BAB 3
Wajah di Bawah Obor
Beberapa saat sebelum rombongan Wisanggeni berhenti di gerbang, matahari belum benar-benar tenggelam. Suara gamelan mulai terdengar dari halaman rumah Sekar.
Tabuhannya pelan dan tidak utuh. Hanya kendang, gong kecil, serta satu saron yang beberapa kali salah nada. Tidak ada penabuh yang berani saling menegur. Mereka memainkan irama pernikahan seperti orang mengiringi jenazah menuju pemakaman.
Sekar duduk di depan cermin tua milik Retno.
Bayangan di permukaannya tampak asing.
Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya telah diberi bedak beras terlalu tebal oleh Sri. Kebaya putih yang ia kenakan pernah menjadi milik ibunya, meskipun bagian pinggang telah dirombak agar pas di tubuhnya.
Kain itu masih menyimpan aroma lemari dan akar wangi.
Aroma yang mengingatkan Sekar pada masa ketika ibunya masih hidup.
Malam itu, kebaya itu tidak membuatnya merasa dekat dengan Retno. Pakaian itu justru terasa seperti bukti bahwa keluarganya telah menyiapkan dirinya untuk sesuatu yang tidak pernah dijelaskan.
Sri berdiri di belakang sambil merapikan ujung sanggul.
“Jangan menunduk terus,” katanya. “Pengantin harus kelihatan pantas.”
Sekar menatap bayangan bibinya melalui cermin.
“Pantas menurut siapa?”
“Tamu.”
“Orang-orang yang datang untuk melihat aku diserahkan?”
Tangan Sri sempat berhenti, lalu kembali menyelipkan tusuk konde.
“Jaga ucapanmu.”
“Aku sudah menjaga ucapan sejak siang. Tetap saja pernikahan ini berlangsung.”
“Karena memang harus berlangsung.”
“Karena Bibi dan orang-orang di balai memutuskan begitu.”
Sri mendengus kecil.
“Kalau pernikahan ini bisa menyelamatkan Slamet, seharusnya kamu tidak banyak mengeluh.”
Nama adiknya kembali dipakai seperti tali yang dililitkan ke leher Sekar.
Sejak pertemuan di balai desa, Slamet demam. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Prawoto kehilangan keberanian terakhirnya. Sri membawa daftar utang keluarga, surat rumah yang masih menjadi jaminan, dan ancaman bahwa nama Slamet akan dimasukkan sebagai penanggung bila Sekar menolak.
Sekar telah mencoba mencari jalan keluar.
Ia mendatangi rumah Kepala Desa Marto dan meminta waktu hingga besok pagi. Ditolak.
Ia meminta pernikahan dilakukan setelah keluarga calon suami menjelaskan syaratnya. Ditolak.
Ia bahkan mencoba memakai alasan bahwa penghulu adat tidak boleh menikahkan seseorang tanpa persetujuan dari calon pengantin.
Marto hanya menjawab bahwa dalam keadaan darurat, keselamatan desa berada di atas kehendak satu orang.
Tidak seorang pun menganggap aneh ketika keselamatan ratusan orang selalu berakhir dengan tubuh seorang perempuan.
“Kalau Slamet tetap sakit setelah aku menikah, apa yang akan Bibi katakan?” tanya Sekar.
Sri mengencangkan tusuk konde hingga kulit kepalanya terasa tertarik.
“Jangan mendahului nasib.”
“Nasibku sudah didahului semua orang sejak siang.”
Pintu kamar terbuka.
Wulan masuk membawa mangkuk kecil berisi air dan selembar kain. Napasnya terengah, seakan baru saja berlari.
“Aku perlu bicara dengan Sekar,” katanya.
Sri menatapnya curiga. “Tentang apa?”
“Soal perempuan.”
“Perempuan apa?”
“Kalau saya jelaskan, berarti Bibi juga ikut dalam pembicaraan perempuan.”
Sri tidak tampak terhibur.
Wulan memasang wajah polos. “Saya cuma mau membantu Sekar membetulkan riasannya. Bedaknya seperti tembok balai desa habis dikapur.”
Sekar hampir tertawa.
Sri menatap wajah Sekar melalui cermin, lalu menghapus sedikit bedak dari pipinya dengan ujung jari.
“Lima menit,” katanya sebelum keluar.
Begitu pintu tertutup, Wulan mengunci dari dalam.
“Aku mencoba masuk dari dapur,” katanya pelan. “Bima menjaga pintu belakang.”
“Siapa Bima?”
“Orang dari keluarga calon suamimu. Tinggi, wajah datar, bicara seperti peti mati diberi lidah.”
“Informasi yang menenangkan.”
“Aku berusaha.”
Wulan berlutut di depan Sekar.
“Aku sudah cari Danang. Dia tidak ada di rumah.”
“Jangan libatkan dia.”
“Dia satu-satunya yang mungkin punya keberanian membawamu pergi.”
“Lalu seluruh desa mengejar kami.”
“Setidaknya kau punya kesempatan.”
Sekar memandang pintu.
Sesaat, keinginan untuk melarikan diri kembali muncul. Ia bisa melepas kebaya, keluar lewat jendela, kemudian menyusuri kebun belakang menuju jalan sungai.
Tetapi wajah Slamet terbayang di kepalanya.
Adiknya terbaring dengan tubuh panas, sementara cap hitam yang sama seperti lambang pada surat persetujuan muncul samar di pergelangan tangannya.
Sekar tidak percaya pernikahan ini dapat menyembuhkan siapa pun.
Ia juga tidak berani mengambil risiko. Bagaimana kalau orang-orang desa memang bisa memindahkan wabah itu kepada Slamet?
“Aku tidak bisa pergi sebelum tahu apa yang mereka lakukan kepada adikku,” katanya.
Wulan menggenggam tangannya. “Mereka memakai Slamet untuk membuatmu menurut.”
“Aku tahu.”
“Itu bukan alasan untuk menyerahkan diri.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa kau masih duduk di sini?”
Sekar diam sejenak.
Tak ada satu pun jalan yang benar-benar terbuka.
Ayahnya telah menandatangani persetujuan. Kepala desa mengerahkan warga untuk menjaga seluruh jalan keluar. Di luar sana, orang-orang sakit percaya pernikahan ini satu-satunya cara menyelamatkan keluarga mereka.
Kalau Sekar lari, mereka tidak akan melihatnya sebagai perempuan yang menyelamatkan diri.
Mereka akan menganggapnya penyebab kematian berikutnya.
“Aku akan masuk ke pernikahan ini,” katanya. “Tapi aku tidak akan berhenti mencari tahu.”
Wulan menggeleng. “Kau bahkan tidak tahu siapa lelaki yang akan menikahimu.”
“Itu yang pertama akan kucari tahu.”
“Sekar.”
“Aku tidak bilang aku menerima semuanya.”
Sekar menggenggam tangan sahabatnya lebih erat.
“Aku hanya belum menemukan tempat untuk melawan.”
Gong dipukul dari halaman.
Tiga kali.
Wulan menoleh ke pintu.
“Dia sudah datang.”