Reizo dari kelas sebelah berdiri di ujung koridor dengan jas hujan tipis dikenakan di atas seragam. Rambutnya sedikit basah di bagian ujung. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, tapi matanya bergerak cepat seolah sedang membaca keadaan.
"Kenapa lu di sini sendiri? Kelihatannya anak-anak lain lagi pada geger lihat hujan."
Hanafi tidak menjawab. Ia hanya menatap Reizo dengan ekspresi sulit diartikan.
Reizo berjalan mendekat. Baru sedetik matanya menatap wajah Hanafi, senyum tipisnya perlahan memudar. "Ada apa, sih?"
Hanafi menarik napas panjang. "Terjadi sesuatu yang aneh sama Elan."
Reizo terdiam. Tubuhnya tidak menunjukkan gerakan dramatis, tapi ada perubahan halus di rahang yang mengeras, mengunci. Seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ditampilkan.
Ia akhirnya bertanya, "Elan kenapa?"
"Dia... datang terlambat. Terus tiba-tiba pingsan di tengah pelajaran. Agak seram karena sampai kejang entah apa penyebabnya. Setelah itu langsung dibawa ke Medical Center."
Reizo tidak bergerak. Matanya menatap Hanafi dengan intensitas tidak biasa. Ia bertanya, "Terus sekarang?"
Hanafi menggeleng. "Nggak tau. Ada seorang pria datang. Katanya sih walinya. Tapi, gue gak yakin bapak-bapak yang kelihatan kayak penjahat gitu beneran walinya Elan. Dia masuk ke kamar. Bu Retno, Bu Antonia, dan Bu Pinkan pergi terus pintu dikunci. Gue nggak tau lagi apa yang terjadi setelah itu."
Reizo menoleh ke jendela. Ke arah hujan yang semakin deras memekakkan telinga.
"Waktu di kamar itu... dia ngomong apa? Atau keliatan gimana?"
Hanafi menggeleng. "Gue cuma sempat liat dia bentar. Wajahnya pucat banget. Tatapannya kosong. Dan pas gue bilang 'gue Hanafi', dia cuma jawab 'oh'. Kayak nggak kenal gue."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Terus gue disuruh keluar sama Bu Retno. Sebelum keluar gue lihat dia kayak orang yang udah nggak ada di sana. Badannya ada, tapi jiwanya kosong. Gue nggak tau gimana jelasinnya. Dia beneran beda sama Elan yang selama ini kita kenal."