Mungkin itu hanya efek optis yang sengaja diciptakan oleh pelukisnya, tapi tetap saja. Membuat bulu kuduk meremang di koridor yang sepi seperti ini.
Tiga puluh satu. Tiga puluh dua.
Pintu-pintu di sepanjang koridor lantai tiga semuanya sama. Terdiri dari panel kayu walnut gelap, tanpa nama, tanpa nomor kecuali satu di ujung yang tampaknya ruangan paling besar. Sekaligus satu-satunya kamar di lantai ini yang dihuni manusia.
Empat puluh lima. Empat puluh enam. Empat puluh tujuh.
Pintu kamar 3-R.
Reizo berhenti. Mengecek jam tangan menunjukkan pukul 23.23. Tujuh menit sebelum patroli.
Ia mengetuk pelan dua kali menggunakan knokkel. Bukan telapak tangan yang menghasilkan bunyi berbeda. Tidak sama dengan cara yang biasa digunakan petugas Asrama Merah.
Belum ada respon. Ia mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang berhati-hati dari balik pintu. Suara kunci elektronik yang bergeser. Pintu terbuka sepersepuluh memberi celah cukup untuk satu mata mengintip.
Megan.
Wajahnya tegang. Matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri koridor sebelum ia berbisik, "Kamu benar-benar tidak waras."
"Haha, kemungkinan besar," jawab Reizo sama lirihnya. "Tapi, saya benar-benar ada di sini. Boleh masuk?"
Megan menatapnya beberapa detik lebih lama untuk menilai situasi tak terduga ini. Setelah itu membuka pintu lebih lebar.
Akhirnya sampai juga.