Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #9

BAB 8 Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Kunci tua itu terasa lebih berat daripada ukurannya.

Sekar membolak-baliknya di atas telapak tangan. Batangnya hitam, kasar, dan dingin seperti baru diangkat dari dasar sumur. Pada bagian kepalanya terdapat ukiran dua garis yang saling melingkar—lambang yang sama dengan tanda di pergelangan tangannya.

Dari ujung lorong, rantai kembali bergeser.

Pelan.

Sekar mengangkat kepala.

Pintu terlarang berada di balik dua belokan lorong, tetapi bunyi besinya terdengar jelas dari dalam kamar. Seolah pintu itu sedang menarik napas melalui celah kayu.

Sekar menggenggam kunci.

Nyai Sumirah baru saja memperingatkannya agar tidak mencari pintu yang dikunci.

Beberapa menit kemudian, kunci itu jatuh dari lipatan selendangnya.

Terlalu kebetulan untuk diabaikan.

Ia menyelipkan kunci ke balik ikat pinggang, lalu membuka pintu kamar.

Lorong kosong.

Cahaya siang masuk dari jendela-jendela kayu, membentuk garis panjang di lantai. Dari halaman depan terdengar suara Bima memotong kayu. Wisanggeni tidak terlihat sejak Nyai Sumirah pergi.

Sekar melangkah keluar.

Baru dua langkah, Bima muncul dari arah tangga sambil membawa setumpuk kain bersih.

“Jangan.”

Sekar berhenti. “Aku belum melakukan apa-apa.”

“Itu sebabnya saya mengatakannya sekarang.”

“Kau bahkan tidak tahu aku mau ke mana.”

Bima memandang lorong yang menuju pintu terlarang.

Lalu ia mengalihkan pandangan ke ikat pinggang Sekar.

“Kuncinya muncul?”

Sekar berusaha memasang wajah tenang. “Kunci apa?”

“Kalau mau berbohong, jangan pegang tempat Anda menyembunyikannya.”

Sekar baru sadar tangannya menekan ikat pinggang.

Ia menurunkan tangan.

“Sejak kapan kau tahu kunci itu akan muncul?”

“Sejak pintu mulai berbunyi.”

“Kenapa tidak mengatakannya?”

“Kalau saya bilang ada kunci yang akan mencari Anda, Anda pasti menunggu.”

“Benar.”

“Lalu membukanya lebih cepat.”

Sekar tidak bisa membantah.

Bima melewatinya dan menaruh kain di atas bangku. Setelah itu, ia berdiri tepat di tengah lorong.

Menghalangi jalan.

“Berikan kuncinya.”

“Tidak.”

“Itu bukan milik Anda.”

“Kunci ini jatuh dari pakaianku.”

“Rumah ini sering menyelipkan sesuatu pada orang yang salah.”

“Kalau begitu, pintunya yang harus menjelaskan.”

“Pintu tidak akan menjelaskan. Dibuka saja sudah cukup berbahaya.”

“Bagus.”

“Itu bukan kabar baik.”

Sekar memperhatikannya sejenak.

Bima tidak terlihat marah. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi cara ia berdiri berubah. Bahunya lebih tegang. Kedua kakinya menapak kukuh, siap menahan Sekar jika diperlukan.

Ia benar-benar takut Sekar mendekati pintu itu.

“Kenapa pintu itu dijaga?” tanya Sekar.

“Karena tidak boleh dibuka.”

“Itu bukan jawaban.”

“Maaf. Saya cuma tidak punya jawaban lain.”

“Di baliknya ada apa?”

Bima diam.

Sekar mendekat satu langkah.

“Lelaki semalam menyuruhku mencari dinding yang menyimpan nama.”

“Dia juga hampir membuat Anda berjalan ke hutan.”

“Dia menyelamatkanku.”

“Dia memang menolongmu. Tetap saja bukan berarti dia aman.”

Sekar hampir tersenyum, tetapi Bima tidak sedang bercanda.

“Apakah dinding itu berada di balik pintu?”

Bima diam terlalu lama.

Sekar bergerak ke samping.

Bima ikut bergeser.

“Berikan kuncinya,” katanya lagi.

“Kalau kau ingin aku menyerahkannya, jelaskan apa yang ada di dalam.”

“Tidak.”

“Kalau begitu kita berdiri di sini terus?”

“Saya tidak masalah.”

“Aku bisa capek berdiri.”

Bima memiringkan kepala. “Itu masalah Anda.”

Sekar hampir mendengus.

Dari halaman terdengar kapak membelah kayu.

Sekar melirik ke arah suara. Bima ikut menoleh sebentar.

Itu cukup.

Sekar berbalik dan berlari.

“Sekar.”

Ia melewati tikungan pertama.

Langkah Bima segera menyusul.

Sekar mengangkat ujung kain agar tidak tersandung, lalu berbelok menuju ujung lorong. Pintu terlarang sudah terlihat. Gembok besar bergoyang pelan, meskipun tidak ada yang menyentuhnya.

Rantainya berdenting.

Bima hampir meraih bahunya.

Sekar membuka pintu kecil di samping lorong dan masuk.

Ia baru sadar ruangan itu gudang sapu ketika bau debu menyerang hidungnya.

“Pilihan yang buruk,” kata Bima dari luar.

Sekar menahan pintu dengan tubuh. “Aku tidak sedang memilih tempat tinggal.”

Bima mendorong.

Sekar tahu tenaganya tidak akan cukup. Ia menoleh cepat dan menemukan pintu sempit lain di bagian belakang gudang. Pintu itu hanya setinggi bahu dan hampir tertutup tumpukan keranjang.

Ia mendorong keranjang ke samping, membuka pintu kecil, lalu merangkak keluar.

Sekar muncul di lorong sisi lain.

Bima masih mendorong pintu utama gudang.

Saat Bima menyadari Sekar keluar lewat jalan belakang, Sekar sudah berdiri di depan gembok.

“Kunci itu tidak akan membukanya,” katanya.

Sekar mengeluarkan kunci.

“Bagus. Kita buktikan.”

Ia memasukkan ujung kunci ke lubang gembok.

Pas.

Bima berhenti tiga langkah di belakangnya.

Sekar menoleh. “Katamu tidak akan membuka.”

“Saya bilang tidak akan membukanya.”

“Bedanya?”

“Yang terbuka belum tentu pintunya.”

Sekar memutar kunci.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba ke arah sebaliknya.

Masih tidak bergerak.

Bima mengembuskan napas, tetapi belum tampak lega.

Lihat selengkapnya