Kertas salinan itu terasa lebih dingin daripada udara pagi.
Sekar masih memandangi baris paling bawah ketika Danang melipat kembali lembar lain yang dibawanya. Namanya tercantum dengan jelas, diikuti nama Retno dan Prawoto. Tanggal pencatatan berada beberapa bulan sebelum hari kelahirannya.
Tidak ada kesalahan hitung.
Tidak ada angka yang tertukar.
Seseorang telah menuliskan namanya sebelum ia lahir.
“Apakah ini sama persis dengan buku di kantor desa?” tanya Sekar.
“Sebisa mungkin,” jawab Danang. “Aku menyalin ejaan, tanda, dan posisi setiap nama. Aku tidak memperbaiki bagian yang terlihat aneh.”
“Kenapa kau membuat salinan selengkap ini?”
“Kalau aku salin, ya bagian anehnya ikut.”
Danang menunjuk tanda kecil di sebelah nama Sekar.
“Yang ini tidak kutahu artinya. Bentuknya mirip separuh lingkaran.”
Sekar menutup pergelangan kirinya dengan ujung lengan.
Tanda di kulitnya kembali terasa panas, meski tidak berubah warna.
Wisanggeni berdiri di sampingnya, tetapi tidak mencoba melihat lebih dekat. Sejak Danang menyerahkan daftar, lelaki itu hanya mengamati jalan dan rumah Nyai Sumirah di belakang mereka.
“Apakah buku aslinya masih ada?” tanya Sekar.
“Seharusnya.”
“Seharusnya?”
“Ketika aku meninggalkan kantor desa, buku itu dikembalikan ke lemari. Tapi setelah mendengar kau mencari daftar lama, seseorang mungkin akan memindahkannya.”
“Siapa?”
Danang menggeleng. “Aku tidak punya bukti.”
Sekar memegang salinan lebih erat.
Ia tidak membutuhkan dugaan baru. Sudah terlalu banyak orang membisikkan kemungkinan tanpa berani bertanggung jawab.
“Aku akan membawanya kepada Bapak.”
Wisanggeni menoleh. “Sekarang?”
“Namanya juga ada di daftar. Dia harus menjelaskan.”
“Prawoto mungkin tidak tahu.”
“Kalau begitu dia bisa mengatakannya sambil menatap wajahku.”
Danang memasukkan sisa kertas ke dalam tas kulitnya.
“Aku akan mencari buku aslinya.”
“Jangan sendirian,” kata Sekar.
Ia menatap Sekar, lalu mengangguk. “Aku akan meminta Wulan mengalihkan perhatian Wibawa.”
“Itu rencana buruk.”
“Wulan pandai membuat rencana buruk terlihat seperti pertengkaran biasa.”
“Justru itu yang membuatku khawatir.”
Danang tersenyum tipis. “Aku akan berhati-hati.”
Danang menarik tali gerobak dan berjalan menuju jalan utama.
Buat Sekar, itu sudah cukup untuk dibawa pulang.
Sekar menyelipkan salinan daftar ke dalam kain pembungkus buku Retno.
“Aku akan pulang ke rumah Bapak.”
“Aku ikut sampai halaman,” kata Wisanggeni.
“Kenapa hanya sampai halaman?”
“Ini urusan keluargamu.”
“Keluargamu tidak pernah berhenti ikut menentukan hidupku.”
“Karena itu aku tidak mau ikut menentukan hidupmu.”
Jawaban itu membuat Sekar kehilangan bantahan.
Mereka berjalan menuju rumah Prawoto.
Matahari mulai naik, tetapi warna langit tampak pucat. Di sebelah barat, bulan yang belum sepenuhnya hilang masih terlihat sebagai lingkaran putih tipis. Malam nanti bentuknya akan bulat sempurna.
Purnama.
Sekar teringat tulisan di telapak tangannya.
Jangan keluar ketika bulan menjadi utuh.
Ia mempercepat langkah.
Ketika rumah Prawoto terlihat, beberapa pasang sandal sudah tersusun di depan tangga. Sebuah tikar digelar di ruang depan. Suara Sri terdengar dari dalam, diselingi suara perempuan yang terlalu dikenalnya.
Mira.
Wisanggeni berhenti di dekat pagar.
“Aku menunggu di sini.”
“Kalau aku terlalu lama?”
“Aku tetap menunggu.”
“Kau tidak perlu berdiri seperti penjaga.”
“Aku bisa duduk.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Sekar menatapnya sebentar, lalu masuk ke halaman.
Wulan sedang duduk di dekat pintu bersama Slamet. Begitu melihat Sekar, ia mengangkat alis dan menunjuk ruang depan dengan gerakan dagu.
“Mereka menunggumu,” katanya.
“Siapa yang mengundang mereka?”
“Sri mengirim anak tetangga.”
“Dan kau?”
“Aku datang menjenguk Slamet. Ternyata mendapat pertunjukan gratis.”
Slamet sudah tampak lebih sehat. Wajahnya masih pucat, tetapi ia tidak lagi menggigil. Garis hitam di pergelangan tangannya tinggal bayangan tipis.
Sekar menyentuh dahinya.
“Demammu?”
“Sudah turun.”
“Kenapa kau duduk di luar?”
Slamet melirik ruang depan. “Karena kalau aku masuk, aku mungkin mengatakan sesuatu yang membuat Bapak marah.”
Wulan berkata, “Dia berkembang menjadi orang dewasa.”
“Aku hanya tidak mau melempar bangku.”
“Perkembangannya belum selesai.”
Sekar melepas sandalnya dan masuk.
Prawoto duduk di sisi meja dengan bahu turun. Sri berada di sebelahnya. Mira duduk berhadapan dengan mereka, memakai kebaya hijau muda dan selendang yang terlalu rapi untuk kunjungan keluarga biasa.
Di atas meja terdapat beberapa lembar surat.
Mira tersenyum ketika melihat Sekar.
“Akhirnya istri kutukan datang juga.”
Sekar berhenti di ambang.
“Kalau mau menyambut tamu, bikin teh dulu. Habis itu silakan hina.”