Sekar tidak langsung menyahut.
Suara di luar pintu terdengar seperti Wisanggeni.
Bukan cuma nadanya. Tarikan napas pendek di antara kalimat, cara ia menyebut nama Sekar tanpa meninggikan suara, bahkan suara kain yang bergesekan saat tubuhnya bergerak, semuanya persis sama.
Dari halaman belakang, rantai bangunan batu masih berderak.
Sekar berdiri beberapa langkah dari pintu dengan pisau kecil di tangan. Nyala lampu minyak bergoyang karena angin yang tidak diketahui asalnya.
“Buka,” kata suara itu.
Sekar tidak menjawab.
Palang pintu kembali bergetar.
Tidak sekeras sebelumnya. Kali ini sesuatu di luar hanya mendorong perlahan, seperti orang terluka yang kehilangan tenaga.
“Aku masih sadar.”
Kalimat itu membuat jari Sekar semakin erat menggenggam pisau.
Sebelum masuk ke bangunan batu, Wisanggeni mengatakan hal yang sama kepada Bima.
Aku masih sadar.
Berarti ada sesuatu yang tadi mendengar percakapan mereka.
Sekar mundur hingga punggungnya menyentuh meja.
Di atasnya, buku Retno terbuka pada halaman pertama.
Pengantin bukan tumbal. Pengantin adalah saksi.
Suara dari luar berubah lebih lemah.
“Sekar, rantainya putus.”
Rantai di belakang rumah berbunyi lagi.
Keras.
Satu tarikan panjang, kemudian benturan yang membuat dinding kamar bergetar.
Sekar menahan napas.
Kalau Wisanggeni benar-benar masih berada di bangunan batu, siapa yang berdiri di lorong?
Ia teringat pesan Retno.
Suara bisa ditiru. Wajah bisa dipinjam. Bau juga bisa digunakan untuk menarik orang.
“Aku terluka,” kata suara itu. “Bima tidak ada.”
Sekar hampir menjawab.
Bukan untuk membuka pintu. Sekar hanya ingin menanyakan sesuatu yang cuma diketahui Wisanggeni. Peringatan Retno kembali terngiang.
Jangan menyebut namaku.
Apa pun yang datang bersama purnama dapat mendengarmu lebih jelas daripada orang lain.
Sekar menutup mulut dengan tangan kirinya.
Di luar pintu, suara Wisanggeni mulai tertawa.
Pelan.
Tawanya tidak wajar. Terlalu panjang, tanpa jeda untuk mengambil napas.
Kemudian suara itu berubah menjadi suara Retno.
“Anakku.”
Sekar memejamkan mata.
“Buka pintunya.”
Aroma minyak rambut melati memenuhi kamar.
Bukan berasal dari buku atau kain pembungkus. Bau itu masuk dari celah bawah pintu, semakin kuat sampai Sekar seolah kembali berdiri di gudang.
“Ibu tahu kamu takut.”
Sekar mengangkat pisau, walau ia tidak tahu apakah besi kecil itu berguna menghadapi suara.
“Apa yang Ibu ketuk ketika aku takut pada petir?”
Begitu kalimat itu keluar, seluruh rumah menjadi sunyi.
Sekar menyesal telah berbicara.
Ia seharusnya tetap diam.
Tidak ada jawaban dari luar.
Hanya bunyi sesuatu menggesek permukaan pintu, seperti kuku panjang ditarik dari atas ke bawah.
Lalu terdengar tiga ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Jarak ketukannya sama.
Salah.
Retno selalu mengetuk dua kali cepat dan satu kali lambat.
Sekar tidak membuka pintu.
Dari balik kayu terdengar suara mendesis marah. Bau melati mendadak berubah menjadi bau bunga busuk.
Sesuatu menghantam pintu sekali lagi.
Tepat saat itu, jeritan Bima terdengar dari halaman belakang.
“Kang Wisnu!”
Sekar menoleh ke jendela.
Wisanggeni melarangnya membuka pintu untuk siapa pun. Ia juga menyuruh menutup jendela. Bima bukan orang yang mudah berteriak. Jika ia memanggil sekeras itu, sesuatu benar-benar telah terjadi.
Sekar berlari ke jendela.
Ia berhenti sebelum menyentuh palang.
Tulisan di telapak tangannya terasa panas.
Jangan keluar ketika bulan menjadi utuh.
Tidak tertulis jangan melihat.
Sekar tahu alasannya tidak masuk akal.
Ia tetap mengangkat palang jendela sedikit lebih tinggi.
Angin malam langsung menyerbu kamar. Nyala lampu padam.
Cahaya bulan masuk melalui celah.
Halaman belakang terlihat pucat dan asing. Pepohonan tampak seperti deretan orang tinggi yang berdiri mengawasi rumah.
Bangunan batu dekat sumur masih tertutup.
Dua rantai terlepas dan tergeletak di tanah.
Rantai ketiga masih menegang pada pintu yang terbuka setengah.
Bima berdiri beberapa langkah dari bangunan itu sambil memegang ujung rantai. Kedua kakinya tergelincir di tanah, tetapi ia tetap menarik sekuat tenaga.