"Maafkan saya, Bu..." bisiknya memancing perhatian semua siswa di barisan depan.
Tapi, kalimat itu tidak selesai.
Matanya memutar ke atas. Lututnya melemah. Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, tubuh Elan jatuh ke samping.
DUUAAKH! Kepalanya membentur tepi meja teman yang duduk di seberang. Sebelum akhirnya terbaring kaku di lantai.
"ELAN!"
Para siswi menjerit tak percaya dengan yang mereka saksikan. Kelas langsung kacau. Kursi tergeser, buku berhamburan, beberapa siswi mulai menangis histeris karena khawatir luar biasa.
Hanafi adalah yang pertama bertindak. Ia langsung berlutut di samping Elan untuk membalikkan tubuh temannya. Wajah anak itu pucat pasi seperti kertas. Ditambah bibir yang kebiruan dan dari sudut mulutnya keluar buih tipis bercampur air.
"Bu, Elan kejang!" teriak Hanafi.
"Elan! Elan, kamu dengar saya?!" Bu Retno langsung berlari mendekat. Menyingkirkan kursi dan meja yang menghalangi.
Dengan gerakan cepat yang terukur, ia membaringkan Elan dalam posisi miring. Merupakan posisi recovery yang ia pelajari saat training P3K wajib untuk seluruh guru Senna Academy.
"Hanafi, panggil Medical Center! Nomor darurat di kartu siswa. CEPAT!" instruksinya.
Tak pakai lama tangan Hanafi sudah meraih ponsel. Jari menekan nomor yang tertera di bagian belakang kartu pelajar Elan yang ada di bagian depan tas seragamnya.
Tiga digit. 147. Merupakan nomor darurat Medical Center Senna Academy yang juga dipajang di setiap sudut sekolah.
"Halo! Halo! Teman saya baru saja hilang kesadaran! Sekarang tiba-tiba kejang! Kelas XI IPA 1!"
Di seberang sambungan, suara operator terdengar tenang dan terlatih. "Baik. Tim medis akan segera ke lokasi. Apakah korban masih bernapas?"
Hanafi menoleh pada Bu Retno yang sedang memeriksa napas Elan dengan meletakkan pipinya di dekat hidung anak itu.
"Napas tidak teratur, tapi masih ada," teriak Bu Retno.