Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #27

Sanubari Tiri

Di dalam Mercedes V-Class berwarna hitam yang melaju pelan meninggalkan gerbang belakang Senna Academy. Mister Hartadi duduk di kursi depan di samping pengemudi.

Di jok belakang, Elan terbaring di kursi yang direbahkan. Tubuhnya masih terhubung dengan tabung oksigen portabel dan infus yang digantung di pengait kecil di atas jendela.

Sementara itu Megan yang hukumannya ditangguhkan duduk di sampingnya dengan tangan memegang erat tas berisi obat-obatan. Sesekali mengecek selang infus dan masker oksigen Elan. Wajahnya pucat karena khawatir.

"Mister Hartadi," panggil Megan separuh berbisik sambil menunjuk ke jendela. Ia berkata, "Alam hari ini aneh, ya. Kebetulan sekali menangis saat kondisi Elan begini."

Pria itu menoleh. Melihat pemandangan yang tidak masuk akal.

Hujan yang jatuh di musim kemarau. Hujan yang tidak ada di prakiraan cuaca mana pun.

Ia menatap remaja yang terbaring tak sadarkan diri di kursi belakang. Wajahnya pucat. Napasnya pelan.

Di wajah yang tampak tak bersalah itu, entah bagaimana semua hal malah terasa serba salah. Penuh pertentangan. Pertanyaan tanpa jawaban.

Mister Hartadi menggeleng. Ia terlalu lelah untuk berpikir tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Ini semua tidak mungkin ada hubungannya.

"Pak Supir, tolong percepat. Kita harus sampai sebelum hujan semakin deras."

"Baik, Mister Hartadi."

Mobil itu melaju lebih cepat. Mengabaikan genangan air tak wajar di mana-mana.

Di dalam kendaraan seharga sekitar dua milyar rupiah itu, Megan memegang punggung tangan Elan yang dingin seperti sebelumnya.

"Semua akan baik-baik aja," bisiknya. "Semua yang kamu khawatirkan gak akan terjadi."

Elan sama sekali tak merespons dalam tidurnya yang entah bermakna apa.

Di luar hujan tak kunjung reda. Justru semakin deras. Air membasahi jendela mobil hingga pandangan ke luar kabur seolah langit sendiri ikut menangis tanpa sebab.

Megan menatap jendela, lalu kembali ke wajah Elan. "Sepertinya dunia pun ikut berduka karena kesedihanmu, Lan," bisiknya lirih.

Mister Hartadi tidak mengatakan apa pun. Matanya tetap lurus ke depan, tapi pikirannya berada di tempat lain. Ia hanya bisa berharap hujan ini reda sebelum mereka sampai.

Tapi, doa itu tak terwujud.

Sepanjang perjalanan, langit tetap kelabu menumpahkan ribuan galon air. Seperti ada sesuatu yang membuatnya enggan berhenti menangis.

*

Di ruang kontrol CCTV Asrama Merah, layar-layar memantau seluruh sudut sekolah: cuaca, aktivitas para siswa, laporan dari guru. Semua mengalir dalam satu jaringan yang dirancang untuk memastikan tidak ada yang tidak terkendali.

Tapi sekarang, di ruangan itu terasa ada yang tidak beres.

"Apa ini?" tanya seorang petugas. Menunjuk ke layar radar cuaca.

"Tiba-tiba terbentuk awan cumulonimbus di atas kompleks sekolah. Tidak ada pemicu. Tanpa tanda-tanda."

Lihat selengkapnya