Sekar terpaku pada nama yang baru saja disebut Wisanggeni.
Nama itu keluar dari mulut Wisanggeni sesaat sebelum tubuhnya jatuh dari jendela.
Benturannya mengguncang tanah halaman. Debu dan daun kering terangkat, lalu berputar sebentar di bawah cahaya bulan.
Sekar masih berada di dalam kamar.
Wujud hitam itu tidak bergerak.
Retakan merah di sepanjang punggungnya mulai meredup, tetapi bentuk tubuhnya masih jauh dari manusia. Jari-jarinya tetap panjang. Bahunya masih dipenuhi tonjolan seperti akar terbakar. Dari sela rahangnya keluar napas berat yang membawa suara-suara kecil, batuk, tangis, dan keluhan orang sakit.
Di belakang Sekar, sesuatu masih berada di luar pintu kamar.
Ia mendengar kukunya menggores kayu.
Lalu suara Retno berbisik, “Sekar.”
Sekar berbalik.
Palang pintu bergetar.
“Jangan tinggalkan Ibu.”
Suara itu terdengar lembut. Hampir sempurna.
Retno tidak pernah mengetuk dengan jeda seperti itu.
Sekar meraih lampu minyak yang sudah padam dan melemparkannya ke arah pintu. Benda itu menghantam kayu, menimbulkan suara keras.
“Pergi.”
Sesuatu di luar tertawa.
Tawa itu berubah menjadi geraman, lalu berhenti mendadak ketika dari halaman terdengar raungan Wisanggeni.
Tubuh yang tadi tergeletak bergerak.
Satu tangannya menghantam tanah.
Retakan merah kembali menyala.
“Sekar!” teriak Bima.
Sekar menoleh ke jendela.
Bima sudah bangkit meski jalannya pincang. Darah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Ia menarik rantai yang masih melilit pinggang Wisanggeni, mencoba menjauhkan tubuh itu dari rumah.
“Jangan keluar!”
Makhluk itu bangkit terlalu cepat.
Rantai menegang.
Bima terseret hingga lututnya menghantam tanah.
“Aku berubah pikiran,” katanya sambil menahan tarikan. “Empat rantai juga mungkin kurang.”
Sekar menyelipkan pisau ke pinggang.
Ia kembali ke pintu kamarnya.
Sesuatu masih menunggu di lorong. Keluar melalui sana bukan pilihan.
Jendela telah rusak cukup lebar. Pecahan kayu menonjol di sekeliling bingkainya, tetapi Sekar dapat melewatinya.
Ia mengangkat ujung kain, lalu memanjat.
“Sekar, jangan!”
“Aku tidak bisa tinggal di kamar sementara ibuku dan suamiku sedang merobohkan rumah!”
“Kita masih bisa cari cara lain!”
“Aku sudah memilih!”
Sekar melompat ke halaman.
Kakinya mendarat di tanah lembap. Rasa sakit menjalar ke telapak, tetapi tidak cukup untuk menghentikannya.
Udara malam jauh lebih dingin daripada yang terasa dari dalam kamar. Cahaya purnama jatuh langsung ke kulitnya. Tulisan di telapak tangan Sekar muncul kembali, hitam dan tajam.
Jangan keluar ketika bulan menjadi utuh.
“Aku sudah terlambat membaca larangan,” gumamnya.
Bima masih menarik rantai.
Wujud Wisanggeni berdiri membelakangi Sekar. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, seolah mencari sumber suara yang baru keluar dari kamar.
Sekar mengambil satu langkah.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
Bima menggeleng keras.
“Jangan mendekat.”
“Dia berhenti saat namanya kusebut.”
“Sesaat.”
“Coba lagi?”
“Kau punya cara lain?”
Bima melihat rantai di tangannya.
“Aku juga lagi coba.”
Makhluk itu menoleh.
Mata merahnya menemukan Sekar.
Tidak ada pengenalan di sana.
Tubuhnya berputar penuh. Rantai meluncur di tanah, lalu terlepas dari pegangan Bima. Wisanggeni bergerak menuju Sekar dengan langkah berat.
Sekar memaksa dirinya tetap berdiri.
“Bagus Wisanggeni.”
Makhluk itu berhenti.
Hanya satu langkah.
Setelah itu, bahunya bergerak lagi.
Sekar mengulang namanya.
“Bagus Wisanggeni.”
Wujud itu menggeram.
Suara-suara orang sakit keluar dari tenggorokannya. Kali ini Sekar mendengar nama-nama bercampur di antara rintihan.
Pak Somad.
Bu Lasmi.
Suyatno.
Nama warga yang terkena wabah.
Makhluk itu mengangkat tangan.
Bima menerjang dari samping dan melilitkan rantai pada lengannya.
“Kalau mau bicara, mundur sedikit!”
“Dia tidak mendengarku dari sana.”
“Dia punya telinga sebesar itu!”
Wujud Wisanggeni mengayunkan tangan.
Bima terangkat bersama rantai, lalu jatuh menimpa tumpukan kayu.