Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #24

BAB 23 Altar Ki Ageng Tirto

Sekar berhenti di depan akar beringin.

Bisikan itu keluar dari bawah akar.

Sekar menarik Aji mundur.

Anak itu nyaris kehilangan keseimbangan karena tangannya masih menempel pada permukaan batu. Begitu sentuhannya terlepas, cap dua garis yang saling melingkar kembali tertutup lumut.

“Siapa itu?” tanya Aji.

Sekar memeriksa celah gelap di antara akar.

Tidak ada orang.

Tanah di sana terlalu sempit untuk menyembunyikan tubuh manusia. Hanya akar tua, batu basah, dan genangan air yang tidak memantulkan langit.

“Kau mendengarnya juga?”

Aji mengangguk.

“Suara perempuan.”

“Larasati?”

“Bukan.”

Sekar langsung menoleh.

“Bagaimana kau tahu?”

Aji menelan ludah. “Larasati suaranya sedih. Yang ini kayak nunggu makanan.”

Dari bawah akar terdengar tawa pelan.

Sekar meraih garam dari tas dan menaburkannya membentuk garis di depan kaki mereka.

Butiran putih itu menyentuh tanah, menghitam, lalu mengeluarkan asap tipis.

Tawa berhenti.

Aji memperhatikan garis garam.

“Kayaknya dia tidak suka makanan asin.”

“Ini bukan waktu membicarakan makanan.”

“Aku membawa nasi.”

Sekar diam sejenak.

Aji menyentuh bungkusan di pinggang. “Cuma memberi tahu.”

Sekar kembali ke batu altar.

Permukaannya hampir seluruhnya tertutup lumut. Akar beringin melilit bagian bawah dan sisi kiri, membuatnya tampak seperti batu biasa yang terjebak di tengah pohon. Bentuknya terlalu rata untuk terbentuk secara alami.

Di bagian depan terdapat cekungan bundar seperti tempat meletakkan mangkuk.

Sekar berjongkok, tetap berada di belakang garis garam.

“Jangan menyentuh apa pun lagi.”

Aji memeriksa tangannya sendiri. “Tadi batunya yang menyentuh balik.”

“Itu malah lebih buruk.”

“Aku cuma menjelaskan.”

Sekar mengeluarkan kain, arang, serta pisau kecil pemberian Bima. Ia menggunakan bagian tumpul pisau untuk mengikis lumut dari sudut batu.

Lapisan hijau itu lepas sedikit demi sedikit.

Di bawahnya muncul guratan.

Bukan cap.

Tulisan.

Sekar membersihkan bagian yang lebih lebar.

Huruf-huruf tua tampak terpahat pada permukaan, sebagian tertutup akar atau aus dimakan waktu. Beberapa bagian memiliki goresan berbeda—lebih dangkal, lebih kasar, seolah dibuat menggunakan alat lain.

Aji ikut berjongkok.

“Ada dua tulisan.”

Gerakan Sekar berhenti.

“Kau melihatnya?”

“Yang bawah lebih besar. Yang atas kayak diselipin.”

Sekar memiringkan kepala.

Baginya, sebagian besar pahatan masih terlihat seperti garis kusut. Setelah Aji menunjuk, perbedaannya mulai tampak. Tulisan paling tua dipahat dalam, tiap huruf memiliki jarak teratur. Lapisan berikutnya ditorehkan di sela pahatan lama, memotong beberapa kata lama.

“Bacakan yang kaukenali,” kata Sekar.

Aji mendekatkan wajah.

“Yang atas atau bawah?”

“Yang lama lebih dulu.”

Anak itu mengusap debu dari permukaan tanpa menyentuh pahatan.

“Ada kata... tanah.”

“Di mana?”

Aji menunjuk guratan dekat sudut kanan.

Sekar menyalin bentuk huruf pada kertas.

“Setelah tanah?”

Aji menyipitkan mata.

“Dikembalikan.”

Sekar menahan napas.

Ia membersihkan bagian itu dengan kain kering. Kini ujung beberapa huruf mulai tampak.

...tanah... dikembalikan...

Kalimatnya tidak utuh.

Akar besar menutupi bagian tengah.

Sekar tidak berani memotongnya. Jika akar itu menahan batu atau justru menjadi bagian dari segel, merusaknya dapat membangunkan sesuatu yang lebih buruk daripada suara.

“Bagian lain?” tanyanya.

Aji bergeser ke kiri.

“Nama.”

“Nama siapa?”

“Tidak ada nama orang. Cuma kata nama.”

Ia menunjuk pahatan dekat cekungan bundar.

Sekar membersihkannya.

Tulisan lama di sana lebih aus, masih menyisakan beberapa kata:

...nama diakui... di hadapan...

Kata terakhir hilang di bawah noda hitam.

Sekar menyalinnya.

Tanah dikembalikan.

Nama diakui.

Tanah dan nama.

Dua hal itu juga muncul berulang dalam buku Retno.

Kutukan ini tidak hanya berkaitan dengan tubuh pengantin.

Sejak awal, tanah dan nama sudah berada di pusatnya.

“Sekarang tulisan baru,” kata Sekar.

Lihat selengkapnya