Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #28

Aba-Aba Laba-Laba

Panel di dinding kamar 3-R itu selalu menyala merah seolah terbuka atau tertutupnya dikendalikan oleh pihak lain. Tidak ada yang pernah mempertanyakannya. Tidak ada yang perlu.

Hujan yang belum berhenti menyambut kepulangan mereka ke bangunan Renaisans berwarna merah itu.

Mercedes hitam yang mereka naiki masuk ke gerbang belakang Asrama Merah sekitar pukul setengah lima sore. Tidak ada yang menyambut karena memang tak ada yang perlu tahu. Hanya satu petugas berseragam Asrama Merah yang membuka pintu tanpa bertanya, lalu kembali menutupnya seolah tidak ada yang terjadi.

Mister Hartadi turun lebih dulu. Elan masih belum sadar. Ini bisa jadi masalah kalau sampai pihak Klan Senna tahu. Biasanya mereka tahu lewat Dokter Danas.

Tubuhnya dipindahkan ke kursi roda lipat yang sudah disiapkan Megan. Selang infus masih terpasang dan masker oksigen portabel masih menutupi setengah wajahnya.

Kepalanya terkulai ke satu sisi. Rambutnya basah di beberapa bagian, entah karena keringat atau karena udara lembab yang dibawa hujan masuk ke dalam mobil.

Megan mendorong kursi roda itu dengan kedua tangan. Tidak bisa sepenuhnya berhenti gemetar penuh kekalutan sejak tadi siang.

"Bawa dia langsung ke kamarnya," pesan Mister Hartadi singkat.

"Baik."

Lift Asrama Merah bergerak lambat. Di dalamnya tidak ada suara kecuali dengungan mesin dan napas Elan yang keluar berat melalui masker.

Megan menatap profil wajah Elan dari samping yang terlihat pucat. Tenang dengan cara yang tidak terlihat seperti istirahat. Lebih seperti seseorang yang tubuhnya memutuskan menyerah sebelum pikiran sempat buat keputusan.

"Semua yang kamu khawatirkan gak akan terjadi."

Ia teringat bisikannya sendiri di dalam mobil tadi. Kata-kata yang ia ucapkan lebih menenangkan diri sendiri daripada untuk remaja di dekatnya.

Lihat selengkapnya