Sekar tidak segera menarik tangannya dari dinding gudang.
Kayu itu dingin, tetapi aroma minyak rambut Retno terasa hangat di sekelilingnya. Melati, kemiri, dan pandan. Campuran yang tidak pernah benar-benar ia temukan lagi setelah ibunya meninggal.
Aroma itu tidak berasal dari botol yang tumpah.
Tidak ada noda minyak di lantai atau rak. Tidak ada pakaian lama yang tergantung. Bau itu merembes dari celah di antara papan, seolah sudah tersimpan di ruang tertutup selama bertahun-tahun dan baru keluar ketika Sekar mendekat.
Ia menempelkan telinga ke dinding.
Sunyi.
Benda yang tadi terdengar bergeser tidak bergerak lagi.
Sekar mengetuk papan dengan buku jarinya.
Tok.
Tak ada sahutan.
Ia mengetuk bagian lain.
Kayunya mengeluarkan suara padat. Ketika Sekar mengetuk tepat di dekat celah tempat aroma keluar, bunyinya berbeda.
Lebih dalam.
Berongga.
Ada ruang di balik dinding.
Sekar mundur untuk melihat seluruh permukaan. Dinding itu tersusun dari papan-papan tua yang warnanya hampir sama. Beberapa tertutup debu, sementara bagian dekat lantai dipenuhi bekas air.
Tidak tampak pintu.
Tidak ada engsel maupun pegangan.
“Kalau kau menempelkan wajah lebih dekat, dinding itu tetap tidak akan bicara.”
Suara Bima dari belakang membuat Sekar menoleh cepat.
Lelaki itu berdiri di pintu gudang sambil membawa kendi air dan dua cangkir. Wajahnya datar seperti biasa, tetapi pandangannya berhenti pada tangan Sekar yang masih menyentuh papan.
“Sejak kapan kau di sana?”
“Cukup lama untuk melihat Anda berbicara dengan kayu.”
“Aku tidak berbicara.”
“Berarti belum dekat.”
Sekar menahan diri agar tidak mendengus.
Bima masuk dan meletakkan kendi di atas peti.
“Minumlah.”
“Aku tidak haus.”
“Kalau tidak haus, ngapain lama di sini?”
Sekar mengambil cangkir hanya agar Bima berhenti menyuruhnya. Airnya dingin dan memiliki rasa samar daun pandan.
Aroma Retno kembali memenuhi hidungnya.
Sekar memandang isi cangkir.
“Air ini diberi pandan?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa baunya seperti ini?”
Bima mencium kendi, lalu mengangkat bahu. “Air.”
Sekar meletakkan cangkir.
“Kau tidak mencium minyak rambut?”
“Tidak.”
“Melati dan kemiri.”
Bima kembali menghirup udara. “Debu, karung, dan tikus yang pernah mati.”
“Pernah?”
“Sudah dipindahkan.”
Sekar memandang dinding.
“Bau itu berasal dari sana.”
Bima tidak langsung menjawab.
Wajah Bima hampir tidak berubah. Hanya matanya yang menyipit sesaat.
“Gudang menyimpan banyak barang lama.”
“Apa milik Retno disimpan di sini?”
“Tidak tahu.”
“Kau mengenalnya?”
“Saya pernah melihatnya.”
Sekar segera menoleh.
Bima mengambil cangkirnya, tetapi tidak minum.
“Kapan?”
“Dulu.”
“Berapa lama?”
“Lama.”
“Kau bisa berhenti menjawab seperti orang yang dibayar per kata?”
“Saya tidak dibayar.”
“Pantas jawabannya begini.”
Bima mengangguk kecil, seperti menerima kritik itu.
Sekar berdiri di depannya.
“Kau pernah melihat ibuku di rumah ini?”
“Ya.”
“Untuk apa dia datang?”
“Saya tidak tahu.”
“Dia menemui siapa?”
“Saya tidak melihat.”
“Berapa kali?”
Bima terdiam.
“Berapa kali?” ulang Sekar.
“Lebih dari sekali.”
Jawaban itu membuat dadanya mengencang.
Prawoto selalu bilang Retno tidak pernah berhubungan dengan keluarga Wisanggeni. Sri bahkan pernah bersumpah bahwa ibunya hanya sekali melewati jalan tepi hutan, itu pun sebelum Sekar lahir.
Padahal nama Retno ada di ruang terlarang.
Sosok gelap mengenalnya.
Sekarang Bima mengaku pernah melihat Retno datang lebih dari sekali.
“Kau berbohong sejak aku tiba.”
“Saya tidak pernah bilang tidak mengenalnya.”
“Kau juga tidak bilang pernah melihatnya.”
“Anda tidak bertanya sampai sekarang.”
Sekar menahan amarah.
“Di mana Wisanggeni?”
“Beristirahat.”
“Kondisinya?”
“Lebih baik.”
“Retakan di tubuhnya?”
Bima memandang cangkir. “Berhenti menyebar.”
“Apakah itu selalu terjadi setelah dia keluar?”
“Kang Wisnu tidak suka keadaannya dibicarakan.”
“Aku istrinya.”
“Kemarin Anda tidak menyukai kata itu.”
“Aku masih tidak menyukainya. Tapi orang-orang desa menganggap aku cukup pantas dijadikan obat untuk kutukannya. Setidaknya aku berhak tahu apa yang terjadi.”
Bima menatapnya lama.
“Jadi istri bukan berarti kau harus tahu semuanya.”
Sekar tidak segera merespons.
Ucapan itu sederhana, tetapi benar.
Ia sendiri marah karena seluruh desa merasa berhak atas tubuh dan keputusannya setelah pernikahan. Tidak adil bila ia melakukan hal yang sama kepada Wisanggeni hanya karena status mereka telah ditetapkan orang lain.
“Aku tidak mau tahu lukanya. Aku cuma mau tahu bahayanya.”
“Aku hanya perlu tahu apakah aku berada dalam bahaya.”
“Anda selalu berada dalam bahaya.”
“Terima kasih. Sangat membantu.”
“Tapi dia tidak sedang mencoba mencelakai Anda.”
Bima mengambil kendi.
Sebelum keluar, ia menoleh ke arah dinding.
“Jangan bongkar papan sendirian.”
“Kenapa?”
“Karena rak di sisi lain sudah tua.”
“Ada rak di balik dinding?”
Bima berhenti.
Sekar menatapnya.
“Anda memang cepat menangkap kalau orang keceplosan.”
“Karena kalian terlalu sering membuatnya.”
Bima mengembuskan napas kecil.
“Makan siang sebentar lagi.”
Ia keluar tanpa menjawab lebih jauh.
Sekar kembali mendekati dinding.
Ada rak di baliknya.
Berarti ruang itu bukan sekadar celah kosong.