Perempuan di kaki ranjang tidak bergerak.
Kebaya putihnya menempel pada tubuh seperti baru keluar dari hujan. Lumpur mengotori ujung kain dan telapak kakinya. Melati yang tergantung dari sanggul telah menguning, sebagian jatuh di lantai kamar Sekar.
Tidak ada suara bunga menyentuh kayu.
Tidak ada bunyi napas.
Hanya wajah pucat itu dan dua mata yang tampak lelah, seperti terlalu lama menunggu seseorang mengingatnya.
“Namaku Larasati,” katanya lagi.
Sekar duduk perlahan.
Tangannya mencari buku Retno di samping bantal.
Buku itu masih ada, tetapi sampulnya terasa lembap.
“Aku melihatmu di potret.”
Larasati diam sesaat.
“Potret apa?”
“Foto pernikahan. Wajahmu hilang.”
Perempuan itu tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendengar bukti bahwa dirinya pernah ada.
“Wajah lebih mudah hilang setelah nama.”
Sekar menggenggam buku.
“Siapa yang menghapusnya?”
Larasati menoleh ke pintu kamar.
Di balik pintu, rumah sunyi. Tidak ada langkah Bima, tidak ada suara Wisanggeni bergerak di serambi.
Bayangan hitam tampak merembes melalui celah bawah pintu.
Larasati mundur satu langkah.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
“Ini mimpi?”
“Kalau kau anggap ini mimpi, mungkin kau jadi lebih berani mendengarnya.”
“Dan kalau bukan?”
“Jangan terlalu dekat.”
Sekar memperhatikan lumpur pada kaki Larasati.
Jejaknya tidak menempel di lantai. Perempuan itu berdiri seolah berada di tempat lain, sementara kamar Sekar terasa seperti celah menuju tempat itu.
“Kenapa kau datang kepadaku?”
“Karena kau menuliskan namaku.”
Sekar teringat catatan dari rumah Mbah Karto.
Ia menuliskan nama Larasati setelah perempuan itu memperkenalkan diri dalam mimpi.
Atau mungkin sebelum mimpi dimulai.
Sekar tidak yakin lagi.
“Aku baru tahu namamu malam ini.”
“Bagiku, malam ini sudah berlangsung sangat lama.”
Larasati mengangkat tangan.
Jarinya pucat, dan ujung kukunya dipenuhi tanah hitam.
“Jangan biarkan mereka menghapus namamu setelah mereka memakai tubuhmu.”
Sekar menahan napas.
Kata-kata itu sama dengan ketakutan yang terus tumbuh sejak melihat dinding penuh nama.
“Memakai tubuhku untuk apa?”
Larasati memandangnya dengan iba.
“Aku juga pernah bertanya begitu.”
“Dan tidak mendapat jawaban?”
“Aku mendapat terlalu banyak jawaban. Semuanya berbeda.”
Ucapan itu mengingatkan Sekar pada Wisanggeni. Nyai Sumirah berkata pengantin menyempurnakan ikatan. Marto menyebutnya pembayaran utang. Orang-orang keluarga Wisanggeni menyebut pengantin sebagai penenang hutan.
Tidak ada satu cerita yang sama.
“Yang mana yang benar?” tanya Sekar.
“Tidak satu pun jawaban yang mereka berikan kepadaku sepenuhnya benar.”
“Lalu apa yang terjadi kepadamu?”
Larasati memandangi kedua tangannya.
“Aku dibawa dalam keadaan hidup.”
“Ke mana?”
“Tempat di antara akar dan batu.”
“Altar?”
Wajah Larasati berubah.
Sekar menangkap ketakutan itu.
“Lelaki yang muncul di halaman rumah mengatakan nama Retno pernah ditulis di altar.”
“Jangan langsung percaya orang yang punya luka di wajah.”
“Kau mengenalnya?”
Larasati memejamkan mata.
Bayangan gelap di bawah pintu semakin lebar.
“Ada terlalu banyak wajah yang kukenal. Sekarang... namanya saja tak bisa kusebut.”
Sekar ingin mendesak, tetapi peringatan dalam suaranya jelas. Nama lain belum boleh keluar.
“Apakah kau dibunuh?”
Larasati membuka mata.
“Orang-orang mengatakan aku mati.”
“Mbah Karto tidak melihat jasadmu.”
“Tidak ada seorang pun diminta melihat.”
“Kuburmu?”
“Mereka membuat tempat agar orang percaya aku dikubur.”
“Jadi kau masih hidup setelah ritual?”
Larasati tersenyum pahit.
“Jangan terlalu cepat memilih kata hidup.”
Sekar merasakan udara kamar semakin dingin.
Dari dinding terdengar suara goresan.
Satu garis.
Dua garis.
Seperti tulisan sedang dibuat pada kayu dari sisi lain.
Larasati menoleh ke arah suara itu.
“Mereka mulai mendengar.”
“Siapa?”
“Mereka yang sekarang diuntungkan karena orang-orang lupa padaku.”
Sekar berdiri.
“Kau harus menjelaskan.”
“Tidak semua ingatan bisa kubawa keluar dari sini.”
“Kenapa?”
“Karena namaku sendiri belum kembali.”
Sekar mengernyit.
“Kalau aku menuliskan namamu lebih banyak?”
“Menulis saja tidak cukup.”
“Lalu?”
“Harus ada yang mengakui aku pernah hidup.”
“Aku mengakuinya.”
“Kau belum tahu apa yang harus kauakui.”
Jawaban itu membuat Sekar kesal.
Bahkan arwah berbicara dengan cara yang sama seperti orang-orang di rumah ini—memberi petunjuk tanpa pernah menyelesaikan kalimat.
“Kenapa semua orang selalu menyuruhku mencari sendiri?”
Larasati diam cukup lama.