Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #7

BAB 6 Larangan Saat Purnama

Sekar tidak tidur sampai ayam pertama berkokok.

Setiap kali memejamkan mata, ia mendengar kembali suara goresan dari balik dinding. Pelan, teratur, seperti seseorang sedang menulis dengan paku.

Suara itu baru berhenti menjelang subuh.

Sekar duduk di tepi dipan sambil memandangi pintu penghubung menuju kamar Wisanggeni. Kuncinya masih terpasang dari dalam. Ia telah memeriksanya tiga kali sepanjang malam.

Tidak ada yang masuk.

Setidaknya tidak melalui pintu.

Ia menunduk melihat telapak tangan kirinya. Noda hitam yang muncul di halaman semalam sudah hilang. Bekas jari pucat dari sentuhan lelaki gelap masih tampak samar di lengannya.

Sekar mengusapnya.

Dingin.

Seolah bekas itu tidak berada di kulit, melainkan jauh di bawahnya.

Dari luar kamar terdengar bunyi baki diletakkan di lantai.

“Sudah pagi,” kata Bima.

Sekar tidak menjawab.

“Kalau Anda masih hidup, sarapan ada di depan pintu.”

Sekar menahan napas.

“Kalau aku tidak hidup?”

“Berarti makanan ini kembali ke dapur.”

Ia membuka kunci, lalu menarik pintu sedikit.

Bima berdiri di lorong dengan wajah datar. Di lantai terdapat nasi hangat, sayur bening, telur rebus, dan teh yang masih mengeluarkan uap.

Sekar memandangnya curiga. “Kau tidak masuk?”

“Tidak diperbolehkan.”

“Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang memahami pintu.”

“Saya lebih memahami kunci.”

Sekar membuka pintu lebih lebar. “Semalam kau tahu aku keluar?”

“Saya melihat tanah di kaki Anda.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Bima memperhatikan bekas jari pada lengan Sekar. “Saya tahu setelah Kang Wisnu membangunkan saya tadi malam.”

“Kang Wisnu?”

“Wisanggeni.”

“Kenapa kau memanggilnya begitu?”

“Karena namanya terlalu panjang untuk dipakai berulang kali.”

Sekar mengingat larangan malam sebelumnya.

Jangan sebut nama lengkapku setelah tengah malam.

“Dan karena berbahaya?”

Bima mengangkat baki, lalu menyerahkannya.

“Kalau berbahaya, saya biasanya tidak suka menyebut namanya terlalu sering.”

Sekar menerima baki.

“Di mana Wisanggeni?”

“Di belakang.”

“Melakukan apa?”

“Berusaha tidak merusak sumur.”

Sekar mengerutkan kening. “Kenapa dia merusak sumur?”

“Dia tidak mau merusaknya. Tangannya saja kadang kebablasan.”

Bima berjalan pergi.

Setiap bicara dengan lelaki itu, pertanyaan Sekar malah bertambah. Anehnya, rasa kesalnya tidak pernah bertahan lama.

Ia meletakkan sarapan di meja tanpa menyentuhnya. Setelah mencuci muka dan mengganti kebaya dengan pakaian yang lebih sederhana, Sekar keluar menuju halaman belakang.

Pagi baru saja naik.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Di dekat sumur, Wisanggeni berdiri membelakanginya. Lengan bajunya digulung sampai siku. Kedua tangannya mencengkeram bibir sumur batu.

Retakan tipis membelah bibir sumur.

Langkah Sekar terhenti.

Wisanggeni melepaskan tangannya. Retakan itu berhenti memanjang.

“Kau mengikutiku?” tanyanya tanpa menoleh.

“Aku berjalan di rumah tempat aku dipaksa tinggal.”

“Kau tetap perlu berhati-hati.”

“Kalimat itu semakin lama semakin terdengar seperti ancaman.”

Wisanggeni berbalik.

Wajahnya terlihat lebih pucat daripada semalam. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Luka di pelipis kirinya sudah mengering, garisnya tampak lebih panjang.

“Kau tidak tidur,” katanya.

“Begitu juga kau.”

“Aku tidak terbiasa tidur lama.”

“Karena suara orang menggores dinding?”

Ia terdiam.

Reaksi kecil itu cukup.

“Jadi kau mendengarnya juga.”

“Rumah ini kadang berbunyi.”

“Dinding tidak menulis nama sendiri.”

“Siapa bilang ada yang menulis?”

Sekar melangkah lebih dekat.

“Karena aku bisa membedakan suara tikus dengan orang yang menggores kayu.”

“Bima sering salah membedakan.”

“Bima menganggap dirinya benda paling normal di rumah ini.”

“Dia juga salah soal itu.”

Sekar hampir tersenyum, lalu teringat alasan ia keluar.

Ia berdiri beberapa langkah dari Wisanggeni.

“Aku mau jawaban.”

Wisanggeni mengangkat kepala. “Satu?”

Lihat selengkapnya