Jam seperti ini jika tidak ada lagi yang ia perlukan biasanya Mas Anjas sudah kembali ke kamarnya. Kira-kira pria itu sudah tidur sekitar pukul sebelas kurang sepuluh menit.
Reizo mengetahuinya dari kamera.
Tentu bukan kamera yang dipasang secara resmi oleh Asrama Merah. Melainkan akses backdoor ke sistem pengawasan internal yang ia temukan dua tahun lalu. Sebuah celah kecil di lapisan autentikasi yang tidak pernah ditambal. Karena tak seorangpun tau celah itu ada kecuali dirinya.
Ia tidak melaporkan penemuan itu sebagai tindakan preventif jika sewaktu-waktu membutuhkan celahnya. Tampaknya saat ini waktu itu tiba.
Di layar laptop, feed kamera lorong lantai tempat kamar tidur para pelayan berada menunjukkan lampu kamar Mas Anjas sudah padam sejak 22.49. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan di celah bawah pintu.
Pukul sebelas kurang sepuluh seperti biasa. Bertahun-tahun mengamati rutinitas banyak orang memberinya pelajaran serta kepekaan pada orang terdekatnya. Mengajarkan hal-hal yang bahkan orang itu sendiri tidak sadari.
Soal cara keluar juga tidak terlalu rumit. Untuk orang yang sudah tinggal di sana cukup lama untuk hafal setiap celahnya. Sensor gerak di koridor lantai dua punya satu kelemahan kecil yang tidak pernah diperbaiki. Ada area buta sepanjang dua meter tepat di sisi kiri tangga darurat yang cukup untuk satu orang berjalan tanpa memicu alarm.
Reizo menemukannya satu tahun lalu. Dan tidak berencana memberitahu siapa pun dalam waktu dekat.
Ia menutup laptop. Mengecek jam menunjukkan pukul 23.08.
Patroli pertama lantai tiga dijadwalkan pukul 23.30.
Dua puluh dua menit. Cukup.
*
Koridor lantai dua Asrama Merah pada malam hari terlihat seperti museum yang tidak pernah punya pengunjung.