Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #25

BAB 24 Peringatan dari Akar Beringin

Tulisan pada altar masih menyala merah.

Kalimat itu bertentangan dengan seluruh cerita desa.

Sekar membacanya untuk kedua kalinya, memastikan dirinya tidak salah melihat. Huruf-huruf tua itu dipahat jauh lebih dalam. Tulisan tentang darah pengantin dibuat belakangan. Artinya jelas: seseorang mengubah aturan setelah sumpah pertama dibuat.

Namun siapa?

Dan untuk keuntungan siapa?

Aji menarik ujung kain Sekar.

“Kita harus pergi.”

Sekar menoleh. “Tunggu.”

“Akarnya bergerak lagi.”

Akar beringin yang tadi diam mulai bergesekan dengan tanah. Gerakannya pelan, tetapi terlalu teratur untuk disebut tertiup angin. Beberapa akar kecil merayap mengelilingi altar, menutup jalan yang mereka gunakan saat masuk.

Sekar segera menyalin baris yang terbuka pada kertas.

Tangannya gemetar akibat luka di telapak, tetapi ia memaksa tulisan tetap terbaca. Ia menuliskan lokasi, bentuk pahatan, dan urutan kedua lapisan tulisan.

Aji memandang ke belakang.

“Mbak Sekar.”

“Sedikit lagi.”

“Ada orang.”

Sekar berhenti menulis.

Di antara akar yang menggantung, berdiri seorang perempuan.

Ia tidak muncul dari arah jalan. Sekar tidak mendengar langkah atau daun terinjak. Seolah perempuan itu sudah berada di sana sejak tadi dan baru sekarang bisa mereka lihat setelah darah menyentuh altar.

Tubuhnya tinggi dan kurus. Ia mengenakan kain hijau gelap yang warnanya hampir menyatu dengan lumut. Rambutnya terurai sampai pinggang, dihiasi bunga-bunga kecil berwarna putih.

Bunga-bunga itu tampak segar.

Beberapa ujung kelopaknya ternoda merah.

Aji bergerak mendekati Sekar.

“Itu perempuan yang memanggilku?”

Perempuan itu tersenyum.

“Bukan. Suaranya lain.”

Sekar berdiri dan menyelipkan catatan ke dalam tas.

“Siapa kau?”

“Dulu orang memanggilku Nyi Kembang.”

“Dahulu?”

“Nama bisa berubah kalau terlalu lama ditinggalkan.”

Sekar memperhatikan wajahnya. Perempuan itu tidak tampak seperti Larasati. Tidak juga menyerupai sosok gelap yang muncul di halaman rumah.

Kehadirannya membuat altar bergetar.

Aji berbisik, “Kita pulang saja.”

Nyi Kembang mengalihkan wajah kepadanya.

“Anak Surti.”

Wajah Aji langsung pucat.

“Kau mengenal ibuku?”

“Aku mengenal suara yang ditinggalkannya.”

Aji memegang tongkat dengan kedua tangan. “Ibuku sudah meninggal.”

“Ya.”

“Jangan memakai suaranya.”

Nyi Kembang tersenyum tipis. “Kau lebih cepat belajar daripada orang dewasa.”

Sekar berdiri sedikit di depan Aji.

“Apa hubunganmu dengan altar ini?”

Nyi Kembang mengalihkan perhatian ke batu tua itu.

“Aku cuma menjaga apa yang masih diingat akar.”

“Apakah kau membuat sumpahnya?”

“Tidak.”

“Ki Ageng Tirto?”

“Nama itu masih boleh diucapkan.”

“Siapa dia?”

Nyi Kembang memiringkan kepala.

“Kau sudah sampai sejauh ini. Jangan buru-buru sampai ke akhir.”

Sekar menahan kesal.

“Semua orang menjawab seperti itu.”

“Karena kau selalu ingin langsung sampai ke akhir.”

“Aku hanya ingin tahu kenapa darah pengantin ditambahkan ke sumpah.”

Senyum Nyi Kembang hilang.

Akar di sekitar altar berhenti bergerak.

“Jangan ucapkan kalimat itu terlalu keras.”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak suka kesalahannya disebut tambahan.”

Sekar menunjuk ukiran baru yang melintang di atas tulisan lama.

“Jadi memang ada pemalsuan.”

“Aku tidak berkata begitu.”

“Tapi kau juga tidak menyangkal.”

Nyi Kembang memandangnya dengan tatapan yang hampir menyerupai iba.

“Kau anak Retno.”

Sekar menegang.

“Kau mengenalnya?”

“Retno datang membawa pertanyaan yang sama.”

“Kapan?”

“Ketika darahnya belum diburu.”

“Apa maksudmu?”

Nyi Kembang melirik tanda di pergelangan Sekar.

“Dia menemukan kalau perjanjian itu punya dua suara. Satu suara ditulis untuk menutup sengketa. Satu lagi ditambahkan agar sengketa bisa dipakai selamanya.”

Sekar menahan napas.

“Siapa yang menambah suara kedua?”

Bunga di rambut Nyi Kembang mendadak layu.

Perempuan itu menoleh ke belakang.

Di antara pepohonan, kabut hitam bergerak.

Bukan mendekat.

Hanya lewat sebentar di sela batang pohon. Bentuknya menyerupai lelaki tinggi dengan luka pada wajah.

Nyi Kembang mundur satu langkah.

Sekar menangkap perubahan pada wajahnya.

“Kau takut kepadanya?”

“Aku takut pada orang yang memakai nama orang lain semaunya.”

“Siapa dia?”

Nyi Kembang tidak menjawab.

Sosok di dalam kabut berhenti.

Meski jaraknya jauh, Sekar merasa wajahnya menoleh ke arah mereka.

Aji meraih tangan Sekar.

“Mbak.”

Sekar tidak mengalihkan wajah.

“Apakah dia lelaki yang datang ke rumah Wisanggeni?”

Lihat selengkapnya