Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #5

BAB 4 Rumah di Tepi Hutan

Tinta pada lembar pernikahan berhenti bergerak sebelum mencapai kalimat paling bawah.

Seolah sesuatu di dalam kertas berubah pikiran.

Nama Bagus Wisanggeni masih tertulis hitam, lebih pekat daripada tulisan lain. Akar-akar tinta yang sempat menjalar perlahan menyusut kembali, meninggalkan noda tipis di pinggir halaman.

Kepala Desa Marto buru-buru menutup kitab.

“Upacara selesai,” katanya.

Tak seorang pun membantah.

Warga yang memenuhi halaman mulai mundur tanpa menunggu makanan atau doa penutup. Para penabuh gamelan membereskan alat mereka dengan tergesa. Saron sempat terjatuh dan mengeluarkan dentang keras, membuat beberapa orang menjerit kecil.

Mereka malu setelah sadar sumber bunyinya.

Tak ada yang tertawa.

Sekar berdiri di samping meja dengan kedua tangan dingin. Benang putih di pergelangannya telah dilepas, tetapi bekas ikatannya masih terlihat. Wisanggeni berdiri dua langkah darinya, berbicara pelan dengan Bima.

Sekar hanya menangkap potongan kalimat.

“…sudah menulis sendiri.”

“Seharusnya belum.”

“Aku juga melihat.”

Bima menoleh kepada Sekar.

Percakapan langsung berhenti.

Wulan mendekat dan menggenggam tangan Sekar.

“Aku ikut mengantarmu.”

Sri yang sedang mengumpulkan baki sesaji mendengus.

“Pengantin baru tidak perlu diantar sahabat sampai kamar.”

“Siapa bilang sampai kamar?” balas Wulan. “Saya cuma mau memastikan rumahnya benar-benar ada. Dari cerita orang, saya kira Wisanggeni tinggal di bawah akar beringin.”

Bima memandang Wulan tanpa ekspresi.

“Rumah kami punya atap.”

“Syukurlah.”

“Dan pintu.”

“Lebih meyakinkan lagi.”

Sekar nyaris tersenyum, tetapi wajah Prawoto yang berdiri tak jauh darinya menghapus keinginan itu.

Ayahnya tidak berani mendekat.

Sejak kitab tertutup, ia hanya berdiri sambil meremas ujung bajunya. Slamet tidak tampak di antara warga. Demamnya memang turun setelah pernikahan dinyatakan sah, tetapi Sekar belum sempat memeriksa keadaannya.

Ia berjalan menuju ayahnya.

“Bagaimana Slamet?”

“Sudah tidur.”

“Bercak di tangannya?”

“Memudar.”

Jawaban itu seharusnya melegakan.

Sekar justru merasa seperti baru mendapat bukti bahwa tubuhnya telah dipakai untuk memindahkan sesuatu.

“Aku ingin melihatnya sebelum pergi.”

Prawoto menggeleng.

“Jangan. Dia baru bisa beristirahat.”

“Dia adikku.”

“Ayah tahu.”

“Kalau begitu, izinkan aku masuk.”

Prawoto menatap Wisanggeni di belakang Sekar, kemudian menurunkan suara.

“Rombongan suamimu harus berangkat sebelum malam terlalu larut.”

“Suamiku?”

Sekar mengucapkan kata itu dengan getir.

Prawoto memejamkan mata sebentar.

“Ayah tidak punya pilihan.”

“Ayah selalu punya pilihan. Hanya saja hari ini bukan aku yang Ayah pilih.”

Wajah lelaki itu menegang seperti baru ditampar.

Sekar menunggu permintaan maaf.

Sekali lagi tidak ada.

Ia mundur.

“Jaga Slamet.”

“Sekar—”

“Setidaknya jangan sampai semua ini sia-sia.”

Sekar berbalik sebelum ayahnya melihat air yang mulai memenuhi matanya.

Wulan ingin mengikutinya, tetapi Sri meraih lengan perempuan itu.

“Kamu pulang.”

“Saya sudah bilang mau mengantar.”

“Tidak perlu.”

Wulan menepis tangan Sri.

“Saya bertanya kepada Sekar, bukan kepada Bibi.”

Sekar memandang sahabatnya. Ia ingin sekali meminta Wulan ikut, tetapi dua lelaki dari rombongan Wisanggeni berdiri dekat gerbang. Jalan menuju rumah suaminya pasti tidak singkat. Mengajak Wulan berarti melibatkan sahabatnya lebih jauh dalam sesuatu yang belum ia pahami.

“Pulanglah,” kata Sekar.

Wulan mengerutkan kening.

“Kau yakin?”

“Tidak.”

“Jawaban yang sangat menenangkan.”

“Tapi kau tetap harus pulang.”

Wulan memeluknya tiba-tiba.

Sekar membeku sesaat, lalu membalas pelukan itu.

“Kalau mereka macam-macam,” bisik Wulan, “teriak sekeras mungkin.”

“Rumahnya di tepi hutan.”

“Kalau begitu teriak lebih keras.”

Bima yang berdiri beberapa langkah dari mereka berkata datar,

“Hutan biasanya mengembalikan suara.”

Wulan melepaskan pelukan.

“Itu peringatan atau usaha menghibur?”

“Informasi.”

Wisanggeni mengembuskan napas pelan.

“Bima.”

“Apa?”

“Diam.”

Bima mengangguk.

“Baik.”

Untuk pertama kalinya sejak upacara dimulai, sudut bibir Sekar bergerak.

Hanya sedikit.

Rombongan berangkat setelah obor dinyalakan kembali.

Sekar duduk di dalam pedati kecil bersama Wisanggeni. Bima mengendalikan sapi di depan, sedangkan empat lelaki lain berjalan mengiringi dari belakang. Tidak ada anggota keluarga Sekar yang ikut.

Pedati meninggalkan rumah saat langit berubah gelap.

Jalan desa masih dipenuhi warga yang berdiri di depan pagar. Beberapa menunduk saat Sekar lewat. Ada yang menyentuhkan tangan ke dada seperti sedang berterima kasih, tetapi tak seorang pun mengucapkan apa pun.

Sekar lebih membenci tatapan mereka daripada makian.

Mereka melihatnya sebagai obat.

Bukan sebagai manusia.

“Tidak semua dari mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” kata Wisanggeni.

Sekar menoleh.

Lihat selengkapnya