Wisanggeni tidak segera menjawab ketika Sekar menyebut Punden Watu Tirto.
Lelaki itu masih berjongkok di dekat jejak lumpur yang tertinggal setelah mimpi Sekar. Cahaya pagi menyentuh sisi wajahnya, memperlihatkan wajah lelah dan retakan tipis yang belum sepenuhnya hilang dari leher.
Sekar menutup buku Retno.
Wisanggeni bangkit perlahan. Gerakannya masih kaku akibat luka malam purnama.
“Aku pernah mendengar nama itu.”
“Dari siapa?”
“Aku tidak ingat.”
Sekar diam.
Wisanggeni segera menambahkan, “Bukan karena aku tidak mau menjawab.”
“Di rumah ini semua orang bilang begitu.”
“Aku tahu.”
Ia mengambil kain dari atas kursi, lalu mengusap lumpur yang menempel di lantai. Begitu kain menyentuh jejak kaki Sekar, warna hitamnya menyebar seperti tinta.
Langkah Wisanggeni terhenti.
“Jangan sentuh dengan tangan.”
“Kenapa?”
“Baunya sama dengan tanah yang menempel di pintu bangunan batu setelah aku berubah.”
Sekar memperhatikan jejak itu.
Aroma akar basah dan melati busuk masih terasa, meski semakin tipis.
“Larasati mengatakan nama tempatnya ada di buku Ibu,” katanya. “Dicoret agar orang mengira jalan itu sudah hilang.”
“Kalau Retno yang mencoretnya, mungkin dia tidak ingin kau pergi ke sana.”
“Atau ingin melindungi petunjuk dari orang lain.”
“Bisa saja.”
Sekar membuka buku lagi.
“Berarti kita cari bekasnya.”
Wisanggeni menunggu beberapa saat sebelum menjawab.
“Kita?”
“Kau baru saja mengatakan pernah mendengar nama itu.”
“Itu tidak berarti tubuhku cukup kuat untuk pergi ke hutan.”
“Aku belum mengajakmu pergi.”
“Belum.”
Sekar tidak membantah.
Bima muncul di ambang kamar sambil membawa sapu dan baskom kosong. Pandangannya berpindah dari lumpur, buku Retno, lalu Wisanggeni.
“Pagi-pagi begini sudah begini lagi.”
“Ambil minyak,” kata Sekar.
“Minyak apa?”
“Minyak kelapa.”
Bima meletakkan sapu.
“Untuk memasak atau mengusir sesuatu?”
“Untuk membaca.”
Bima memandang Wisanggeni.
“Saya tidak tahu minyak sekarang sudah bisa membaca.”
Wisanggeni menekan pelipis.
“Ambilkan saja.”
Bima berjalan pergi sambil bergumam, “Makin hari kerjaan saya makin jauh dari jaga rumah.”
Sekar membawa buku Retno ke ruang depan. Ia memilih meja dekat jendela agar memperoleh cahaya lebih banyak. Wisanggeni mengikutinya, tetapi tidak duduk terlalu dekat.
Sekar membuka setiap halaman secara perlahan.
Beberapa lembar berisi catatan pendek Retno tentang nama, tanah, dan orang-orang yang harus diingat. Lebih banyak halaman tampak kosong atau rusak oleh lembap. Sekar memiringkan buku ke arah cahaya, mencari bagian yang “tidak mau dibaca cahaya” seperti ucapan Larasati.
Di halaman keempat belas, ia menemukan bercak arang.
Bercak itu memenuhi hampir separuh halaman. Terlihat seperti tinta yang sengaja digosokkan untuk menutupi tulisan di bawahnya.
Sekar menyentuhnya dengan ujung jari.
Arang itu tidak menempel.
Permukaannya keras dan memiliki garis-garis retak.
Wisanggeni bergerak mendekat.
“Jangan.”
“Aku hanya menyentuh bagian tepi.”
“Lihat bentuknya.”
Sekar mengangkat halaman.
Di bawah cahaya, guratan arang itu tampak seperti kulit hangus yang pecah dari dalam. Di sela retakan itu ada warna merah tua, tipis sekali.
Sekar melirik tangan Wisanggeni.
Retakan serupa masih terlihat di sela jarinya.
“Ini sama seperti tubuhmu.”
Wisanggeni tidak membantah.
Ia mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh halaman.
“Boleh?”
Sekar mengangguk kecil.
Wisanggeni menempelkan ujung telunjuk pada bagian paling gelap.
Guratan hitam di halaman itu bergetar.
Retakan di jarinya ikut menghitam.
Ia segera menarik tangan.
“Ada apa?”
“Panas.”
“Halaman ini?”
“Bukan. Sesuatu di bawah kulitku.”
Bima kembali membawa botol minyak dan sepotong singkong rebus.
Sekar memandang makanan itu.
“Aku tidak meminta singkong.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
“Saya kira penyelidikan akan membuat kalian lupa sarapan.”
Ia meletakkan minyak dan singkong di meja.
Wisanggeni mengambil singkong.
Bima memandangnya.
“Kang Wisnu, itu punya Sekar.”
“Aku tidak sakit.”
Sekar mengambil singkong dari tangan Wisanggeni sebelum pertengkaran kecil itu berkembang.