Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #16

BAB 15 Malam Purnama Pertama

Wisanggeni tidak menanyakan isi pertengkaran Sekar dengan keluarganya selama perjalanan pulang.

Ia hanya berjalan di sisi yang lebih dekat dengan hutan, sementara Sekar memilih sisi jalan yang menghadap sawah. Jarak di antara mereka tidak sampai dua langkah, tetapi cukup untuk memberi ruang.

Sesekali Sekar melihat kain pada leher Wisanggeni bergeser tertiup angin. Retakan hitam yang sempat terlihat siang tadi tidak muncul lagi. Wajahnya tampak tenang, meski langkahnya semakin cepat ketika matahari mulai turun.

Mira mengatakan malam ini mungkin menjadi malam terakhir Wisanggeni memiliki wajah manusia.

Sekar tidak sepenuhnya mempercayainya. Mira lebih sering menggunakan ketakutan sebagai alat daripada sebagai peringatan.

Bulan pucat yang menggantung di langit siang sudah cukup tinggi.

“Apakah kau akan mengunci diri malam ini?” tanya Sekar.

Wisanggeni tidak langsung menjawab.

“Aku bertanya kepadamu.”

“Aku mendengar.”

“Bagus. Berarti telingamu masih manusia.”

Ia menoleh sebentar. “Bima sudah menyiapkan ruang belakang.”

“Ruang belakang yang mana?”

“Bangunan batu di dekat sumur.”

Sekar pernah melihat bangunan itu. Ukurannya kecil, tanpa jendela, dengan pintu kayu yang dilapisi besi. Ia mengira tempat itu digunakan menyimpan alat pertanian.

“Kau akan masuk ke sana?”

“Ya.”

“Sendiri?”

“Bima akan mengunci dari luar.”

“Dan kalau kau tidak bisa dikendalikan?”

Wisanggeni menatap jalan di depan.

“Dinding itu setidaknya bisa menahanku.”

Jawaban itu tidak membuat Sekar merasa lebih baik.

“Berapa kali kau pernah melewati malam seperti ini?”

“Cukup banyak.”

“Berapa?”

“Aku sudah berhenti menghitung.”

“Kenapa?”

Sekar teringat pengakuannya di dekat sumur. Wisanggeni dapat bangun dengan luka dan darah yang tidak dikenalnya. Ada bagian waktu yang hilang setelah purnama.

Ia menyentuh kain pembungkus buku Retno yang tersimpan di dalam tas kecilnya.

“Apakah tulisan Ibu mengatakan sesuatu tentang malam purnama?” tanya Wisanggeni.

“Belum.”

“Kau belum menemukan atau belum mau memberitahuku?”

“Keduanya.”

Wisanggeni menerima jawaban itu tanpa mendesak.

Mereka baru melewati rumah Bu Lasmi ketika suara tangisan terdengar dari dalam.

Sekar menghentikan langkah.

Pintu rumah terbuka. Seorang lelaki muda berlari keluar sambil memanggil Bu Tini. Di belakangnya, Bu Lasmi berbaring di lantai ruang depan dengan tubuh menggigil.

Bercak hitam yang sempat memudar kembali muncul di lehernya.

Lebih lebar daripada sebelumnya.

Sekar segera masuk.

“Sejak kapan memburuk?”

Anak lelaki Bu Lasmi berlutut di samping ibunya. “Baru saja. Tadi Ibu masih bisa makan.”

Sekar memegang pergelangan tangan perempuan itu. Nadinya bergerak cepat dan tidak teratur. Kulitnya dingin, tetapi keringat mengalir dari pelipis.

Wisanggeni berdiri di ambang pintu.

Ia tidak masuk.

Tatapannya tertuju pada bercak hitam di leher Bu Lasmi.

“Ambil air hangat,” kata Sekar. “Jangan terlalu banyak orang di dalam. Buka jendela.”

Anak lelaki itu segera berdiri.

Dari rumah sebelah terdengar teriakan lain.

Seseorang memanggil nama Pak Wiryo.

Kemudian kentongan dipukul dari arah balai desa.

Tiga kali cepat.

Jeda.

Tiga kali lagi.

Tanda keadaan darurat.

Sekar menoleh kepada Wisanggeni.

“Wabahnya meningkat.”

Wisanggeni sudah mundur dari pintu.

“Pulanglah.”

“Apa?”

“Kembali ke rumah.”

“Orang-orang sakit.”

“Bu Tini akan datang.”

“Aku bisa membantu.”

“Tidak malam ini.”

Nada suaranya datar, tetapi ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan.

Sekar berdiri.

“Kenapa?”

Kentongan kembali dipukul.

Dari kejauhan terdengar warga berlari dan berteriak. Wabah yang sempat mereda kini bangkit bersamaan, tepat ketika matahari mendekati batas perbukitan.

Wisanggeni mengangkat wajah ke bulan yang mulai terlihat lebih terang.

“Karena waktunya hampir tiba.”

Sekar berjalan keluar rumah Bu Lasmi.

“Wabahnya memburuk pas bulan naik. Kau tahu kenapa, kan?”

“Aku tahu cukup untuk bilang kamu harus pulang.”

“Aku tidak akan meninggalkan mereka hanya karena kau takut wajahmu berubah.”

Wisanggeni langsung menghadapnya.

“Ini bukan soal wajahku.”

“Lalu apa?”

Ia melirik warga yang mulai berkumpul di jalan.

“Bukan di sini.”

Seorang lelaki tua keluar dari rumah sambil membawa anak kecil yang tubuhnya lemas. Bercak hitam tampak di kedua telapak kaki anak itu.

Sekar bergerak hendak membantu.

Wisanggeni memegang lengannya.

Hanya sesaat.

Tidak keras.

Tetapi cukup membuatnya berhenti.

“Sekar.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Takut.

Bukan takut kehilangan kendali atas dirinya.

Takut kepada sesuatu yang mungkin menimpa Sekar.

“Pulang sekarang,” katanya lebih pelan. “Aku akan menjelaskan di rumah.”

Tangan Wisanggeni masih memegang lengannya. Lelaki itu segera melepaskan.

“Lima menit,” kata Sekar. “Kalau jawabanmu hanya larangan lain, aku kembali ke desa.”

Wisanggeni mengangguk kecil.

Mereka mempercepat perjalanan.

Suasana desa berubah hanya dalam beberapa menit. Pintu-pintu rumah dibuka. Orang-orang berlarian membawa kain, air, dan ramuan. Kentongan terus berbunyi, tetapi lonceng tua di balai desa tetap diam.

Sekar melihat Kepala Desa Marto berdiri di perempatan. Lelaki itu memberi perintah kepada warga, sementara Wibawa mencatat rumah-rumah yang kembali terkena wabah.

Ketika Marto melihat Wisanggeni, wajahnya menegang.

Ia tidak memanggil.

Lihat selengkapnya