"Kalau terjadi sesuatu pada saya atau papanya Nala, maka Nala juga akan kena dampaknya.
"Apa kamu yakin ingin melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk pada anak itu?" tanya Inaranti. Tak mau begitu saja tunduk pada ancaman anak kemarin sore.
Meski situasi ini cukup mendebarkan sebenarnya. Bagaimanapun juga... dia "Senna".
Elan langsung tersenyum sarkastis. "Hahaha! Anda pikir saya tidak bisa menghancurkan Anda tanpa melibatkan Nala? Seseorang yang hampir gantung diri dan berniat meninggalkan rumah dan keluarganya sendiri malam ini. Anda pikir orang seperti itu akan terganggu saat Anda atau siapa pun yang Anda sebut barusan mati di tiang pancang?"
"Anak sialan..."
"Tante, saya tegaskan lagi sesuatu.
"Jangan main-main sama saya atau Nala.
"Camkan itu."
*
Pagi ini cahaya matahari musim kemarau menembus tirai tipis jendela kamar VVIP yang luas. Asyik menyiram lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aroma disinfektan yang samar bercampur dengan wangi bunga lili segar di sudut ruangan ciptakan kontras yang aneh antara kemewahan dan kesunyian rumah sakit.
Di tengah ruangan, Nala masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang elektrik. Wajahnya yang pucat tampak senada dengan sprei putih bersih yang membungkus ranjang tempat ia terbaring. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi ritmis monitor jantung yang membuktikan bahwa anak remaja itu masih ada di sana meski kesadarannya belum juga kembali.
Tak jauh dari ranjang, Elan duduk di sofa kulit yang empuk dengan postur yang tetap tegap, tapi tampak lelah. Di tangannya, sebuah buku pengembangan diri terbuka di bagian tengah. Namun, matanya lebih sering tertuju pada Nala daripada deretan kalimat motivasi yang ia baca.
Buku itu seolah jadi satu-satunya pelarian Elan agar tetap waras. Coba mencari ketenangan di tengah badai emosi yang mulai berkecamuk dalam dirinya. Sebuah badai yang secara perlahan mulai membuat langit cerah di luar jendela tampak sedikit lebih redup dari seharusnya.
"Semua akan baik-baik aja... Semua akan baik-baik aja... Gak akan terjadi hal buruk, Elvano Britt. Nala akan baik-baik aja begitu juga dengan lu.
"Hal itu... Kejadian seperti itu gak akan terjadi lagi.