BAB 1
Wabah yang Tidak Mengenal Obat
Suara kentongan membangunkan seluruh desa sebelum matahari terbit.
Pukulannya tidak teratur. Terlalu cepat untuk tanda kebakaran, tetapi terlalu panjang untuk sekadar memanggil warga berkumpul. Suara itu berpindah dari ujung timur ke tengah desa, lalu disambut kentongan lain dari arah sungai.
Sekar sudah terjaga beberapa saat sebelumnya.
Ia duduk di tepi dipan sambil memandangi telapak tangan kirinya. Noda hitam yang muncul setelah mimpi buruk tadi malam sudah menghilang. Ia menggosok kulitnya dengan ujung kain, memastikan tak ada tinta yang tertinggal di sela garis tangan.
Kosong.
Meski begitu, suara perempuan berbusana pengantin dalam mimpinya masih teringat jelas.
Jangan percaya pada orang yang mengatakan satu korban dapat menyelamatkan semua orang.
“Sekar!”
Panggilan Prawoto terdengar dari ruang depan.
Sekar segera menyampirkan selendang ke bahu dan keluar dari kamar. Ayahnya berdiri di dekat pintu dengan wajah kusut. Rambutnya belum disisir, kancing bajunya terpasang tidak berurutan, dan sandal yang dikenakannya berbeda warna.
Dalam keadaan biasa, Sekar pasti menertawakannya.
Pagi itu ia bahkan tidak sempat bertanya.
“Ada apa, Pak?”
“Anak Pak Somad memburuk lagi.”
“Yang sulung?”
“Yang bungsu.”
Sekar menahan napas.
Putra bungsu Pak Somad baru berumur delapan tahun. Dua hari lalu, bocah itu masih sanggup duduk dan minum meskipun demamnya tinggi. Sekar sempat membantu Bu Tini mengganti kain kompresnya. Bercak hitam yang muncul di leher anak itu belum sebesar kuku.
“Bu Tini sudah dipanggil?”
“Sudah. Nyai Sumirah juga sedang menuju ke sana.”
Nama terakhir itu membuat Sekar mengernyit.
Selama hampir dua pekan wabah menyebar, Nyai Sumirah baru dua kali datang memeriksa orang sakit. Ia lebih banyak menyuruh keluarga pasien membakar daun tertentu, menutup jendela sebelum petang, dan meletakkan mangkuk berisi air di bawah tempat tidur.
Tidak ada yang benar-benar menjelaskan penyakit yang sedang mereka hadapi.
“Sekar, bangunkan Slamet,” kata Prawoto. “Jangan biarkan dia keluar rumah.”
“Tapi aku mau melihat keadaan anak Pak Somad.”
“Tidak.”
“Aku cuma membantu Bu Tini.”
“Sekarang bukan saatnya merasa paling berguna.”
Sekar menatap ayahnya.
Prawoto mengembuskan napas, lalu memperhalus suara. “Maksud Bapak, orang sakit sudah terlalu banyak. Kamu tidak tahu penyakit itu menular lewat apa.”
“Kalau menular, satu rumah pasti sakit semua. Kenyataannya tidak begitu.”
“Itu yang membuatnya lebih menakutkan.”
Dari kamar sebelah terdengar batuk keras.
Sekar dan Prawoto serentak menoleh.
Pintu kamar terbuka. Slamet muncul dengan rambut berantakan dan mata setengah terpejam. Adik Sekar itu berumur enam belas tahun, tetapi tiap pagi wajahnya selalu tampak seperti bocah yang baru belajar berjalan.
“Aku tidak sakit,” katanya sebelum ditanya.
“Kau batuk,” kata Prawoto.
“Kesedak ludah sendiri.”
Sekar menyilangkan tangan. “Hebat. Belum sarapan sudah hampir dibunuh tubuh sendiri.”
Slamet menguap. “Setidaknya tidak perlu menyalahkan wabah.”
Prawoto tidak tertawa. Ia mendekati Slamet, memegang dahinya, lalu memeriksa lehernya. Gerakannya begitu tergesa hingga Slamet benar-benar terbangun.
“Pak, aku cuma batuk sekali.”
“Masuk kamar.”
“Aku harus membantu Pak Guntur mengangkat persediaan beras.”
“Tidak hari ini.”
“Kalau semua orang disuruh tinggal di rumah, siapa yang akan bekerja?”
“Orang yang tidak kesedak ludah sendiri,” jawab Sekar.
Slamet mendecakkan lidah, tetapi akhirnya kembali ke kamar setelah Prawoto menatapnya lebih lama.
Sekar mengambil bakul kecil yang tergantung di dinding. Ia memasukkan beberapa kain bersih, botol air matang, dan daun sirih yang tersisa dari dapur.
“Kamu mau ke mana?” tanya Prawoto.
“Ke rumah Pak Somad.”
“Bapak baru saja bilang—”
“Aku tidak akan menyentuh pasien tanpa perlindungan. Bu Tini kekurangan orang. Wulan juga pasti sudah di sana.”
Prawoto menghalangi pintu.
Sekar tidak mundur.
Selama beberapa detik, mereka saling memandang. Sejak ibunya meninggal, ayahnya semakin sering melarang sesuatu tanpa menjelaskan alasan. Dulu Sekar menurut. Sampai ia sadar, menurut saja tidak membuat hidup mereka lebih aman.
“Aku akan pulang sebelum matahari tinggi,” katanya.
“Sekar.”
“Kalau Slamet yang terbaring di sana, Bapak juga ingin ada orang yang membantu.”
Kalimat itu membuat bahu Prawoto turun.
Ia menepi, tetapi sebelum Sekar melangkah keluar, tangannya meraih lengan putrinya.
“Jangan pergi ke balai desa kalau lonceng berbunyi.”
Sekar menoleh. “Kenapa?”
Prawoto seperti baru sadar telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Pokoknya jangan.”
“Apa hubungannya lonceng dengan wabah?”
“Tidak ada.”
Ia menjawab terlalu cepat.
Sekar ingin mendesak, tetapi suara kentongan kembali terdengar. Kali ini disusul teriakan seorang lelaki dari jalan utama.
“Orang sakit bertambah! Tiga rumah di sebelah utara!”
Prawoto melepaskan pegangan.
“Pulang cepat,” katanya.
Sekar bergegas keluar.
Udara pagi terasa lebih dingin daripada biasanya. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah. Beberapa warga berdiri di ambang pintu, tetapi tidak ada yang berani keluar jauh. Mereka hanya saling bertanya dari halaman masing-masing.
Wabah itu pertama kali muncul dua belas hari lalu.
Seorang petani ditemukan menggigil di tengah sawah, meskipun matahari sedang terik. Menjelang malam, bercak hitam tumbuh di lehernya. Keesokan hari istrinya kehilangan penglihatan selama beberapa jam, sementara atap rumah tetangga mereka ambruk tanpa sebab.
Setelah itu, korban terus bertambah.