Medical Center SMA Senna Academy 10 menit kemudian.
Hanafi duduk di ruang tunggu yang mewah dengan kursi empuk berwarna hijau lumut, meja kecil dengan majalah kesehatan, pendingin ruangan yang dingin sempurna, dan aroma lavender dari diffuser di sudut ruangan.
Di depannya, pintu ruang gawat darurat masih tertutup. Bu Retno sedang berbicara dengan petugas administrasi. Mengurus formulir darurat karena tidak ada keluarga yang bisa dihubungi.
"Nomor yang tertera tidak aktif," kata petugas itu pelan. "Kami sudah mencoba tiga kali."
Bu Retno menghela napas. "Lanjutkan saja dulu perawatannya. Saya yang akan bertanggung jawab. Nanti saya coba cari kontak lain dari bagian kesiswaan."
Hanafi menggenggam ponselnya. Ia ingin menelepon seseorang, tapi siapa? Elan tidak pernah menceritakan apa pun tentang keluarganya.
Ia hanya tau kalau Elan tinggal sendiri di sebuah rumah di komplek dekat sekolah. Selama ini ia pikir itu hanya karena orang tuanya sibuk dengan bisnis atau pekerjaan.
Tapi, kenapa di saat seperti ini tidak ada yang datang? Kenapa tidak ada yang menjawab panggilan?
"Hanafi."
Ia menoleh. Bu Retno berdiri di sampingnya. Wajahnya tampak lelah ditambah cemas, tapi berusaha tersenyum.
"Kamu sudah membantu banyak. Sekarang lebih baik kamu kembali. Saya akan tunggu di sini sampai ada kabar."
"Tapi, Bu..."
"Percayakan saja pada tim medis. Mereka tau apa yang harus dilakukan."
Hanafi mengangguk pelan. Ia berdiri hendak melangkah keluar ruang tunggu, tapi di ambang pintu ia berhenti.
Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Pintu ruang gawat darurat masih tertutup rapat. Lampu merah di atasnya menyala.
"Lan," bisiknya. "Sebaiknya lu segera sadar. Semoga gak terjadi apa pun."
*
Saat istirahat makan siang, Hanafi memutuskan kembali ke Medical Center SMA Senna Academy.
Ia mendapat kabar jika kondisi Elan sudah membaik dan tubuhnya dipindahkan ke kamar rawat VIP. Tapi, ia belum berani masuk dan berakhir hanya menempelkan telinga di daun pintu.
Selain Bu Retno, di sana ada Bu Rini yang merupakan perawat sekolah sedang memasang oksigen dan memeriksa tanda-tanda vital Elan. Juga ada dua orang guru BK perempuan.
"Napasnya mulai stabil," kata Bu Rini dengan napas lega. "Tapi, paru-parunya terdengar basah seperti ada cairan. Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit."
Bu Retno menggelengkan kepala. "Ini aneh sekali, tapi saya sama sekali tidak bisa menemukan kontak keluarga Elan."
"Jangan."
Suara itu datang dari tempat tidur. Reflek mengejutkan semua orang di sana.