Sekar tidak tidur nyenyak malam itu.
Setiap kali terbangun, tangannya bergerak memastikan buku Retno masih berada di bawah bantal. Kebiasaan itu tidak masuk akal. Pintu kamar terkunci dari dalam, sedangkan Bima dan Wisanggeni tidak pernah masuk tanpa izin.
Rumah itu mempunyai dinding yang menyimpan ruang, pintu yang dapat menulis nama, dan suara yang mampu meniru orang mati.
Kunci biasa setidaknya membuatnya merasa masih bisa mengendalikan sesuatu.
Menjelang pagi, Sekar kembali membaca halaman pertama.
Pengantin bukan tumbal. Pengantin adalah saksi.
Di bawahnya, tanggal pernikahan Sekar telah ditulis bertahun-tahun sebelum prosesi berlangsung.
Semakin lama ia memandangi tulisan itu, semakin besar satu keraguan tumbuh dalam benaknya.
Bagaimana kalau tulisan itu bukan milik Retno?
Sekar mengenali bentuk huruf ibunya. Ia hampir yakin. Keyakinan pribadi tidak cukup. Terlalu banyak suara dan wajah dapat ditiru di rumah ini. Aroma minyak rambut Retno sendiri pernah memancingnya menuju gudang.
Buku itu bisa saja disiapkan agar ia memercayai sesuatu.
Sekar membutuhkan pembanding.
Ia membutuhkan tulisan Retno yang tersimpan di tempat lain.
Saat keluar dari kamar, Bima sedang membawa ember menuju halaman belakang. Lelaki itu berhenti ketika melihat bungkusan kain di tangan Sekar.
“Anda membawa buku itu ke mana?”
“Menemui Nyai Sumirah.”
Bima menurunkan ember.
“Kang Wisnu tahu?”
“Aku tidak meminta izin untuk berjalan.”
“Saya bertanya apakah dia tahu, bukan apakah Anda meminta izin.”
“Belum.”
“Ya sudah, bilang belum.”
Sekar berjalan melewatinya.
Bima mengikuti sambil membawa ember.
“Kau mau mengawasiku?”
“Saya mau mengambil air.”
“Sumurnya berada di belakang.”
Bima melihat ember yang dibawanya, lalu ke arah pintu depan.
“Benar.”
Ia berbalik seolah baru menyadari kesalahan arah.
Sekar hampir tersenyum.
Di ruang depan, Wisanggeni duduk di dekat jendela. Kain gelap masih menutupi sebagian lehernya. Di meja terdapat semangkuk air dan beberapa daun obat yang belum disentuh.
Tatapannya segera jatuh pada buku di tangan Sekar.
“Kau mau pergi.”
“Menemui Nyai Sumirah.”
“Untuk menunjukkan buku itu?”
“Hanya tulisannya.”
Wisanggeni berdiri. “Kalau dia mau, dia bisa mengambilnya.”
“Dia boleh mencoba.”
“Sekar.”
“Aku cuma ingin memastikan tulisan ini benar-benar tulisan Retno.”
“Nyai Sumirah bukan satu-satunya orang yang pernah mengenal ibumu.”
“Tapi dia menyimpan catatan adat.”
Wisanggeni tidak langsung menjawab.
Sekar sudah menduga ia akan melarang. Purnama semakin dekat, kondisi tubuhnya belum pulih, dan rumah itu sedang bereaksi terhadap buku Retno. Alasannya memang banyak.
Wisanggeni hanya bertanya, “Kau pergi sendiri?”
“Ya.”
“Aku akan mengantar.”
“Tubuhmu belum pulih.”
“Aku cuma mengantar sampai sana.”
Sekar memandang kain yang menutupi lehernya. “Aku tidak membutuhkan penjaga.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memastikan jalan ke desa masih sama.”
Jawaban itu membuat Sekar sulit menolak.
Sekar mengangguk. “Kau menunggu di luar rumah Nyai.”
“Baik.”
Tidak ada perdebatan lagi.
Bima muncul dari arah belakang tanpa ember.
“Saya jadi tidak mengambil air.”
“Kami tahu,” kata Sekar.
“Saya hanya ingin memastikan.”
Ia mengambil sebilah pisau kecil dari meja dan menyerahkannya kepada Sekar.
“Untuk apa?”
“Memotong buah.”
Sekar memandangnya.
Bima tetap memasang wajah datar.
“Nyai Sumirah tidak suka buah?”
“Saya tidak tahu. Pokoknya biar ada alasan.”
Sekar menyelipkan pisau itu di balik ikat pinggang.
Mereka berangkat saat matahari belum terlalu tinggi.
Jalan menuju desa sepi. Sebagian besar warga masih menutup pintu karena takut wabah kembali memburuk. Dari beberapa rumah terdengar suara orang memasak dan anak-anak mulai berbicara. Desa perlahan hidup lagi. Meski begitu, ketenangannya terasa rapuh.
Wisanggeni berjalan beberapa langkah di belakang Sekar.
Setiap kali cahaya matahari menembus pepohonan, ia memilih sisi jalan yang teduh. Sekar menyadarinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Menjelang perempatan, mereka melewati rumah Pak Somad. Lelaki itu sedang menyapu halaman. Wajahnya masih kurus, tetapi tidak sepucat beberapa hari sebelumnya.
Ketika melihat Wisanggeni, gerakan sapunya berhenti.
Pak Somad menunduk.
Bukan salam.
Lebih mirip usaha menghindari tatapan.
Wisanggeni terus berjalan seolah tidak melihatnya.
“Warga mulai takut kepadamu,” kata Sekar pelan.
“Mereka sudah takut jauh sebelum kau datang.”
“Sekarang mereka punya alasan baru.”
“Kau juga takut.”
Sekar menoleh.
Wisanggeni tidak sedang menyindir. Ia menyampaikan kenyataan yang ia terima tanpa membela diri.
“Aku sendiri belum tahu apa yang harus kutakuti.”
“Jangan terlalu lama.”
“Kenapa?”
“Ada hal-hal yang tidak bisa menunggu.”
Mereka berhenti di depan rumah Nyai Sumirah.
Bangunannya kecil dan dikelilingi tanaman obat. Daun-daun kering digantung pada serambi, menghasilkan aroma pahit yang menusuk hidung.
Wisanggeni berdiri di bawah pohon sawo dekat pagar.
“Aku menunggu di sini.”
Sekar mengangguk kecil.
Ia menaiki tiga anak tangga dan mengetuk pintu.
Jawaban tidak kunjung datang.
Sekar mengetuk lagi.
“Aku tahu Nyai ada di dalam.”
Dari balik pintu terdengar suara benda diletakkan dengan keras.
Pintu terbuka.
Nyai Sumirah berdiri dengan wajah tidak senang.