Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #30

Tanpa Cahaya

Ironis. Karena hal yang sama berlaku untuk dirinya sendiri.

Ia menarik napas. Mengambil ponselnya.

Kembali mengetik ke kontak Megan, "Kalau dia bangun dan mengatakan sesuatu, apapun itu... tolong beritahu saya."

Megan tegas menjawab, "Tidak bisa. Hubungan semacam ini melanggar peraturan. Kamu pikir aku mau sampai dipecat kalau ketahuan membiarkan hal seperti itu terjadi?

"Aku hargai perhatianmu, tapi biar kuingatkan, di sini peraturannya hanya pikirkanlah dirimu sendiri.

"Jangan hubungi aku lagi."

Reizo terperangah menatap layar gawainya. Mas Arjun pelayannya pun punya sikap dan ketundukan buta yang sama pada Klan Senna. Tapi...

Belum sempat berpikir apa yang harus dilakukan setelah ini, tiba-tiba gawainya menerima pesan lain dari nomor Megan.

"Kalau kamu bisa menjaga agar tidak ketahuan pihak Asrama Merah. Mungkin ide bodoh itu bisa dipertimbangkan."

"Oke," balasnya. Tersenyum kecil. Segera menyusun rencana untuk "pemberontakan kecil" yang baru terlintas dalam kepalanya.

Reizo meletakkan ponsel. Bersandar ke dinding di samping jendela. Menutup mata menikmati setiap milidetik momen kehidupan yang singkat ini.

Di luar, gerimis terus turun perlahan. Tidak seperti amarah yang dikeluarkan tadi siang. Kini hujan seperti sesuatu yang sudah kehabisan tenaga untuk menangis dalam raungan. Sekarang hanya bisa diam sambil tetap basah.

*

Sekitar pukul sembilan malam lebih empat belas menit akhirnya Elan membuka mata.

Tidak ada momen dramatis. Tidak seperti di film. Tidak ada tersentak, tidak ada napas yang tiba-tiba tersedak, atau adegan seolah tenggelam dalam alam pikiran.

Hanya kelopak yang terangkat perlahan seperti seseorang yang terbangun bukan karena sudah cukup tidur, tapi karena alam bawah sadar tidak tau harus lakukan apa lagi selain menyadarkan diri.

Langit-langit putih. Ia menatapnya.

Cahaya lampu dinding yang kekuningan. Tekstur karpet yang ia kenali dari sudut mata. Bau seprai yang terlalu bersih.

Ia tahu tempat ini. Ia tahu, tapi dari sudut pandang yang aneh. Rasanya seperti mengingat mimpi yang sudah mulai pudar di pagi hari.

Lihat selengkapnya