Tidak, tidak, tidak.
Itu hanya pikiran sesaat yang terlalu ceroboh. Lagipula bukan waktunya juga memikirkan mereka.
Ia tau kadang seseorang tidak butuh jawaban. Mereka hanya butuh didengar. Mereka butuh tau bahwa ucapan mereka tidak jatuh ke ruang hampa.
"Gue bukan Nala," kata Reizo akhirnya.
Suaranya tenang. Hanya menyampaikan fakta yang diucapkan dengan lembut. Seperti seseorang yang membangunkan teman dari mimpi buruk.
"Gue Reizo. Kita satu sekolah. Satu ru..."
Ia hampir mengatakan satu rumah, tapi kata itu tersangkut di tenggorokan. Meski tinggal di bangunan yang sama, kehidupan mereka sangat berbeda. Dan tempat ini kelihatannya bukan rumah untuk Elan.
Rumah tidak memiliki terali di balik gorden. Rumah tidak meminta penghuninya mengenakan GPS ankle monitor di pergelangan kaki. Rumah tidak berusaha membuatmu lupa siapa dirimu.
Tapi, kita seperti keluarga. Meski hanya di atas kertas, batinnya.
"Gue gak tau siapa Nala," lanjutnya. "Tapi, gue tau satu hal."
Ia menatap wajah pucat Elan yang masih berusaha fokus. Pada mata yang masih mencari-cari. Pada jari-jari yang menggenggam selimut seperti satu-satunya hal yang nyata di ruangan ini.
"Lu mengingat namanya. Itu berarti dia penting. Dan yang paling penting..." Ia menunduk sebentar. Mencari kata yang tepat. "...akan hilang hanya karena lu lupa."
Elan tidak menjawab. Tapi, selimut di tangannya tidak lagi terkepal erat seperti tadi. Jari-jarinya terbuka seperti sesuatu yang perlahan melepaskan ketegangan yang sudah terlalu lama ia tahan.
Di sudut kamar, Megan menoleh ke jam dinding. Menunjukkan pukul 23.27. Tinggal tiga menit.
Ia tidak mengatakan apa pun. Tapi, lirikan matanya bersuara cukup jelas.
Reizo mengangguk pelan. Ia berdiri. Kursi bergeser pelan di atas karpet Persia tebal tanpa suara.