Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #34

Keputusan Kelam

"Apa kamu Nala?"

Pertanyaan itu meluncur jatuh di antara mereka seperti batu ke permukaan air sunyi. Tidak keras. Tidak dramatis, tapi riaknya menyebar hingga sudut ruangan.

Menyentuh dinding-dinding tinggi berukiran emas, piano besar yang lebih banyak berfungsi sebagai pajangan. Juga tirai tebal yang menyembunyikan terali di baliknya.

Reizo tidak bergerak. Alarm pelanggaran di kepalanya menyala. 

Ia masih berdiri di dekat pintu dengan satu tangan di samping badan. Jari-jarinya sedikit menggenggam kain celana. Dalam kepalanya, semua sistem yang selama ini ia andalkan mulai dari analisis, perhitungan, pembacaan situasi tiba-tiba bekerja dalam kecepatan yang berbeda. 

Lebih lambat. Lebih berat. 

Nala. Siapa? 

Nama itu tidak ada dalam peta dunianya dan harusnya penghuni Asrama Merah lain juga. Bukan siswa AC, bukan staf, bukan satu pun siswa Senna Academy, bukan juga nama yang pernah muncul dalam laporan mana pun yang ia akses diam-diam beberapa tahun terakhir. 

Tapi, cara Elan mengucapkannya dengan jeda di tengah. Seperti berusaha meniti jembatan yang hampir putus. Membuat sesuatu di dadanya terasa sesak.

Ia menoleh ke Megan yang berdiri di sudut kamar dekat dengan meja kopi marmer tempat segelas air setengah penuh. Tangan pria itu memegang ponsel erat hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Matanya melebar untuk sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan ke lantai.

Jangan! 

Itu yang ia baca dari bahasa tubuh Megantara. Bukan, aku tidak tahu. Bukan, bukan urusanmu. Tapi, jangan tanya. Jangan sekarang. Jangan di sini! 

Sama seperti Mas Anjas dan seluruh pelayan pribadi para siswa AC lain. Reizo cukup mengenal Megantara untuk tau pria itu tidak mudah panik. Ia menjalankan tugas dengan efisiensi yang dingin dan presisi. Tapi, di matanya sekarang terdapat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Ketakutan? 

Bukan takut pada aturan yang dilanggar. Bukan juga takut pada hukuman.

Lihat selengkapnya