Benda yang jatuh di balik dinding tidak bergerak lagi.
Sekar berdiri menghadap celah papan, menahan napas. Di sampingnya, Wisanggeni mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Cahaya kuning masuk sejauh beberapa jengkal, memperlihatkan lantai sempit yang tertutup debu.
Tidak ada buku yang terlihat.
Hanya bayangan rak dan sesuatu seperti kain tua di lantai.
“Kau mendengarnya?” tanya Sekar.
“Ya.”
“Benda itu jatuh di balik dinding.”
“Atau suara jatuhnya dibuat agar terdengar dekat.”
Sekar meliriknya. “Kau selalu punya cara untuk membuat kabar baik terasa buruk.”
“Aku belum melihat kabar baik.”
“Barang peninggalan ibuku mungkin ada di dalam.”
“Dan kita belum tahu apa yang menjaganya.”
Sekar ingin membalas, tetapi suara langkah tergesa terdengar dari pintu gudang.
Bima muncul dengan sapu di tangan.
Ia melihat peti pecah di lantai, papan yang terbuka, lalu lampu di tangan Wisanggeni.
“Kalian belum makan siang.”
Sekar menunjuk dinding. “Ada sesuatu jatuh di dalam.”
“Saya tahu.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Suaranya terdengar sampai dapur.”
“Lalu kenapa yang kaubawa sapu?”
Bima menatap serpihan kayu di lantai.
“Biasanya habis penyelidikan Anda, saya yang kebagian beres-beres.”
Wisanggeni mengusap kening.
“Ambil linggis kecil,” katanya.
“Yang besi atau kayu?”
“Memangnya ada linggis kayu?”
“Saya memastikan keadaan Kang Wisnu sudah membaik.”
Bima meletakkan sapu, lalu berjalan keluar.
Sekar kembali memperhatikan celah.
“Kenapa kita membutuhkan linggis?”
“Papan di sebelah kanan harus dilepas.”
“Ibu tidak pernah merusak dinding ketika membukanya.”
“Kau yakin ini tempat yang sama dengan ingatanmu?”
“Pola ketukannya sama.”
“Pola yang sama bisa digunakan pada lebih dari satu tempat.”
Sekar menekan papan dengan telapak tangan. Kayu itu tidak bergerak.
“Kalau dibongkar, kita bisa merusak barang di dalam.”
“Kalau tidak dibongkar, kau akan memasukkan tangan sampai bahu.”
“Aku juga kepikiran begitu.”
Wisanggeni menatapnya.
Sekar mengangkat dagu. “Celahnya cukup lebar.”
“Untuk lenganmu. Bukan untuk melihat apa yang akan memegangnya dari sisi lain.”
“Aku sudah mendengar peringatanmu.”
“Sepertinya belum.”
Sekar berjongkok dan mendekatkan lampu ke celah. Wisanggeni segera menarik lampu sedikit menjauh.
“Kayunya kering.”
“Aku tahu cara memakai lampu.”
“Peti tadi hampir menjatuhkanmu.”
“Itu tidak ada hubungannya dengan lampu.”
“Gudang ini sudah cukup merepotkan. Jangan tambah masalah.”
Bima kembali sambil membawa linggis, tali, dan selembar kain tebal.
Ia meletakkannya di lantai.
“Saya juga membawa penutup mulut.”
Sekar menatap kain itu. “Debunya tidak separah itu.”
“Bukan untuk debu.”
“Lalu?”
“Supaya Anda berhenti berdebat saat papan dibuka.”
Sekar menyilangkan tangan.
Bima menyerahkan linggis kepada Wisanggeni. “Saya sudah mencoba menolong.”
Wisanggeni menyelipkan ujung besi ke celah papan. Begitu ia menekan gagangnya, terdengar derit panjang dari balik dinding.
Sekar bergerak lebih dekat.
“Pelan.”
“Aku tahu.”
“Papan bagian atas ikut bergerak.”
“Aku melihatnya.”
“Rak di dalam bisa jatuh.”
Wisanggeni berhenti dan memandangnya. “Kau mau mengerjakannya?”
Sekar mengulurkan tangan.
Wisanggeni tidak memberikan linggis itu.
Bima duduk di atas peti lain. “Saya menyarankan kita makan siang dulu. Orang lapar lebih mudah menyalahkan alat.”
Sekar mengabaikannya.
“Kalau kau menarik papan lurus, paku atasnya akan menahan,” katanya kepada Wisanggeni. “Tekan ke bawah sedikit, baru tarik.”
“Kau tahu dari mana?”
“Bapak pernah memperbaiki dinding belakang rumah.”
“Dan berhasil?”
“Rumahnya masih berdiri.”
“Bagian belakangnya?”
Sekar menatapnya tajam.
Sudut bibir Wisanggeni akhirnya bergerak tipis.
Ia mengikuti petunjuk Sekar. Ujung linggis ditekan ke bawah, lalu ditarik perlahan.
Paku tua terlepas dengan bunyi berderak.
Papan bergeser selebar telapak tangan.
Udara dingin menyembur dari ruang di baliknya.
Lampu minyak mengecil.
Bima segera berdiri.
“Cukup.”
Sekar melihat ke dalam.
Ruang itu lebih sempit daripada yang ia bayangkan, hampir seperti rongga antara dua dinding. Sebuah rak kecil menempel miring pada bagian belakang. Salah satu kakinya sudah patah. Beberapa bungkusan kain tergeletak di lantai, tertutup debu dan sarang laba-laba.
Di bawah rak terdapat sebuah benda berbentuk persegi panjang.
Terlalu jauh untuk dijangkau dari celah.
“Itu bukunya,” kata Sekar.
“Bisa juga balok kayu,” jawab Bima.
“Balok tidak dibungkus kain.”
“Orang dahulu punya banyak waktu.”
Sekar meraih tepi papan dan mencoba menariknya lebih lebar.
Wisanggeni menahan tangannya sebelum kulitnya menyentuh paku.
Ia segera melepaskan begitu Sekar menoleh.
“Ada besi berkarat.”
“Aku melihatnya.”
“Tidak, kau melihat benda di dalam.”
Sekar mengembuskan napas.
“Kalau papan dilepas seluruhnya, rak itu bisa roboh,” lanjut Wisanggeni.
“Kalau hanya dibuka sedikit, aku tidak bisa mengambil buku.”