Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #3

BAB 2 Harga Seorang Pengantin

BAB 2

Harga Seorang Pengantin

Tidak seorang pun bergerak setelah Kepala Desa Marto menyebut kata pengantin.

Lapangan balai desa mendadak terasa lebih sempit. Udara pagi yang semula dingin berubah pengap oleh napas warga yang tertahan.

Sekar berdiri di antara Prawoto dan Wulan. Ia merasakan tatapan orang-orang menempel pada wajah, bahu, dan tubuhnya. Sebagian buru-buru memalingkan muka ketika mata mereka bertemu. Sebagian lain tidak merasa perlu menyembunyikan harapan.

Mereka belum menyebut namanya.

Semua orang sudah tahu siapa yang dimaksud.

“Pengantin siapa?” Sekar bertanya.

Kepala Desa Marto menggenggam tongkat lebih erat.

Nyai Sumirah menundukkan wajah.

Prawoto menyentuh pergelangan Sekar. “Kita pulang.”

Sekar menarik tangannya. “Aku bertanya kepada kepala desa.”

“Sekar.”

“Kalau keputusan ini menyangkut hidupku, aku berhak mendengarnya di sini.”

Suara bisik-bisik mulai muncul di tengah kerumunan.

Marto mengembuskan napas panjang. “Nama pengantin akan dibicarakan bersama keluarganya.”

“Berarti sudah ada nama.”

“Kita tidak akan mempermalukan siapa pun di depan warga.”

Sekar tertawa pendek.

“Orang-orang sudah menatapku seperti aku sedang berdiri di atas panggung. Bagian mana yang masih bisa dibuat lebih memalukan?”

Beberapa warga menunduk.

Seorang ibu yang anaknya terbaring di atas tikar justru berkata, “Kalau memang Sekar bisa menolong, kenapa harus ditunda?”

Wulan langsung menoleh. “Kalau yakin pernikahan bisa menyelamatkan desa, kenapa bukan anak Ibu?”

Perempuan itu memeluk putrinya yang masih kecil.

“Anakku belum cukup umur.”

“Adiknya.”

“Wulan,” tegur seseorang.

“Apa?” Wulan mengangkat dagu. “Mereka mudah sekali bicara soal pengantin selama bukan keluarga sendiri.”

Kerumunan kembali gaduh.

Marto mengetukkan tongkat pada lantai balai.

“Cukup!”

Lonceng tua di atas serambi bergerak pelan.

Semua orang seketika diam.

Marto memandang Sekar. “Pulanglah bersama ayahmu. Kami akan datang setelah ini.”

“Kami siapa?”

“Para tetua.”

“Untuk meminta persetujuan atau menyampaikan keputusan?”

Marto tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Sekar menoleh kepada Prawoto. Wajah ayahnya semakin pucat. Lelaki itu tidak tampak terkejut, hanya takut.

“Bapak sudah tahu?” tanya Sekar.

Prawoto membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Sekar mundur satu langkah.

“Sejak kapan?”

“Bukan di sini,” kata Prawoto.

“Berarti Bapak tahu.”

Wulan mencoba mendekat, tetapi Sri muncul dari barisan belakang dan memegang bahu Sekar.

“Kita pulang,” katanya.

Sekar menepis tangannya.

Sri mendengus. “Jangan membuat keadaan makin sulit.”

“Sulit bagi siapa?”

“Bagi semua orang.”

“Kalian selalu mengatakan semua orang saat yang dikorbankan hanya satu.”

Kata terakhir itu membuat Nyai Sumirah mengangkat kepala.

Tatapan perempuan tua itu tajam, tetapi ada sesuatu di baliknya. Bukan marah.

Takut.

“Jangan sembarangan memakai kata korban,” katanya.

“Lalu kata apa yang lebih pantas?”

Nyai Sumirah tidak menjawab.

Dari sisi lapangan terdengar seorang pasien merintih. Bercak hitam telah naik sampai ke pipinya. Keluarganya mulai menangis, dan perhatian warga segera berpindah.

Prawoto memanfaatkan keadaan itu untuk menarik Sekar keluar dari kerumunan.

Kali ini Sekar tidak melawan.

Ia berjalan dengan dada penuh kemarahan yang belum menemukan tempat untuk meledak.

Wulan mengikuti sampai jalan depan balai.

“Aku ikut ke rumahmu,” katanya.

Sri menghadang. “Ini urusan keluarga.”

“Sekar juga keluargaku.”

“Sejak kapan?”

“Sejak keluarganya sendiri berhenti membelanya.”

Prawoto berhenti.

Wulan tampak hendak melanjutkan, tetapi Sekar menggeleng.

“Pulanglah dulu.”

“Sekar—”

“Aku perlu tahu apa yang mereka rencanakan. Nanti cari aku.”

Wulan menatap Sri, lalu Prawoto. “Aku akan datang sebelum siang.”

Sri mendecakkan lidah.

Wulan mengabaikannya dan berjalan pergi.

Perjalanan pulang berlangsung dalam diam.

Warga yang tidak datang ke balai berdiri di pinggir jalan. Mereka berbisik ketika Sekar lewat. Kata-kata seperti wabah, perjanjian, dan pengantin terdengar berkali-kali.

Sekar sengaja memperlambat langkah.

Ia ingin mendengar.

“Katanya garis ibunya.”

“Memang sudah ditandai.”

“Kalau tidak dilakukan, malam ini bisa lebih banyak yang mati.”

“Kasihan juga.”

“Kasihan bagaimana? Dia menyelamatkan satu desa.”

Sekar berhenti dan menoleh kepada dua perempuan yang sedang berbisik di halaman.

Keduanya segera masuk rumah.

Sri menarik lengannya. “Jangan mencari masalah.”

“Aku sedang mencari jawaban.”

“Jawaban tidak akan mengubah apa pun.”

“Kalau begitu kenapa kalian takut memberikannya?”

Sri mempercepat langkah.

Saat mereka tiba di rumah, Slamet sedang duduk di ruang depan dengan selimut menutupi bahu. Wajahnya pucat dan berkeringat. Di sampingnya terdapat semangkuk air yang permukaannya dipenuhi serpihan daun.

Sekar segera berlutut.

“Kau demam?”

“Sedikit.”

“Sejak kapan?”

“Tadi waktu kalian pergi.”

Sekar menyentuh dahinya.

Panas.

Tidak setinggi anak Pak Somad, tetapi cukup membuat tengkuk Sekar menegang.

Ia menarik lengan baju Slamet hingga ke siku. Sebuah garis hitam tipis tampak melingkari pergelangan tangannya.

“Ini apa?”

Slamet ikut melihat. “Tadi belum ada.”

Lihat selengkapnya