Pengantin Sengkolo

A.A.Pusung
Chapter #26

BAB 25 Marah karena Kutukan

Pertanyaan itu keluar lebih keras daripada yang Wisanggeni inginkan.

Mangkuk air di atas meja bergetar. Permukaannya membentuk lingkaran-lingkaran kecil, meski tidak ada angin di ruang depan.

Sekar berdiri beberapa langkah darinya dengan tas masih tergantung di bahu. Ujung kebayanya kotor oleh lumpur. Telapak tangannya dibalut kain tipis yang sudah ditembus bercak darah.

Di belakangnya, Aji menempel pada dinding dekat Bima.

Anak itu terlihat lelah, kelaparan, dan terlalu takut untuk banyak bicara.

Wisanggeni berusaha tetap fokus pada Sekar.

Perempuan itu tidak menunduk.

Tidak meminta maaf.

Tatapannya bahkan menjadi lebih keras setelah mendengar pertanyaan tadi.

“Tidak ada yang menyuruhku membangunkan perjanjian,” jawab Sekar. “Aku pergi mencari bukti.”

“Kau meneteskan darah pada altar.”

“Aku tidak sengaja.”

“Perjanjian tidak peduli pada kesengajaan.”

“Aku sudah mendengar kalimat itu dari Nyi Kembang.”

Nama itu membuat retakan di dada Wisanggeni berdenyut.

Rasa panas menjalar dari tulang selangka menuju jantung. Ia menekan kain pada dadanya, berharap gerakannya tidak terlalu jelas.

Sekar melihatnya.

Tentu saja melihat.

“Kau mengenal Nyi Kembang,” katanya.

“Aku mengenal namanya.”

“Bedanya?”

“Aku tidak mengingat kapan bertemu dengannya.”

Sekar mengembuskan napas tajam.

“Jawaban itu lagi.”

Wisanggeni ingin membalas, tetapi rasa sakit menusuk lebih kuat. Ia mencengkeram tepi meja agar tidak goyah.

Bima bergerak satu langkah.

“Kang Wisnu.”

“Aku masih berdiri.”

“Mejanya tidak terlihat setuju.”

Kayu di bawah tangan Wisanggeni mengeluarkan bunyi retak.

Ia segera melepaskan pegangan.

Bima memperhatikan garis pecah pada meja. “Sekarang meja benar-benar tidak setuju.”

Aji mengangkat tangan perlahan. “Aku bisa pulang?”

Semua orang menoleh kepadanya.

Anak itu menurunkan tangan.

“Aku hanya bertanya.”

Wisanggeni melihat lumpur pada kaki Aji. Anak itu sudah masuk ke wilayah yang bahkan orang dewasa di desa berusaha menghindari. Sekar bukan satu-satunya yang keliru. Wisanggeni seharusnya sadar Aji akan kembali menunjukkan jalan setelah mengatakan bahwa ia mendengar suara.

“Apa yang kaulihat di sana?” tanyanya.

Aji melirik Sekar sebelum menjawab. “Beringin. Batu. Nyi Kembang. Nasi yang rusak.”

“Nasi bukan yang penting,” kata Sekar.

“Bagiku penting.”

Bima mengangguk kecil. “Ya, nasi juga penting.”

Wisanggeni menahan kesal.

“Bima, antarkan Aji pulang.”

“Aku bisa sendiri,” kata Aji.

“Tidak.”

“Jalannya masih terang.”

“Kau baru keluar dari hutan yang memakai suara ibumu.”

Aji terdiam.

Bima mengambil golok dan sepotong singkong dari meja.

Ia menyerahkan singkong kepada Aji. “Jangan sampai berubah jadi arang.”

Aji menerimanya dengan kedua tangan.

Sebelum pergi, anak itu menoleh kepada Sekar.

“Catatan dari altar jangan disimpan di satu tempat.”

“Aku tahu.”

“Cuma ngingetin.”

Bima membuka pintu.

Wisanggeni melihat ke luar lebih dahulu, memastikan halaman kosong. Tidak ada kabut hitam atau sosok berwajah retak di antara pepohonan.

“Setelah mengantar Aji, cari Wulan,” katanya kepada Bima. “Minta dia menyimpan satu salinan.”

Bima menatap Sekar.

“Sudah mulai bekerja sama?”

“Pergi.”

“Baik.”

Bima dan Aji keluar.

Wisanggeni menutup pintu, lalu memasang palang kembali.

Kini hanya dirinya dan Sekar berada di ruang depan.

Keheningan yang tertinggal lebih berat daripada saat orang lain masih ada.

Sekar meletakkan tas di atas meja yang retak.

“Aku menemukan tulisan pertama pada altar.”

Wisanggeni tidak menjawab.

Sekar mengeluarkan dua lembar salinan arang. Ia membentangkannya perlahan agar kertas tidak robek.

“Lapisan lama menyebut tanah harus dikembalikan dan nama harus diakui. Lapisan baru menambahkan darah pengantin.”

Wisanggeni memperhatikan goresan huruf pada kertas.

Sebagian tidak bisa ia baca.

Satu baris terlihat jelas.

Darah pengantin bukan bagian dari sumpah pertama.

Dadanya kembali berdenyut.

Seketika ia teringat suara dari masa kecil. Seorang perempuan menangis. Tangan yang menutup luka di dadanya. Bau daun terbakar dan susu basi.

Lalu kosong.

Wisanggeni memalingkan muka.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa perjanjian punya dua lapisan?” tanya Sekar.

“Karena aku tidak tahu.”

“Retakan di tubuhmu bereaksi pada altar. Kau pernah mendengar Punden Watu Tirto. Kau mengenal nama Nyi Kembang. Tapi kau terus mengatakan tidak tahu.”

“Kau mau dengar apa?”

“Kebenaran.”

“Aku tidak punya semuanya.”

“Yang aku tahu saja.”

Wisanggeni terdiam.

Sekar tampak lelah. Ada daun kecil tersangkut pada rambutnya. Lumpur mengering di ujung kain. Luka di telapak tangannya pasti masih perih.

Meski begitu, perempuan itu tetap berdiri seolah belum merasa lelah.

Kemarahan Wisanggeni tidak berkurang. Sekarang ia tahu siapa yang ingin ia salahkan.

Ia takut altar telah mengenali darah Sekar. Takut nama Sekar muncul di dinding ruang terkunci. Yang paling ia takuti, suatu malam ia akan bangun dan tidak lagi mengingat mengapa perempuan itu harus dilindungi.

Lebih buruk lagi, ia takut kutukan itu akan memakai dirinya untuk mencapai Sekar.

“Kutukan ini bukan milikmu,” katanya.

Sekar menunggu.

“Tidak pernah.”

“Desa menikahkanku kepadamu karena mereka menganggap tubuhku bagian dari pembayaran.”

“Itu kebohongan.”

“Kau tahu sejak awal?”

“Aku tahu kutukan itu ada di darah keluargaku.”

“Tapi kau tetap menerima pernikahan itu.”

Pertanyaan itu membuat Wisanggeni diam.

Ia mengatupkan rahang.

“Aku tidak memilihmu.”

“Dan kau datang ke rumahku.”

“Karena jika aku menolak datang, mereka akan mencari cara lain.”

“Cara apa?”

Wisanggeni tidak menjawab segera.

Ia teringat orang-orang tua yang berbicara di balik pintu. Jika pengantin gagal dibawa, darah terdekat akan dipakai sebagai penanggung tambahan. Tidak ada penjelasan bagaimana. Hanya ancaman yang selalu berhasil membuat keluarga diam.

“Tanda pada Slamet sudah mulai muncul,” katanya akhirnya. “Kau melihat tandanya.”

Bahu Sekar menegang.

“Jadi ancaman terhadapnya benar?”

Lihat selengkapnya