Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #13

BAB 12 Tulisan Tangan Orang Mati

Tulisan pada halaman pertama tidak berubah meski Sekar membacanya berkali-kali.

Bentuk hurufnya sedikit miring ke kanan. Ekor pada huruf tertentu dibuat lebih panjang daripada seharusnya. Titik-titik diletakkan terlalu dekat dengan kata berikutnya.

Kebiasaan Retno.

Sekar pernah mengejek tulisan itu ketika masih kecil. Ia mengatakan tulisan ibunya seperti barisan orang yang saling berdesakan saat membagikan beras di balai desa.

Retno tidak marah.

Ia hanya menyuruh Sekar menulis daftar belanja sendiri.

Setelah melihat tulisan anaknya, Retno berkata, tulisan miliknya setidaknya masih tahu arah pulang.

Kenangan sederhana itu datang begitu jelas hingga Sekar hampir menoleh, berharap menemukan ibunya duduk di belakang sambil menyisir rambut.

Kamar itu kosong.

Di luar pintu terdengar langkah Bima melewati lorong. Dari halaman belakang, suara kayu dipindahkan bercampur dengan kicauan burung menjelang sore.

Sekar menunduk lagi.

Halaman pertama buku hanya berisi beberapa baris. Sebagian tinta telah memudar, tetapi tulisan pertama masih terlihat paling tebal, seolah Retno sengaja mengulang goresannya agar kalimat itu dapat bertahan lebih lama daripada halaman lain.

Sekar mendekatkan lampu minyak.

Tulisan itu berbunyi:

Pengantin bukan tumbal. Pengantin adalah saksi.

Ia membacanya dalam hati.

Lalu sekali lagi dengan suara pelan.

“Pengantin bukan tumbal. Pengantin adalah saksi.”

Kata-kata itu seharusnya sederhana.

Sekar tetap tidak segera memahami maksudnya.

Sejak wabah melanda, semua orang menyebutnya pengantin seolah kata itu adalah nama lain untuk korban. Sri menyerahkan daftar utang. Marto membawa surat persetujuan. Nyai Sumirah mengesahkan pernikahan. Warga memandang Sekar seperti sesuatu yang harus dibayar agar mereka tetap hidup.

Kalau pengantin bukan tumbal, berarti desa telah membohonginya.

Atau justru Retno yang salah.

Pikiran terakhir membuat dada Sekar terasa sesak.

Ibunya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Orang mati tidak bisa ditanya. Tulisan lama tidak bisa menjelaskan nada, ketakutan, atau alasan seseorang memilih kata tertentu.

Sekar mengusap tepi halaman.

“Saksi apa, Bu?”

Tidak ada yang menjawab.

Ia membalik halaman.

Lembar kedua kosong.

Sekar mengangkatnya ke arah cahaya. Tidak ada tulisan samar, hanya bercak lembap di sudut bawah.

Halaman ketiga juga kosong.

Begitu pula halaman keempat.

Ia terus membalik sampai menemukan sebaris tulisan di halaman ketujuh. Tintanya rusak, menyisakan beberapa guratan yang tidak membentuk kalimat utuh.

Sekar mengambil arang kecil dari meja dan secarik kertas. Ia mencoba menyalin bagian yang masih terbaca.

“…tidak dibawa untuk…”

Sisanya hilang.

Di bawahnya ada tiga kata yang berdiri sendiri:

Nama.

Tanah.

Ingat.

Tidak ada penjelasan yang menghubungkan ketiganya.

Sekar menahan keinginan untuk merobek halaman itu dari buku agar dapat memeriksanya lebih dekat. Kertasnya sudah rapuh. Satu gerakan kasar dapat menghancurkan satu-satunya pesan yang ditinggalkan Retno.

Ketukan terdengar pada pintu.

Sekar segera menutup buku dan menutupinya dengan kain pembungkus.

“Siapa?”

“Orang yang membawa makanan,” jawab Bima.

“Aku belum lapar.”

“Nanti sayurnya dingin.”

Sekar tidak membuka pintu.

“Taruh di luar.”

“Semutnya sudah mulai datang.”

Sekar mengembuskan napas, lalu membuka kunci.

Bima berdiri membawa baki berisi nasi, sayur lodeh, ikan asin, serta segelas air. Ia melirik kain pembungkus di atas meja, tetapi tidak berusaha mendekat.

“Sudah dibaca?”

“Sedikit.”

“Isinya resep memasak?”

“Tidak.”

Bima tampak kecewa meski wajahnya hampir tidak berubah.

“Berarti dugaan saya salah.”

“Kau benar-benar berharap buku rahasia ibuku berisi resep?”

“Rumah ini sudah aneh. Resep sambal setidaknya beda.”

Sekar mengambil baki darinya.

“Wisanggeni di mana?”

Bima melirik ke arah lorong. “Di ruang depan.”

“Dia menungguku keluar?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Dia sedang duduk.”

“Duduk saja juga kau jelaskan.”

Sekar hampir menutup pintu, tetapi Bima belum bergerak.

“Ada apa?”

“Kang Wisnu meminta saya memastikan lampu Anda punya cukup minyak.”

Sekar memandang lampu di meja. Nyala apinya mulai mengecil.

“Dia bisa mengatakannya sendiri.”

“Bisa.”

“Tapi tidak datang.”

“Bisa juga karena Anda mengunci pintu.”

Sekar memegang tepian pintu.

“Bima.”

“Saya akan mengambil minyak.”

Lelaki itu berjalan pergi sebelum Sekar sempat menyuruhnya berhenti mencampuri urusan orang lain.

Sekar menutup pintu kembali.

Ia menaruh baki di ujung meja, jauh dari buku. Aroma ikan asin memenuhi kamar, menenggelamkan sisa bau minyak rambut Retno yang menempel pada kain pembungkus.

Sekar makan beberapa suap tanpa benar-benar merasakan rasanya.

Pikirannya terus kembali pada kalimat pertama.

Lihat selengkapnya