Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #8

BAB 7 Nasihat yang Berbau Ancaman

Pegangan Nyai Sumirah terasa lebih kuat daripada tubuhnya yang kurus.

Sekar mencoba menarik tangannya, tetapi perempuan tua itu menekan telapak tangannya semakin keras.

“Lepaskan.”

“Diam.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Kalau kau terus mengikuti suara orang mati, lama-lama kau juga ikut mereka.”

Ruangan mendadak sunyi.

Sekar berhenti meronta.

“Apa Nyai melihatku semalam?”

Nyai Sumirah tidak menjawab.

Wisanggeni berdiri tidak jauh dari mereka. Wajahnya menegang. Bima, yang tadi membawa sapu, berhenti di dekat pintu seperti sedang menonton pertunjukan yang tidak disukainya.

“Aku bertanya,” kata Sekar. “Bagaimana Nyai tahu aku keluar?”

Nyai Sumirah melepaskan tangannya.

Tulisan hitam di telapak Sekar memudar, tetapi panasnya masih tertinggal.

“Kau menginjak tanah di luar batas.”

“Bima juga melihat tanah di kakiku.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

Perempuan tua itu membuka bungkusan kain hitam yang dibawanya. Di dalamnya terdapat semangkuk kecil abu, seikat daun kering, dan seutas benang putih.

“Duduk.”

“Aku lebih suka berdiri.”

“Ya sudah, berdiri saja.”

Sekar menyilangkan tangan. “Ancaman Nyai makin bagus saja.”

Bima berkata datar, “Kelihatannya begitu.”

Nyai Sumirah menoleh kepadanya.

Bima kembali menyapu lantai yang sebenarnya sudah bersih.

Sekar duduk di kursi dekat meja.

Nyai Sumirah menarik bangku pendek dan duduk di depannya. Ia meraih pergelangan tangan kiri Sekar, lalu membaliknya.

Di sisi dalam pergelangan terdapat tanda lahir kecil yang selama ini Sekar anggap hanya bercak biasa. Bentuknya tidak teratur, seperti dua garis melingkar yang tidak selesai.

Nyai Sumirah menekan bagian tengahnya dengan ibu jari.

Rasa sakit menyambar sampai siku.

Sekar refleks menarik napas.

“Apa yang Nyai lakukan?”

“Memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Tanda ini belum seharusnya aktif.”

“Terbuka bagaimana?”

Nyai Sumirah menekan lebih keras.

Bercak cokelat itu berubah warna.

Hitam pekat menjalar dari tengahnya, membentuk setengah lingkaran dengan guratan kecil menyerupai aksara. Bentuknya sama dengan cap yang muncul dari sidik jari Prawoto pada surat persetujuan.

Sekar menatapnya.

“Kenapa tanda di tubuhku sama dengan cap keluarga?”

“Itu bukan cap keluarga.”

Suara Wisanggeni terdengar dari belakang.

Nyai Sumirah segera menoleh. “Diam.”

“Kau tidak berhak datang lalu memerintah semua orang di rumah ini,” kata Wisanggeni.

“Aku datang karena istrimu mengaktifkan batas yang sudah tidur bertahun-tahun.”

“Aku bukan benda yang diaktifkan,” balas Sekar.

Keduanya menatapnya.

Sekar menarik pergelangannya dari tangan Nyai Sumirah.

“Sekarang jelaskan.”

Nyai Sumirah merapikan bungkusan kainnya. “Tanda itu muncul mendekati purnama.”

“Kenapa?”

“Tubuhmu gampang bereaksi pada perjanjian.”

“Perjanjian apa?”

“Pernikahanmu.”

Sekar tertawa hambar. “Tetap saja tidak masuk akal.”

Nyai Sumirah menatap Wisanggeni. “Kau belum menjelaskan apa pun?”

“Aku menjelaskan yang perlu.”

“Berarti hampir tidak ada,” kata Sekar.

Bima mengangkat sapu sedikit. “Kurang lebih.”

Wisanggeni meliriknya.

Bima kembali menyapu.

Nyai Sumirah menghela napas.

“Kau harus berhenti menyelidiki.”

Sekar menatapnya tak percaya. “Nyai datang jauh-jauh hanya untuk mengatakan itu?”

“Aku datang untuk memastikan kau belum membuka sesuatu yang tidak bisa ditutup kembali.”

“Aku bahkan belum tahu apa yang harus dibuka.”

“Bagus.”

“Bagus untuk siapa?”

“Untuk semua orang yang masih ingin hidup.”

Kalimat itu sama seperti yang digunakan Marto, Sri, dan Prawoto.

Keselamatan semua orang.

Harga satu orang.

Sekar berdiri.

“Aku sudah mendengar alasan itu sejak kemarin. Semua orang boleh hidup, asal aku yang disuruh berhenti bertanya.”

Nyai Sumirah ikut berdiri.

“Kau mengira keberanian cukup untuk menghadapi apa yang ada di rumah ini?”

“Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di rumah ini karena kalian menutup mulut.”

“Ada kebenaran yang kalau dibuka malah bikin orang celaka.”

“Bohong juga tidak bikin aku aman.”

Lihat selengkapnya