Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #20

BAB 19 Pengantin yang Dihapus dari Kisah

Nama Karto masih tertulis di halaman buku Retno saat matahari naik sepenuhnya.

Tintanya tidak lagi bergerak. Huruf-huruf itu sudah mengering seperti telah berada di sana bertahun-tahun, padahal Sekar dan Wisanggeni melihatnya muncul dengan mata mereka sendiri.

Sekar duduk di serambi sambil menyalin nama itu pada selembar kertas.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Wisanggeni memperhatikannya dari tikar. Tubuh lelaki itu belum cukup kuat untuk berdiri lama. Luka di bahu dan dadanya telah dibalut, wajahnya masih pucat.

“Kenapa ditulis berkali-kali?” tanyanya.

“Supaya tidak hilang.”

“Kau mengira nama itu bisa lenyap dari kertas?”

Sekar berhenti menulis.

Setelah apa yang mereka temukan di pintu terlarang, dinding nama, dan bagian ingatan Wisanggeni yang kosong, pertanyaan itu tidak terdengar aneh.

“Aku cuma tidak mau ambil risiko.”

Bima muncul dari arah halaman belakang sambil membawa pintu bangunan batu yang engselnya terlepas.

Ia meletakkannya di tanah dengan suara berat.

“Pintunya sudah tidak bisa dipakai.”

Wisanggeni memandangi kayu yang terbelah hampir menjadi dua.

“Aku yang merusaknya?”

“Tidak. Pintu itu sudah tua.”

Sekar melipat kertas bertuliskan nama Karto dan memasukkannya ke dalam kain pembungkus buku.

“Di mana rumah Mbah Karto?”

Bima berhenti memeriksa engsel.

Wisanggeni mengangkat wajah.

“Kau mau pergi hari ini?”

“Nama itu muncul dari ingatanmu.”

“Tubuhku belum pulih.”

“Aku tidak menyuruhmu ikut.”

“Aku juga tidak bilang mau ikut.”

Sekar terdiam beberapa saat.

Wisanggeni membalas tanpa berkedip.

Bima memungut satu paku dari tanah.

“Kalian ini… sudah seperti suami istri lama.”

Sekar mengabaikannya.

“Di mana rumahnya?” ulangnya.

“Ujung sawah bagian timur,” jawab Wisanggeni. “Dekat saluran air lama.”

“Kau pernah ke sana?”

“Aku ingat pernah.”

“Seperti ingatanmu tentang Sundari?”

Wisanggeni tidak langsung menjawab.

Sekar langsung menyesali pertanyaan itu. Rahang Wisanggeni mengeras. Nama Sundari masih menjadi lubang yang tidak bisa ia isi.

“Maaf,” katanya.

Wisanggeni tampak sedikit terkejut.

Sekar sendiri tidak terbiasa mengucapkannya secepat itu.

“Aku cuma mau tahu jalannya masih bisa dipercaya atau tidak.”

“Rumah beratap rendah, dinding bambu, ada pohon sawo di depan. Kalau rumahnya masih ada, kau tidak akan salah.”

“Saya akan mengantar,” kata Bima.

Sekar menoleh. “Kau harus menjaga Wisanggeni.”

“Saya harus memperbaiki pintu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Menjaga Kang Wisnu itu memastikan dia tidak nekat. Sudah.”

Wisanggeni menggeser tubuh, berniat bangun.

Bima langsung menunjuknya.

“Contohnya sudah dimulai.”

“Aku bisa berjalan.”

“Kemarin malam juga.”

Sekar menutup buku Retno.

“Aku pergi bersama Bima. Kau tetap di rumah.”

Wisanggeni diam cukup lama.

Sekar menunggu larangan atau perdebatan.

Lelaki itu hanya berkata, “Bawa garam dari dapur.”

“Untuk apa?”

“Taburkan di ambang rumah Karto sebelum masuk.”

“Kenapa?”

“Aku tidak ingat.”

Sekar mengembuskan napas.

“Wah, meyakinkan sekali.”

“Dalam ingatanku, garam selalu ada di dekat pintunya.”

Bima masuk ke dapur dan kembali membawa bungkusan kecil.

“Kalau buat masak, masih kepakai.”

Sebelum Sekar turun dari serambi, Wisanggeni memanggilnya.

“Sekar.”

Ia menoleh.

“Kalau Karto tidak mengenal namanya sendiri, jangan paksa dia mengingat.”

“Kenapa?”

Wisanggeni memandangi halaman buku yang masih terbuka.

“Karena aku tidak tahu apa yang mengambil ingatan itu.”

Sekar mengangguk.

Ia dan Bima meninggalkan rumah menjelang siang.

Jalan menuju sawah timur tidak banyak dilalui warga. Tanahnya sempit dan dipenuhi rumput tinggi. Di satu sisi terbentang sawah yang mulai mengering, sedangkan sisi lainnya dibatasi aliran air berwarna keruh.

Bima berjalan di depan sambil membawa tongkat.

“Kau yakin tahu jalannya?” tanya Sekar.

“Tidak.”

“Lalu kenapa berjalan paling depan?”

“Kalau ada lubang, saya akan jatuh lebih dulu.”

“Itu bentuk pengorbanan yang aneh.”

“Saya menganggapnya pembagian tugas.”

Setelah hampir setengah jam, mereka menemukan pohon sawo yang tumbuh miring di ujung pematang.

Di belakangnya berdiri rumah kecil beratap rendah. Sebagian anyaman bambunya telah menghitam. Halamannya dipenuhi daun kering, tetapi tidak tampak terbengkalai. Sebuah kain putih dijemur pada tali, dan asap tipis keluar dari dapur.

Bima berhenti di depan pagar bambu.

“Rumahnya masih ada.”

“Pengamatan yang tajam.”

“Saya senang bisa membantu.”

Sekar mengeluarkan garam.

Ia menaburkannya tipis pada ambang pagar.

Tidak terjadi apa-apa.

Bima memperhatikan butiran yang jatuh.

“Mungkin memang buat masak.”

Sekar menyimpan sisanya.

Mereka memasuki halaman.

Belum sempat mengetuk, suara lelaki tua terdengar dari dalam.

“Jangan berdiri di sebelah kiri pintu.”

Sekar dan Bima saling pandang.

Bima bergeser ke kanan.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kayunya lapuk.”

Sesaat kemudian, bagian atas kusen sebelah kiri jatuh dan menghantam tanah.

Bima menoleh pada Sekar.

“Untung Mbah bilang.”

Pintu terbuka.

Seorang lelaki tua berdiri di baliknya. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, dan rambut putihnya tumbuh tipis di atas kepala. Pada ibu jari kanannya terdapat noda tinta hitam yang tidak hilang meski kulit di sekitarnya keriput.

Wisanggeni ternyata tidak salah mengingatnya.

“Mbah Karto?” tanya Sekar.

Lelaki tua itu memicingkan mata.

“Siapa yang mencari?”

“Nama saya Sekar.”

Wajah Karto tidak berubah.

Begitu tahu buku yang dibawa Sekar, jari-jarinya menegang pada gagang pintu.

Lihat selengkapnya