Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #10

BAB 9 Kabar Desa dan Suami yang Menghilang

Suara goresan di balik pintu terlarang berhenti setelah menyelesaikan nama Sekar.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Bima berdiri dengan satu tangan menggenggam gagang golok. Wisanggeni berada di depan Sekar, seolah tubuhnya dapat menjadi dinding tambahan jika pintu itu terbuka. Dari balik kayu hanya terdengar bunyi pelan seperti kuku ditarik menjauh.

Sekar menatap gembok.

“Namaku benar-benar ditulis?”

“Masuk ke kamar,” kata Wisanggeni.

“Aku bertanya.”

“Bima.”

Penjaga rumah itu segera mencabut kunci tua dari saku. Ia memasukkannya ke gembok, lalu memutarnya.

Rantai mengencang sendiri.

Bima menariknya dua kali untuk memastikan.

“Sudah tertutup.”

“Namaku tetap ada di dalam,” kata Sekar.

“Belum tentu orang yang punya nama itu ada.”

Sekar mengangkat wajah. “Itu seharusnya membuatku tenang?”

“Tidak. Saya cuma bilang begitu.”

Wisanggeni berbalik. Wajahnya masih pucat, tetapi retakan hitam yang sempat muncul di tangannya telah menghilang.

“Tidak ada yang membuka pintu itu lagi.”

Sekar mengangkat dagu. “Kalau kalian menjelaskan isinya, mungkin aku tidak perlu membukanya.”

“Yang kaulihat di dalam belum tentu mengatakan kebenaran.”

“Tapi nama Retno ada di sana.”

“Ada banyak nama.”

“Dia ibuku.”

“Aku tahu.”

Jawabannya terlalu cepat.

Sekar mendekat satu langkah. “Seberapa banyak yang kauketahui tentang dia?”

Wisanggeni mengarahkan pandangan ke pintu terlarang.

“Tidak cukup.”

“Kau selalu tahu cukup banyak untuk melarang, tetapi tidak pernah cukup untuk menjelaskan.”

“Aku tetap bisa melarang meski ingatanku tidak lengkap.”

“Jawaban yang nyaman.”

“Bukan untukku.”

Nada suaranya membuat Sekar terdiam sesaat.

Bukan karena kasihan.

Baru saat itu Sekar mulai percaya bahwa hilangnya ingatan Wisanggeni mungkin bukan alasan yang dibuat-buat. Lelaki itu benar-benar hidup di antara potongan kejadian yang tak dapat ia susun sendiri.

Itu tidak membuat Sekar merasa lebih aman.

“Kalau ada sesuatu terjadi karena pintu itu dibuka,” kata Wisanggeni, “jangan berjalan sendiri.”

“Aku tidak berniat mengikuti suara dari hutan lagi.”

“Itu bukan jawaban.”

Sekar hampir membalas bahwa ia tidak berkewajiban memberi jawaban kepada orang yang tidak pernah memberikan miliknya. Akan tetapi, tatapan Wisanggeni tertuju pada pergelangan tangannya.

Tanda hitam di sana masih terlihat samar.

Sekar menutupnya dengan ujung lengan.

“Aku akan berhati-hati.”

Wisanggeni mengangguk.

Itu bukan kesepakatan. Hanya dua orang yang sama-sama menyadari mereka tidak mempunyai pilihan yang lebih baik.

Sekar kembali ke kamar menjelang sore.

Ia menunggu suara goresan terdengar lagi, tetapi rumah tetap sunyi hingga malam. Tidak ada panggilan dari balik dinding. Tidak ada ketukan pada jendela.

Justru ketenangan itu membuatnya sulit tidur.

Saat bangun keesokan paginya, matahari sudah naik cukup tinggi.

Sekar membuka pintu kamar dan menemukan Bima sedang menggantung kain di halaman samping.

“Kau membiarkanku tidur sampai siang?”

“Pagi.”

“Mataharinya hampir di atas kepala.”

“Kalau begitu, paginya rajin.”

Sekar memeriksa halaman.

“Di mana Wisanggeni?”

“Keluar.”

“Ke mana?”

Bima menggantung kain lain. “Tempat yang tidak berada di rumah.”

“Kapan pergi?”

“Sesudah subuh.”

“Kenapa?”

“Karena ada urusan.”

“Urusan apa?”

Bima meliriknya. “Saya masih mencoba menghitung berapa banyak yang ingin Anda tanyakan.”

“Semua.”

“Kalau semua ditanya, kita bisa sampai sore.”

Sekar berjalan ke arah pintu depan.

Palang kayu tidak terpasang. Ia membukanya dan mendapati halaman kosong. Pedati tidak ada. Jejak kakinya terlihat sampai dekat pohon beringin, lalu hilang di tanah kering.

“Dia pergi berjalan kaki?”

“Tidak sepenuhnya.”

Sekar menoleh. “Apa maksudnya?”

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya tanpa membuat Anda menanyakan hal lain.”

“Kau sudah membuatku bertanya.”

“Benar. Cepat juga.”

Sebelum Sekar sempat mendesaknya, seseorang memanggil dari gerbang.

“Sekar!”

Wulan berdiri di luar pagar sambil membawa bakul besar. Selendangnya terikat longgar di kepala, wajahnya merah karena berjalan di bawah matahari.

Sekar segera keluar.

“Akhirnya,” kata Wulan. “Aku hampir kira rumah ini benar-benar menelanmu.”

“Belum.”

“Aku tetap tidak yakin.”

Bima berdiri di serambi.

“Siang begini biasanya aman.”

Wulan menatapnya. “Aku tidak ingat pernah bertanya.”

“Saya cuma membantu.”

“Jangan terlalu sering.”

Sekar membukakan pagar.

Wulan masuk sambil memperhatikan rumah dari atap sampai tangga. “Jadi ini tempatnya.”

“Kau melihatnya waktu mengantar rombongan.”

“Aku hanya sampai jalan besar. Dari sana rumah ini terlihat lebih kecil.”

“Sekarang?”

“Lebih besar dan lebih tidak ramah.”

Bima mengambil bakul dari tangan Wulan.

“Apa isinya?”

“Makanan.”

“Untuk siapa?”

“Sekar.”

Bima membuka kain penutup. “Ada dua bungkus nasi.”

“Aku mengira suaminya juga makan.”

“Kadang.”

Wulan menatap Sekar. “Suamimu kadang makan?”

“Jangan tanya aku. Aku baru tinggal dua malam.”

“Sudah dua malam dan kau belum tahu suamimu makan apa?”

“Aku lebih sibuk memastikan dia tidak berubah wajah.”

Bima menutup bakul pelan.

Wulan menatap Sekar beberapa detik.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita perlu bicara tanpa telinga rumah.”

“Rumah punya telinga?” tanya Sekar.

Lihat selengkapnya