Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #32

Perjalanan Menuju Kepantasan

Ingatan datang tanpa diundang seperti biasa. Selalu di momen yang salah atau di tengah situasi yang membutuhkan fokus penuh. Otak memilih untuk menayangkan ulang potongan-potongan yang tidak diinginkan.

Rumah itu besar. Tidak sebesar Asrama Merah, tapi besar dengan cara yang berbeda. Besar karena memang dihuni, bukan karena dirancang untuk terlihat dihuni.

Ada sepatu ayahnya yang selalu tertinggal di dekat pintu masuk. Ada tumpukan buku ibu di meja ruang tamu yang tidak pernah benar-benar rapi. Ada suara televisi yang menyala dari kamar sebelah meski tidak ada yang benar-benar menonton.

Semua kenangan itu berusia sekitar sepuluh tahun lalu.

Pagi itu mereka lalui seperti biasa. Sarapan, memakai seragam, menenteng tas sekolah yang berat. Ayahnya sudah pergi lebih awal sementara ibunya sedang di dapur.

Lalu, suara ketukan di pintu tiba-tiba terdengar terlalu keras untuk tamu yang datang dengan tujuan baik.

Suara ibunya memanggil namanya dengan nada yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Tayangan televisi di ruang keluarga tiba-tiba menampilkan sesuatu yang mengejutkan. Terpampang wajah ayahnya diiringi kata-kata yang saat itu belum begitu ia pahami maknanya. Yang ia mengerti hanya ssesuat yang sangat salah telah terjadi.

"Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika ditangkap atas dugaan korupsi spektrum frekuensi senilai..."

Bruaakh. Terdengar suara kencang ibunya terjatuh di dapur.

Bukan pingsan biasa. Reizo tahu itu bahkan sebelum ia berlari masuk dan menemukan ibunya sudah tidak merespons di lantai. Tangannya masih memegang cangkir yang tidak sempat terlepas.

Serangan jantung, kata dokter kemudian. Dipicu syok akut.

Ia sama sekali tidak menangis waktu itu. Tidak tau kenapa. Mungkin karena semua terjadi terlalu cepat untuk dipahami.

Mungkin juga karena ada bagian dari otaknya, bagian yang sama yang sekarang menulis program untuk membobol sistem kamera, yang sudah terlalu sibuk mencatat, menganalisis, dan menyimpan.

Setengah tahun setelah kejadian itu. Seorang perwakilan Klan Senna datang ke panti asuhan tempat ia dititipkan. Seorang wanita berpenampilan rapi dengan senyum terlatih muncul sambil menawarkan hal-hal yang terdengar seperti keselamatan. Entah pendidikan, tempat tinggal, masa depan.

Lihat selengkapnya