Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #24

Wali Siri

Pintu kamar rawat VIP itu tertutup rapat.

Hanafi kini berdiri di luar. Hanya bisa termenung setelah diminta keluar oleh Bu Retno tadi untuk memberi ruang para orang dewasa berdiskusi. Wajahnya terasa agak beku bukan karena apa yang ia lihat, tapi karena apa yang tidak ia kenali.

Itu adalah rupa Elan yang sama yang telah ia kenal sejak di SMP Senna Academy. Tapi, di saat sama ia terkejut karena kepribadian anak itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat.

"Kenapa sih dia?"

Satu pertanyaan itu masih menghantui kepalanya seperti rekaman yang diputar ulang. Hanafi tidak pernah membayangkan Elan yang selalu tersenyum, bercanda, selalu jadi pusat perhatian akan menatapnya sangat kosong seperti melihat tembok.

"Gue... gue Hanafi. Teman satu kelas lu."

"Oh."

Hanya itu. Satu suku kata. Tanpa makna.

Rupanya ia memang tak tau apa pun soal Elan. Tidak dirinya, tidak juga orang lain. Meski banyak orang senang mendatanginya untuk berbagi cerita dan meminta nasihat soal kehidupan mereka, ia tak pernah balik mengatakan apa pun soal perasaan atau kehidupan pribadinya.

Awalnya ia pikir itu karena Elan memang tertutup saja. Tapi, sekarang di koridor sunyi ini, ia mulai bertanya apakah selama ini ada yang ia lewatkan?

*

Di dalam kamar suasana tidak lebih baik.

Bu Retno berdiri di sudut dengan tangan bersilang di depan dada berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dua guru BK, Bu Pinkan dan Bu Antonia masih berbisik dengan Bu Rini perawat sekolah. Wajah mereka terlihat tegang.

Elan masih di tempat tidur. Tubuhnya tidak bergerak. Hanya dada yang naik turun pelan mengikuti napas yang masih dibantu oksigen. Matanya terbuka menatap langit-langit tanpa berkedip sama sekali seperti manekin.

Tidak seperti tatapan kosong orang yang sedang melamun. Seperti tatapan seseorang yang sudah tak melihat apa pun karena tak ada lagi yang ingin dilihat.

"Elan," Bu Retno memanggil pelan. Suaranya lembut seperti berbicara pada anak kecil yang sedang ketakutan. "Kamu... kamu tidak ingat apa pun? Tentang tadi pagi? Tentang... apa yang terjadi?"

Remaja itu tetap diam.

Tiga detik. Lima detik. Lima belas detik.

Lihat selengkapnya