Nama itu masih basah di dinding.
Nama itu milik ibu Wisanggeni.
Di atasnya, kalimat Orang yang memperpanjang utang tampak lebih gelap daripada nama-nama lain. Tinta hitam merembes ke dalam guratan kayu.
Sekar berdiri di samping Wisanggeni tanpa menyentuh pintu.
Celahnya hanya selebar satu jari, tetapi udara dingin dari ruangan terlarang telah memenuhi lorong. Bau minyak telon, daun sirih, dan asap dapur semakin kuat.
Bau itu mengingatkan Wisanggeni pada masa kecilnya.
“Dia ibumu?” tanya Sekar.
Wisanggeni tidak menjawab.
Tatapannya tetap pada tulisan.
Sekar tidak mendesak. Wajah lelaki itu sudah cukup menjawab. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya menggantung di sisi tubuh, tetapi jari-jarinya mengepal perlahan.
Dari dalam ruangan terdengar suara goresan baru.
Satu garis muncul di bawah nama Sundari.
Kemudian garis kedua.
Seolah seseorang hendak mencoretnya, tetapi berhenti sebelum selesai.
Wisanggeni menarik pintu hingga tertutup.
Begitu celah hilang, udara lorong kembali hangat. Gembok yang tadi terbuka masih tergeletak di lantai. Wisanggeni mengambilnya dan memasang rantai dengan gerakan kasar.
“Kita bicara di ruang depan,” katanya.
Sekar mengikuti.
Ia membawa lampu minyak dan buku Retno. Di belakang mereka, pintu terlarang kembali mengeluarkan bunyi kecil seperti seseorang mengetuk dari dalam.
Tidak ada yang menoleh.
Bima pulang tidak lama kemudian.
Lelaki itu masuk sambil membawa bakul kosong, satu ikat daun obat, dan wajah yang tampak semakin lelah setelah melihat keadaan ruang depan.
Wisanggeni duduk di dekat meja retak. Sekar telah membuka buku Retno. Beberapa lembar salinan altar terbentang di sampingnya.
Bima meletakkan barang bawaannya.
“Aji sudah sampai rumah.”
“Dia mengatakan sesuatu dalam perjalanan?” tanya Sekar.
“Dia menghabiskan singkong sebelum sampai di rumah ketiga.”
“Itu bukan maksudku.”
“Dia bilang hutan merusak nasi. Itu yang paling dia ingat.”
Bima menghadap Wisanggeni.
“Apa yang terjadi?”
“Ruang terkunci terbuka sendiri,” jawab Sekar.
Bima menutup mata sebentar.
“Gemboknya?”
“Sudah dipasang.”
“Rantainya?”
“Masih utuh.”
“Dindingnya?”
Sekar menunjuk buku di depannya.
“Menulis nama Sundari.”
Bima tidak bergerak.
Hanya sesaat, cukup bagi Sekar untuk tahu bahwa nama itu tidak asing baginya.
“Kau mengenalnya,” kata Sekar.
Bima mengambil daun obat dari bakul dan mulai memisahkan batangnya.
“Saya pernah mendengar namanya.”
“Dari siapa?”
“Orang-orang di rumah ini.”
“Rumah ini?”
Bima mengangguk.
Wisanggeni mengangkat wajah. “Kapan?”
“Waktu saya masih kecil.”
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
Bima menatapnya. “Kang Wisnu juga tidak pernah bertanya tentang ibumu.”
“Karena semua orang bilang dia sudah mati.”
Sekar menghadap Wisanggeni.
“Ada kuburnya?”
“Tidak.”
“Jasadnya?”
“Aku masih kecil ketika dia pergi.”
“Pergi atau meninggal?”
Wisanggeni mengatupkan rahang.
“Itulah cerita yang diberikan kepadaku. Dia sakit setelah ritual gagal. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi.”
Sekar menangkap satu hal dari ucapannya. Wisanggeni tidak pernah melihat jasad ibunya atau menghadiri pemakamannya. Ia hanya tahu ibunya pergi.
“Apa yang dikatakan keluargamu tentang ritual itu?”
Wisanggeni memandang salinan altar.
“Mereka mengatakan ibuku mencoba menghentikan kutukan dan membuat perjanjiannya tidak selesai.”
“Bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
Sekar teringat kesepakatan mereka. Kalau Wisanggeni tidak tahu, ia harus mengatakannya.
Bima meletakkan daun yang sudah dipisahkan.
“Versi yang saya dengar berbeda.”
Sekar dan Wisanggeni menoleh bersamaan.
Bima tampak tidak nyaman mendapat perhatian sebanyak itu.
“Apa versinya?” tanya Sekar.
“Bu Sundari tidak mencoba menghentikan perjanjian.”
“Lalu?”
“Dia mencoba menggantinya.”
Wisanggeni berdiri terlalu cepat.
Kursinya bergeser dan hampir jatuh.
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Perempuan tua yang dulu mengurus dapur.”
“Namanya?”
“Saya tidak ingat.”
Sekar mengambil arang.
“Tulis dulu semua yang kauingat tentang perempuan tua itu.”
Bima duduk di ujung tikar.
“Katanya, Bu Sundari masuk ke ruang ritual saat semua orang sudah berkumpul. Dia membawa sesuatu yang tidak boleh dibawa, lalu satu bagian sumpah tidak bisa dibaca.”