahan.
Saat kakinya menyentuh kanopi dapur yang licin karena embun, bunyi tek pelan terdengar. Keduanya membeku beberapa detik menatap kamera CCTV yang kepalanya sedang berputar menjauh.
Mereka turun ke area rumput. Elan memberi isyarat agar Nala tetap rendah.
Mereka merangkak di antara semak-semak rhododendron yang rimbun menghindari sapuan lampu sorot taman yang berputar secara periodik. Jantung Nala berdegup kencang menghantam dadanya seperti genderang perang.
Sedikit lagi. Pagar beton dengan kawat berduri itu sudah terlihat di balik bayangan pohon beringin.
"Tiga langkah lagi, Nal. Begitu sampai di tembok, lo naik ke pundak gue," bisik Elan. Tangannya sudah bersiap membentuk pijakan.
Nala sudah hampir menyentuh dinding dingin itu saat tiba-tiba... BZZZT BZZZTBZZZT!
Seluruh taman belakang mendadak terang benderang. Bukan oleh lampu taman biasa, melainkan oleh lampu tembak intensitas tinggi dari tiga arah berbeda yang mengunci posisi mereka.