Sekar berdiri di ambang kamar tanpa mampu bergerak.
Lelaki di halaman masih berada di bawah pohon beringin. Cahaya dari lampu lorong tidak sampai ke wajahnya, tetapi luka di pelipis kiri tampak jelas.
Luka yang sama dengan milik Wisanggeni.
Pakaiannya pun sama.
Cara berdirinya berbeda.
Wisanggeni selalu menjaga tubuhnya tegak, seolah setiap gerakan telah dipikirkan. Lelaki di halaman membungkuk dengan bahu tidak seimbang. Kepalanya miring terlalu jauh ke kanan.
Seperti seseorang yang sedang mencoba memakai tubuh yang bukan sepenuhnya miliknya.
“Retno,” panggilnya lagi.
Nama itu membuat Sekar melangkah keluar kamar.
Ia berhenti setelah dua langkah.
Aturan Bima teringat.
Jangan membuka jendela bila ada orang mengetuk dari luar, terutama kalau suaranya dikenal.
Tidak ada aturan tentang seseorang yang berdiri di halaman dan menyebut nama ibunya.
Sekar mengambil lampu minyak dari dinding.
“Siapa kau?”
Sosok itu tidak menjawab.
Tangannya terangkat perlahan, menunjuk ke sisi belakang rumah.
Ke arah hutan.
Dari balik pepohonan terdengar suara perempuan menangis.
Pelan.
Jauh.
Sekar mengenal iramanya.
Ibunya sering menangis seperti itu pada malam-malam terakhir sebelum meninggal—menahan suara agar Prawoto dan Slamet tidak terbangun.
“Retno?” panggil Sekar tanpa sadar.
Tangisan dari hutan berhenti.
Lelaki di halaman mengangkat kepala lebih tinggi.
“Dia mendengar.”
Sekar mencengkeram gagang lampu.
“Kau mengenal ibuku?”
Sosok itu mundur satu langkah menuju jalan setapak di samping rumah.
Sekar mengikutinya.
Ia tahu seharusnya memanggil Wisanggeni atau Bima. Ia juga tahu meninggalkan kamar pada malam pertama di rumah asing bukan keputusan yang masuk akal.
Selama bertahun-tahun, kematian Retno selalu dikelilingi jawaban yang tidak selesai.
Prawoto mengatakan ibunya meninggal karena sakit.
Bu Tini menyebut tubuh Retno terlalu cepat melemah.
Sri selalu menyuruh Sekar berhenti bertanya.
Sekarang seorang lelaki dengan luka seperti Wisanggeni berdiri di halaman dan menyebut nama ibunya seolah mereka pernah saling mengenal.
Sekar tidak akan membiarkannya pergi.
Ia turun dari serambi.
Rumput di halaman basah meski malam tidak hujan. Tanah dingin menembus telapak kakinya. Sekar baru menyadari dirinya belum memakai sandal.
Sosok itu bergerak menuju sisi rumah.
Tidak cepat.
Seperti sengaja menunggunya.
“Berhenti,” kata Sekar.
Lelaki itu berhenti dekat pagar rendah yang memisahkan halaman dengan jalan menuju hutan.
Sekar mendekat hingga cahaya lampu menyentuh sebagian wajahnya.
Napasnya tercekat.
Wajah itu memang menyerupai Wisanggeni.
Bentuk rahang, hidung, dan luka di pelipisnya sama. Kulitnya jauh lebih pucat. Di bawah matanya terdapat retakan hitam seperti arang. Bibirnya hampir tidak berwarna.
“Apa kau Wisanggeni?”
Sosok itu tersenyum.
Bukan senyum ramah.
Bukan pula senyum orang yang sedang mengancam.
Lebih seperti seseorang yang baru mendengar pertanyaan lama diulang untuk kesekian kali.
“Nama itu belum sepenuhnya menjadi miliknya.”
Sekar menahan napas.
“Siapa kau?”
“Orang yang mengingat.”
“Mengingat apa?”
Lelaki itu memandang hutan.
Tangisan perempuan kembali terdengar.
Sekarang lebih dekat.
“Nama yang mereka buang.”
Sekar ingin bertanya lagi, tetapi suara perempuan dari hutan memanggilnya.
“Sekar…”
Ia membeku.
Suara itu milik Retno.
Tidak mungkin salah.
Sekar telah berusaha mengingat suara ibunya selama bertahun-tahun. Nada lembutnya saat membangunkan anak-anak. Cara suaranya meninggi ketika memanggil Prawoto. Bisikannya saat menyanyikan tembang sebelum tidur.
Suara dari hutan memiliki semuanya.
“Sekar, kemarilah…”
Kaki Sekar bergerak melewati lelaki gelap.
Satu langkah.
Sosok itu meraih lengannya.
Sentuhannya sedingin air sumur.
Sekar terkejut dan mengayunkan lampu. Api hampir menyambar pakaian lelaki itu, tetapi ia tidak melepaskan pegangan.
“Jangan melewati batas.”
“Lepaskan aku!”
“Bukan ibumu yang memanggil.”
“Itu suaranya.”
“Suara bisa dipakai siapa saja.”
Sekar berusaha menarik lengan. Pegangannya tidak terlalu keras, tetapi mustahil dilepaskan.
“Kenapa kau peduli?”
Lelaki itu memandang telapak tangan Sekar.
Noda hitam yang sempat hilang kembali muncul samar di sana.
“Karena dia pernah berdiri di tempatmu.”
Sekar berhenti meronta.
“Apa maksudmu?”
Tangisan dari hutan berubah.
Suara Retno masih terdengar, tetapi di bawahnya muncul suara lain. Lebih berat. Lebih banyak suara. Seperti puluhan orang berbisik dengan mulut yang sama.
“Sekar…”
Lelaki gelap menariknya mundur tepat ketika sesuatu bergerak di balik pepohonan.
Sekilas, Sekar melihat kain putih melintas di antara batang pohon.
Lalu wajah seorang perempuan.
Wajahnya tertutup rambut panjang, tetapi mulutnya terlihat jelas. Terlalu lebar. Terbuka sampai ke rahang.
Lampu di tangan Sekar padam.
Dalam kegelapan, sosok di hutan menjerit.