Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #1

PENDAHULUAN Nama yang Tidak Boleh Diingat

PENDAHULUAN

Nama yang Tidak Boleh Diingat

Malam itu, tidak ada anjing yang menggonggong.

Hewan-hewan di kandang merunduk dengan kepala menghadap tanah. Ayam berhimpitan di sudut kurungan. Sapi milik warga menolak berdiri meski punggungnya dipukul dengan batang bambu.

Angin dari hutan membawa bau tanah basah, padahal hujan tidak turun sejak tujuh hari lalu.

Di tengah desa, lonceng tua tergantung di balai pertemuan. Permukaannya menghitam dimakan usia. Tidak seorang pun menyentuh tali yang menjuntai dari bawahnya, tetapi lonceng itu bergoyang perlahan.

Sekali.

Suara dentangnya menyebar melewati rumah-rumah beratap rumbia.

Orang-orang yang sejak sore bersembunyi di balik pintu segera memadamkan pelita. Para ibu menutup mulut anak mereka dengan telapak tangan. Para lelaki dewasa yang biasanya berani menghadapi perampok hanya mampu duduk memeluk lutut.

Mereka telah menunggu bunyi itu.

Mereka juga berharap tidak pernah mendengarnya lagi.

Di ujung desa, sebuah iring-iringan berjalan menuju hutan.

Tidak ada gamelan.

Tidak ada tawa.

Tidak ada keluarga yang mengiringi sambil membawa beras kuning atau bunga. Hanya obor, langkah kaki, dan bisikan doa yang terdengar seperti orang-orang sedang menyembunyikan kesalahan.

Seorang perempuan muda berjalan di tengah rombongan.

Kebaya putih yang dikenakannya terlalu besar. Kain jarik yang membelit pinggangnya bukan miliknya. Bekas jahitan lama masih tampak di bagian bawah, seolah pakaian itu telah dikenakan oleh perempuan-perempuan lain sebelum dirinya.

Kepalanya tertunduk.

Bukan karena malu.

Pergelangan tangannya diikat dengan benang merah yang disambungkan pada pergelangan seorang lelaki di sampingnya.

Lelaki itu mengenakan pakaian pengantin berwarna gelap. Wajahnya pucat. Ada luka memanjang dari pelipis hingga rahang, tetapi darah dari luka itu tidak pernah sampai ke dagunya. Setiap tetes yang keluar berubah menjadi hitam sebelum menyentuh kulit.

“Kita masih bisa lari,” bisik perempuan itu.

Lelaki di sebelahnya tidak langsung menjawab.

Ia memandang para lelaki yang berjalan di depan. Kepala mereka tertutup kain. Masing-masing membawa sebilah parang, tetapi tak satu pun berani menoleh ke arah pasangan pengantin.

Di belakang rombongan, beberapa warga memanggul tiga orang yang sedang demam. Tubuh mereka menggigil hebat. Kulit mereka dipenuhi bercak kehitaman yang menyebar dari leher menuju wajah.

Salah satunya anak kecil.

Napas anak itu tersengal.

Ibunya berjalan sambil menangis, tetapi setiap kali suara tangisnya meninggi, seseorang segera menyuruhnya diam.

“Lari ke mana?” tanya lelaki itu akhirnya.

“Ke jalan besar.”

“Jalan besar sudah ditutup.”

“Ke desa seberang.”

“Mereka tidak akan menerima kita.”

“Kita belum mencoba.”

Lelaki itu menoleh. Untuk sesaat, wajahnya terlihat seperti wajah manusia biasa—takut, lelah, dan terlalu muda untuk menanggung apa yang akan dilakukan orang-orang terhadap mereka.

“Kalau kita pergi,” katanya, “anak-anak itu akan mati.”

Perempuan itu memandang anak kecil yang sedang dipanggul.

Anak itu membuka mata. Tatapannya kosong, tetapi tangan kecilnya masih berusaha meraih ibunya.

Perempuan itu menggigit bibir hingga berdarah.

“Mereka akan mencari orang lain,” katanya.

“Mereka akan mencari kita lebih dulu.”

“Jadi kita harus menurut?”

Lelaki itu tidak menjawab.

Rombongan berhenti di depan pohon beringin besar.

Akar-akarnya mencuat dari tanah seperti punggung ular. Di belakang pohon itu terdapat jalan sempit yang hanya dapat dilewati satu orang. Semak di kanan dan kiri terlalu rapat, sementara pepohonan di atas mereka menutupi cahaya bulan.

Seorang lelaki tua berdiri di depan rombongan.

Ia mengenakan kain hitam dan membawa gulungan daun lontar yang diikat benang putih. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Hanya kelelahan seseorang yang telah mengulangi perbuatan yang sama terlalu sering.

“Sesudah melewati batas ini,” katanya, “tidak boleh ada yang memanggil nama pengantin.”

Perempuan muda itu mengangkat kepala.

“Kenapa?”

Tak ada yang menjawab.

Ia memandang satu per satu orang yang mengantarnya. Beberapa mengenal keluarganya sejak kecil. Seorang di antaranya pernah menggendongnya ketika ia jatuh ke sungai. Yang lain pernah datang ke rumah saat ayahnya meninggal.

Kini tak satu pun berani menatap matanya.

“Kenapa nama kami tidak boleh disebut?” tanyanya lagi.

Lelaki tua itu menggenggam gulungan lontar lebih kuat.

“Karena nama mengikat manusia pada dunia.”

“Bukankah itu yang kita perlukan?”

Suasana mendadak hening.

Lelaki tua itu tampak hendak bicara, tetapi seorang lelaki bertubuh besar di belakangnya mendengus.

“Kita tidak punya waktu untuk pertanyaan.”

Perempuan muda itu mengenali suara itu. Seorang pemilik tanah yang sawahnya membentang dari sungai sampai batas hutan. Selama wabah berlangsung, rumahnya satu-satunya yang tidak pernah kehilangan anggota keluarga.

“Waktu siapa yang habis?” tanya perempuan itu. “Waktu desa atau waktu kami?”

Lelaki bertubuh besar melangkah maju.

Pengantin lelaki segera berdiri di depannya.

Benang merah yang mengikat tangan mereka tertarik.

“Jangan sentuh dia,” katanya.

Suara lelaki itu pelan, tetapi sesuatu di dalam hutan bergerak setelah mendengarnya.

Daun-daun bergesekan meski tak ada angin.

Akar beringin bergetar.

Lelaki bertubuh besar menghentikan langkah.

Untuk pertama kalinya, ketakutan muncul di matanya.

Lihat selengkapnya