"Wa'alaikumusalam, Dok. Anda... dokter jiwa?" tanya Nala. Agak terkejut karena akhirnya harus berhadapan dengan dokter psikiatri langsung. Sesuatu yang belum pernah berani ia lakukan atau bahkan pikirkan.
"Benar, Nala. Sekarang kamu ceritakan semua keluh kesah dan yang kamu rasakan sampai jadi seperti tadi malam ke Dokter Danas, ya," pinta Inaranti. Duduk menyilangkan kaki di sofa di dekat jendela kamar itu.
"Aku nggak mau mengatakan apa pun kalau Mama ada di sini," beritahu Nala.
Inaranti menghela napas kesal. Setelah itu memainkan mimik agar terlihat khawatir. "Nala, jangan bicara seperti itu di hadapan Dokter! Apa yang kamu bicarakan sih, Sayang?" tanyanya sok peduli. Padahal aslinya... Nala juga tau apa yang wanita itu pikirkan.
"Iya, Nala. Benar. Peran pendamping dalam pengobatan seperti ini sangat penting. Kalau mamanya tidak ada, nanti siapa yang akan membantu dan mengawasi Nala di rumah? Dalam kehidupan sehari-hari?" tanya Dokter Danas ramah.
"Dok, pelayan di rumah saya itu banyak. Minta saja salah satu dari mereka yang pastinya lebih sering ada di dekat saya timbang Nyonya Inaranti yang duduk di sebelah sana itu," jawab Nala sinis.
Inaranti hampir meledak. "NALA!"
"Dan juga," Ia berkata lagi, "saya punya orang lain yang lebih bisa dipercaya untuk itu."
Dokter Danas tersenyum kemudian bertanya, "Oh ya? Siapa?"
Nala menarik napas dilanjutkan agak berteriak ke arah pintu kamar mandi, "CEPAT KELUAR!"
Di dalam kamar mandi, remaja itu yang berdiri menempelkan punggung ke daun pintu masih berusaha menenangkan diri. Juga meluruskan semua benang kusut yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. "Ya, Nal. Sebentar."
"Baiklah kalau Nala emang lebih ingin dirawat sama temannya timbang oleh Mama," ucap Inaranti datar. Beranjak berdiri dan berjalan ke luar ruangan.