Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #29

Nama Tanpa Cerita

Megan menggelengkan kepala beberapa kali untuk menyadarkan diri dari halusinasi yang hampir menelannya.

Ia harus fokus pada kondisi Elan sekarang.

Otak manusia, kata dokter yang pernah ia baca di suatu tempat, punya cara sendiri untuk bertahan.

"Ketika tekanan terlalu besar, saat tubuh hampir tenggelam dan pikiran sudah memutuskan untuk menyerah. Ada bagian dari otak yang memilih untuk memadamkan api. Bukan karena tertiup angin atau tersiram air, tapi karena terlalu lelah untuk terus bersinar," pikirnya.

Yang tersisa setelah itu bukan kehampaan murni. Lebih seperti kabut. Kenangan ada di sana, tapi dengan bentuk kabur yang ujung-ujungnya tidak bisa dipegang.

Nama-nama yang harusnya familiar terasa asing. Wajah-wajah yang harusnya dikenal terasa seperti potret orang lain di pameran foto.

Yang paling berbahaya, bagian yang hilang bukan hanya memori. Kadang yang ikut pergi adalah alasan untuk ingin kembali.

Megan duduk di sofa sudut kamar itu. Sudah hampir dua jam berlalu. Di luar hujan akhirnya mulai mereda menjadi gerimis tipis, tapi langit masih gelap dengan cara yang tidak terasa seperti malam biasa.

Ia menatap Elan yang belum sadar di kasur.

Dada yang naik turun. Tangan yang tergeletak di sisi tubuh. Gelang hitam di pergelangan kaki yang berkedip merah setiap tiga detik.

"Karena itulah peraturan di rumah kami."

Megan mengepalkan tangan di atas lutut.

Ia tidak pernah mempertanyakan aturan itu sebelumnya. Ia datang ke Asrama Merah dengan satu tujuan: bekerja, menjalankan tugas, menjaga ketertiban, memastikan para siswa AC berfungsi sesuai yang diharapkan.

Elan yang keras kepala, yang selalu mencari celah, yang tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan. Ia pernah anggap itu sebagai masalah yang perlu diselesaikan. Tapi, sekarang ia duduk di sini dan tidak tahu apa yang bisa diyakini sebagai solusi.

Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal.

"Bagaimana kondisi Elan?"

Megan menatap layar itu lama. Lalu, mengetik balik, "Siapa?"

"Ekadasa. Aku tau nomor ini dari Mas Anjas."

Lihat selengkapnya