Kejadian ini seperti do'a yang langsung dikabulkan oleh Tuhan! Baru saja ia berharap diberi alasan untuk memberi "treatment" yang benar-benar cocok untuk siswa yang ia layani. Anak itu malah melakukan kesalahan besar yang membuat murka para petinggi Asrama Merah. Berimbas jatuhnya hukuman terberat yang pernah diberikan.
Pagi ini di awal minggu yang cerah, Megantara berjalan dengan langkah ringan menuju kamar Elan yang eksklusif berada di satu lantai sendiri. Ia sudah membayangkan anak remaja itu yang jadi lebih tunduk, kalem, sopan, dan tidak bisa merendahkannya lagi.
"Oh, ini akan jadi hari yang indah," ucapnya percaya diri.
Sampai tiba-tiba ia berpapasan dan menabrak siswa AC lain yang baru turun dari lantai tempat kamar Elan berada.
Bruukh!
"Ah, aku minta maaf, ya," ucap Megantara hendak membantu siswa itu berdiri.
Siswa berpotongan rambut cepak itu tak merespon dan langsung berdiri. Ia melihat pria di hadapannya dengan tatapan sinis yang cukup normal diberikan oleh siswa AC dari latar belakang hebat. "Kamu... pelayannya Elan."
Ia memaksakan diri menarik senyuman. "Benar."
"Apa yang terjadi sama dia?" tanyanya. Kini terlihat agak khawatir. Pandangannya sekali menoleh ke tangga.
Anak ini, batin Megan, siswa AC yang selama ini cukup dekat dengan Elan yang ansos dan menyebalkan itu.
"Kenapa kamu naik ke kamar Elan, Reizo? Kamu tau kan kalian tidak seharusnya terlalu dekat. Itu bisa mengaburkan profesionalitas dalam peran tugas masing-masing."
"..."
Megan menepuk pundak remaja itu beberapa kali. "Ingatlah kalian itu hanya alat untuk Klan Senna. Tidak perlu terlalu sensitif dengan apa yang terjadi pada siswa AC lain."
Reizo balas menahan langkah Megan. "Mungkin kami memang alat, tapi Elan? Kalian memperlakukannya seperti binatang peliharaan."
"Reizo."
"Minggu kemarin sebelum golden week aku gak bisa nemuin Elan di ruang rekreasi. Padahal dia sedang tidak ada jadwal pulang ke rumah. Apa yang sudah terjadi?"
Megan membalas, "Kalau tau juga memang kamu mau apa? Bahkan kalau kalian yang terbaik di sekolah ini, dia ada di level yang benar-benar berbeda. Sebaiknya kamu tidak ikut campur kalau tidak mau dapat masalah. Oke?"
"Apa yang sudah terjadi hingga siswa seperti itu bisa mengamuk hebat sampai lepas kendali?"
"Hah?"
"Dan lagi, ini kali pertama saya lihat langsung penampakan kamar Elan. Luasnya kira-kira tiga kali lipat dibanding kamar siswa AC biasa dan sangat mewah seperti kamar raja. Tapi, kenapa ada terali di jendela? Dan kunci berlapis di bagian pintu. Saya takut sekali saat melihatnya. Kenapa kalian memperlakukan dia seperti itu, sih?"
Megan tak menjawab dan mempercepat langkah menuju kamar Elan. Benar saja. Di bagian depannya ramai karena ada beberapa orang petugas Asrama Merah.