Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #25

Jejak Petrichor

Siang itu puncak kemarau terasa seperti sedang memanggang Bumi Pertiwi tanpa ampun. Langit berwarna biru nirmala. Begitu bersih tanpa segumpal awan pun seolah menjanjikan panas abadi.

Udara diam, berat, dan dipenuhi debu halus yang beterbangan dari tanah yang sudah lama retak-retak kerontang. Daun-daun jati meranggas seolah pasrah pada takdir kekeringan.

Namun, entah dari bagaimana asalnya, suasana tiba-tiba berubah drastis hanya dalam hitungan menit. Mengejutkan semua orang.

Ufuk barat yang tadi terang benderang mendadak diselimuti dinding pekat berwarna abu-abu keunguan. Awan kumulonimbus raksasa muncul seperti monster yang terbangun dari tidur panjang, bergulung-gulung dengan cepat menelan matahari. Cahaya sore yang benderang sirna digantikan oleh kegelapan prematur yang mencekam.

Sukses memberi rona aneh pada segalanya.

Suhu udara merosot tajam secara tidak wajar. Angin yang sebelumnya mati tiba-tiba bangun dengan amarah meluap-luap. Ia menderu, bersiul di sela-sela ranting kering, menyeret debu dan dedaunan dalam pusaran liar yang membutakan mata.

Alam mendadak menahan napas. Dan kemudian... langit seolah pecah.

Tanpa peringatan gerimis, tetesan air raksasa hampir sebesar biji kelereng menghantam bumi Senna Academy yang panas. Suara hantamannya di atas tanah kering terdengar seperti rentetan tembakan AK-47. Aroma tanah kering yang tersiram air menyeruak kuat beri sensasi menyesakkan sekaligus melegakan.

Hanya dalam hitungan detik hujan berubah jadi tirai air masif karena didorong angin kencang yang menghajar apa saja yang menghalangi. Kilat menyambar-nyambar lurus membelah kegelapan langit dengan warna biru keputihan menyilaukan disusul dentuman petir yang menggelegar dahsyat seolah ingin runtuhkan kubah langit.

Pohon-pohon tua mengerang kepayahan. Dahan-dahannya meliuk ekstrim berjuang melawan amukan angin. Jalanan yang tadi berdebu seketika berubah jadi sungai-sungai cokelat yang meluap dalam sekejap.

Di tengah musim yang seharusnya kering kerontang, alam memamerkan amarahnya yang paling murni dan tak terduga. Sebuah pertunjukan kekuatan yang mengerikan. Menyisakan hawa dingin yang asing dan genangan air di tanah yang merindukan basah.

*

Padahal kalender menunjukkan puncak musim kemarau. Padahal tidak ada satupun awan gelap yang terlihat saat bel istirahat pertama berbunyi.

Lihat selengkapnya