Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #23

BAB 22 Jalan Pintas Aji

Aji menelan ludah setelah mengatakan perempuan dari hutan menyuruhnya membawa Sekar.

Wisanggeni berdiri di serambi dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Garis hitam di lehernya tampak lebih jelas ketika rahangnya mengeras.

“Perempuan seperti apa?” tanyanya.

Aji mengangkat bahu. Matanya tetap tertuju pada buku Retno.

“Aku tidak melihat wajahnya.”

“Kau mendengar suaranya dari mana?”

“Dekat pematang kering.”

“Jam berapa?”

“Kadang sore. Kadang malam.”

“Dan kau tetap datang ke sana?”

Aji menggaruk kepala. “Kayu tidak berjalan sendiri ke rumah.”

Bima menunjuk ikatan kayu yang baru diturunkan anak itu.

“Menurutmu tanah bisa keluar sendiri, tapi kayu tidak?”

“Tanahnya berbeda.”

“Jawabanmu semakin buruk.”

Sekar menutup buku Retno.

“Suara itu menyebut namaku lengkap?”

Aji menggeleng. “Hanya Pengantin Sekar.”

Wisanggeni turun satu langkah dari serambi.

Gerakannya pelan, tetapi Aji langsung mundur.

“Kalau suara itu muncul lagi, jangan dijawab,” kata Wisanggeni. “Jangan ikuti. Jangan datang ke hutan sendirian.”

“Aku tidak sendirian.”

“Dengan siapa?”

Aji melirik ikatan kayunya.

“Dengan kayu.”

Bima memejamkan mata sejenak.

Sekar menahan senyum yang hampir muncul.

Wisanggeni tidak tertarik pada jawaban itu.

“Pulanglah. Jangan kembali ke jalan itu.”

Aji mengangguk cepat.

Sekar memperhatikan wajahnya. Anak itu menurut terlalu mudah. Tatapannya masih berkali-kali berpindah menuju halaman buku Retno, tepat pada nama Punden Watu Tirto.

“Aji,” katanya.

Anak itu berhenti saat hendak mengangkat kayu.

“Jalan yang kaulewati tadi menuju tempat itu?”

Wisanggeni menoleh kepada Sekar.

Aji tidak menjawab.

“Pulang,” kata Wisanggeni.

Sekar menatapnya. “Aku sedang bertanya.”

“Dia sudah cukup jauh terlibat.”

“Aku cuma mau tahu, petunjuk Ibu cocok atau tidak dengan jalannya.”

“Kau tidak perlu mencocokkan apa pun hari ini.”

“Jadi memang ada jalan ke Punden Watu Tirto.”

Wisanggeni terdiam.

Sekar langsung menangkapnya.

“Terima kasih.”

“Aku tidak membenarkan apa pun.”

“Kau diam saja sudah menjawab.”

Bima mengangkat satu batang kayu Aji yang tertinggal.

“Kalau kalian selesai bertengkar, ada kayu yang mencoba melarikan diri.”

Wisanggeni meliriknya.

Bima memasukkan kayu itu ke tumpukan dekat dapur.

“Saya hanya menyampaikan keadaan.”

Sekar membawa buku Retno kembali ke kamar.

Ia menutup pintu, tetapi tidak menguncinya. Sejak malam purnama, berada di balik pintu tertutup tidak lagi terasa aman. Suara dapat menunggu di lorong. Mimpi dapat membawa lumpur masuk tanpa membuka jendela.

Di atas meja, ia membentangkan salinan petunjuk.

Masuk dari pematang yang tidak lagi dialiri air.

Cari beringin yang akarnya membelah batu.

Jangan mengikuti suara…

Kalimat terakhir belum lengkap.

Aji datang dari arah timur dengan sepatu berlumpur. Ia mengaku mendengar Larasati dari dekat pematang kering. Petunjuk Retno cocok dengan yang diceritakannya.

Sekar tahu seharusnya ia menunggu Wisanggeni pulih.

Larasati juga memberi batas waktu sebelum purnama berikutnya. Setiap hari yang lewat memberi kesempatan kepada Nyai Sumirah, Marto, atau siapa pun yang menjaga rahasia desa untuk memindahkan bukti.

Lebih buruk lagi, nama Sekar sempat memudar begitu tulisan tentang tempat itu dibuka.

Punden Watu Tirto sudah bereaksi.

Menunggu tidak selalu berarti berhati-hati.

Kadang hanya memberi lawan waktu lebih banyak.

Sekar memasukkan salinan petunjuk, arang, kain, sebotol air, dan sedikit garam ke dalam tas. Buku Retno tetap disimpan di peti kamar. Ia tidak mau membawa satu-satunya bukti ke dalam hutan.

Sebelum keluar, ia menulis satu catatan pendek.

Aku memeriksa pematang timur. Aku akan kembali sebelum gelap. Jangan menyusul tanpa membawa Bima.

— Sekar

Ia menatap tulisan itu.

Pergi diam-diam sambil meninggalkan catatan tetap terasa seperti kebohongan yang kurang rapi.

Setidaknya ia tidak pergi tanpa jejak.

Sekar melipat catatan dan menyelipkannya di bawah mangkuk pada meja, tempat Bima biasanya menaruh makanan.

Dari serambi terdengar suara Wisanggeni batuk.

Sekar menunggu.

Bima sedang memperbaiki engsel pintu bangunan batu di halaman belakang. Wisanggeni berbaring di ruang depan setelah tubuhnya kembali demam ringan.

Kesempatan itu mungkin tidak datang lagi.

Sekar keluar melalui pintu dapur.

Ia melewati kebun belakang, menyeberangi rumpun pisang, lalu mengambil jalan sempit menuju pematang timur.

Matahari belum mencapai puncaknya. Kalau jalannya tidak terlalu jauh, ia masih dapat kembali sebelum sore.

Aji menunggu di bawah pohon randu.

Anak itu membawa tongkat, sebilah pisau kecil, dan bungkusan nasi yang diikat pada pinggang.

“Kau tahu aku akan datang?” tanya Sekar.

Aji mengangkat bahu. “Kakang Wisnu bilang jangan. Biasanya orang dewasa lebih ingin pergi setelah dilarang.”

“Jangan belajar dari orang dewasa yang begitu.”

“Termasuk Mbak Sekar?”

“Terutama aku.”

Aji tersenyum kecil.

Sekar menunjuk bungkusan di pinggangnya. “Kenapa membawa nasi?”

“Kalau tersesat, kita tetap bisa makan.”

“Bagaimana kalau tidak tersesat?”

“Ya tetap bisa makan.”

Sekar akhirnya mengakui bahwa rencana Aji sulit dibantah.

Mereka berjalan mengikuti saluran air lama.

Tanah di kanan-kiri retak karena sudah lama tidak dialiri. Rumput liar tumbuh di dasar parit. Setelah melewati dua petak sawah, Aji turun dari pematang dan masuk ke saluran kering.

“Jalannya di sini.”

Sekar melihat dinding tanah setinggi pinggang.

“Ini bukan jalan.”

“Karena orang dewasa selalu mencari jalan yang terlihat seperti jalan.”

“Dan anak-anak?”

Lihat selengkapnya