Jam pelajaran keempat dimulai sepuluh menit yang lalu, tapi suasana di kelas XI IPA 1 masih belum tenang. Sebab ada satu siswa yang baru saja datang.
Bukan masuk dengan wajah penyesalan karena terlambat, ia malah tampil dengan senyum lebar yang hanya membuat guru yang sedang mengajar geleng-geleng kepala.
Ransel disandang santai di satu bahu. Rambut yang belum sepenuhnya kering usai di-hairdryer karena terburu-buru. Seragamnya rapi sempurna dengan blazer dan dasi terpasang presisi ditambah sepatu mengilap seperti baru keluar dari kotak.
"Maaf, maafkan saya karena terlambat, Bu! Nanti saya akan mengerjakan tugas hukumannya."
Guru merespon, "Sudahlah, cepat duduk!"
"Gilaaa, gue bangun kesiangan!" ceritanya pada teman-teman sekelas yang duduk di dekat kursinya.
Ia tertawa kecil selanjutnya mengacak rambut sendiri dengan gaya khas yang sudah dikenal seluruh sekolah. Beberapa siswi di baris depan bersusah payah diam-diam mengintipnya dengan mata berbinar. Seorang gadis bahkan sampai menjatuhkan pulpen saking tak tahan pada pesona teman sekelasnya.
"Elan, kenapa lu baru datang? Ini sudah jam keberapa coba?!" tanya sekaligus tegur ketua kelas, tapi dengan nada lebih mirip bercanda.
"Kemarin gue latihan dance sampai tengah malam di studio baru, bro. Untuk lomba antar sekolah minggu depan. Gue harus tampil semaksimal mungkin agar gak bikin tim kecewa."
Ia menjatuhkan diri ke kursinya di baris tengah kelas. Menyandarkan tubuh dengan santai.
Selanjutnya ia menyapa Hanafi di sebelahnya dengan tos singkat. "Woy, kemarin lu nonton balap formula? Hamilton menang telak, 'kan? Apa gue bilang."
Hanafi mengernyit. "Gimana gimana? Yang ada lu kan malah bilang kalau Verstappen yang bakal menang."
"Iya, gue kan fans Verstappen. Tapi, tetap harus ngaku kalo Hamilton mainnya keren." Elan menyeringai.
Ia berkata lagi, "Oh iya, akhir minggu kemarin lu nonton dance cover tim gue yang diunggah akun YouTube OSIS? Lu lihat kan traffic-nya? Gue bilang juga apa? Pasti viral!"
Hanafi geleng-geleng kepala. "Viral sih iya. Tapi, akuin aja kalau lu lupa gerakan di menit kedua. Untung bisa cepet improvisasi nyambung lagi. Jadi, gak malu-maluin banget."
"Yee, namanya juga improvisasi. Seni, bro!" Elan menyeringai, lalu menoleh ke belakang. Asyik melambai pada sekelompok siswi yang sedang membisikkan namanya. "Hai, cantik. Jangan cuma berbisik, dong. Ngomong aja langsung."