Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #19

BAB 18 Permintaan Maaf Tanpa Hangat

Wisanggeni terbangun karena suara seseorang mengaduk air di dalam baskom.

Matanya terbuka perlahan.

Langit di luar serambi sudah berubah abu-abu. Cahaya pagi belum sepenuhnya muncul, tetapi bulan tidak lagi terlihat. Sisa kabut masih menggantung rendah di halaman belakang.

Tubuhnya terasa seperti baru ditimbun batu.

Setiap tarikan napas menekan tulang rusuk. Kulit di leher dan dadanya perih. Ketika mencoba menggerakkan tangan, rasa sakit menjalar sampai bahu.

Ia menahan suara.

Sekar duduk tidak jauh darinya, bersandar pada tiang serambi. Sebuah baskom air berada di depan perempuan itu. Kain putih yang dicelupkan ke dalamnya berubah merah muda oleh darah.

Bima duduk di anak tangga paling bawah sambil membalut lengannya sendiri.

Tidak ada yang langsung menyadari Wisanggeni sudah membuka mata.

Ia mencoba mengingat bagaimana dirinya sampai di serambi.

Potongan kejadian malam tadi muncul tidak berurutan.

Purnama.

Bangunan batu.

Rantai pertama putus.

Suara-suara memenuhi kepalanya.

Kemudian wajah Sekar di balik jendela.

Setelah itu, hanya kegelapan yang bergerak.

Wisanggeni mencoba menggali ingatan itu. Ia menemukan suara Sekar menyebut nama lengkapnya. Sentuhan pada pergelangan. Tanah dingin di bawah lutut.

Lalu kosong.

Rasanya bukan sekadar lupa.

Ia tahu ada sesuatu yang hilang dari sana. Bekasnya masih terasa, tapi apa yang hilang itu tak bisa ia ingat.

Wisanggeni menggerakkan kepala.

Sekar segera menoleh.

“Kau bangun.”

Suaranya terdengar biasa. Tidak lembut, tidak pula marah.

Wisanggeni tidak tahu mana yang lebih pantas ia terima.

Bima menoleh ke belakang.

“Bagus. Saya mulai khawatir harus menjelaskan kepada warga kenapa pemilik rumah mati di serambinya sendiri.”

Wisanggeni mencoba bangun.

Rasa sakit di rusuk memaksanya berhenti.

“Jangan,” kata Sekar.

“Aku bisa duduk.”

“Tubuhmu tidak setuju.”

“Itu bukan hal baru.”

Sekar meletakkan kain ke dalam baskom. “Tubuhmu juga tidak perlu ikut campur.”

Bima mengangkat tangan yang sudah selesai dibalut.

“Kalau begini terus, saya mau cari kerja lain.”

Wisanggeni memperhatikan luka di pelipisnya. “Kau terluka.”

“Saya dilempar ke pohon.”

“Aku yang melakukan?”

Bima berpikir sejenak.

“Memangnya pohon bisa bergerak?”

Wisanggeni menutup mata.

Ia sudah mendapat jawabannya.

Ia menggerakkan tangan untuk memeriksa tubuhnya. Retakan hitam masih tampak di punggung jari, tetapi tidak menyala. Kuku-kukunya sudah kembali normal. Pakaian di bagian dada robek dan dipenuhi noda darah serta debu arang.

“Apa aku melukai orang lain?”

“Tidak ada warga di halaman,” jawab Bima.

Wisanggeni menghadap Sekar.

Sekar tetap membalas tatapannya.

Pergelangan tangan kanannya memar. Kain di bahunya robek sepanjang satu jari. Ada goresan tipis di bawah tulang selangka.

Dada Wisanggeni terasa semakin berat.

“Aku melukaimu.”

“Sedikit.”

“Itu bukan sedikit.”

“Kalau parah, aku bilang.”

“Kau tidak seharusnya keluar.”

Sekar mengambil kain dari baskom dan memerasnya.

“Aku tahu.”

“Kau melanggar larangan.”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena Bima hampir diseret ke sumur dan kau sedang mencoba masuk melalui jendelaku.”

Bima mengangkat telunjuk. “Saya tidak hampir masuk sumur. Jaraknya masih cukup untuk dua langkah.”

Sekar meliriknya.

Bima menurunkan telunjuk.

“Hampir,” katanya.

Wisanggeni mencoba mengingat jendela kamar Sekar. Bayangan tangannya memecahkan kayu masih tersisa, tetapi alasan dirinya mendekat tidak juga muncul.

Ia ingat suara Sekar.

Namanya.

Kemudian...

Sebuah nama lain.

Sundari.

Mata Wisanggeni terbuka penuh.

“Semalam aku mengatakan sesuatu?”

Sekar tidak langsung menjawab.

Bima berdiri perlahan. “Saya akan memeriksa bangunan batu.”

“Bangunannya masih ada?” tanya Wisanggeni.

“Sebagian.”

“Pintunya?”

“Pintunya punya masa depan yang lebih pendek.”

Bima membawa baskom kecil miliknya dan berjalan menjauh. Wisanggeni tahu lelaki itu sengaja memberi mereka ruang.

Sekar tetap duduk di depan baskom.

“Kau menyebut nama perempuan,” katanya.

“Sundari.”

Lihat selengkapnya